Oleh: Herman Kajang
Ada perpisahan yang cukup dengan lambaian tangan. Ada pula perpisahan yang –di mana hati enggan beranjak dari tempat yang kita tinggalkan. Hari ini, ketika kami meninggalkan Karbala, rasanya tubuh kami yang pergi, sementara hati masih tertahan di sana.
Setelah lima hari berada di kota yang tanahnya memeluk jasad suci Imam Husain dan para syuhada Karbala, akhirnya kami harus pergi. Barang-barang telah dimasukkan ke dalam bus. Kami naik satu per satu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Tidak ada kegembiraan seperti ketika pertama kali datang. Tidak ada pula percakapan yang riuh. Seolah masing-masing sedang menyimpan kesedihan sendiri. Bus perlahan bergerak meninggalkan kompleks haram Imam, lalu memasuki jalan yang mengarah keluar dari pusat kota. Di kejauhan, haram Imam Husain masih menjadi arah pandangan.
Kami semua tahu, beberapa menit lagi tempat itu akan semakin jauh. Tidak ada yang ingin melewatkan detik-detik terakhir. Sebagian dari kami menoleh ke luar jendela. Sebagian memegang tasbih. Sebagian menundukkan kepala. Ada yang mengusap wajahnya berkali-kali. Ada pula yang diam sambil memandang kubah emas yang perlahan bergerak menjauh dari pandangan.
Kami pun bersama-sama melantunkan munajat. Suara doa mengalun pelan di dalam bus. Tidak lagi terdengar seperti suara sebuah rombongan yang sedang melakukan perjalanan, melainkan seperti suara orang-orang yang sedang meminta izin untuk pergi dari sebuah tempat yang telah mereka cintai.
Semakin doa dilantunkan, semakin sunyi suasana di dalam bus. Sebagian memejamkan mata. Sebagian menundukkan kepala.Sebagian tetap memandang keluar jendela. Dan ketika nama Husain disebut dalam doa, beberapa suara mulai bergetar. Isak kecil terdengar dari kursi-kursi di belakang. Ada yang mencoba menahannya, tetapi air mata seperti tidak mau lagi diajak berkompromi.
Ya Husain, hari ini kami meninggalkan kotamu. Kami tidak tahu apakah Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk kembali. Karena itu, jika ini adalah kali terakhir mata kami melihat kubahmu, terimalah salam kami. Jika ini adalah kali terakhir kaki kami menginjak jalanmu, jadikan setiap langkah yang pernah kami tempuh di sini sebagai saksi bahwa kami pernah datang dengan cinta.
Kami pergi bukan karena cinta kami telah selesai. Kami pergi karena perjalanan harus diteruskan. Tetapi hati kami masih berat meninggalkanmu. Jangan biarkan jarak membuat kami lupa. Jangan biarkan kehidupan membuat kami lalai. Dan jangan biarkan dunia mengambil kembali hati yang pernah kami titipkan di tanahmu.
Doa itu terus mengalun sementara bus perlahan meninggalkan haram Imam Husain.
Di luar jendela, kubah emas masih terlihat. Kami semua menoleh.
Tidak ada yang mengajak. Tidak ada yang memerintah. Tetapi hampir seluruh kepala bergerak mengikuti arah yang sama. Kami ingin menyimpan pemandangan itu selama mungkin di dalam ingatan.
Kubah itu masih terlihat jelas. Bus terus bergerak. Ia mulai mengecil, semakin kecil. Kami masih memandang. Lalu bangunan-bangunan mulai menutupinya. Kubah itu muncul kembali. Kemudian semakin jauh. Dan ketika jaraknya semakin panjang, terdengar isak yang nyaris tumpah.
Tidak ada yang merasa perlu menyembunyikannya. Mungkin karena kami semua sedang merasakan kehilangan yang sama. Ada yang menyebut nama Husain dengan suara lirih. Ada yang mengucapkan salam. Ada yang hanya menangis dalam diam. Sebagian memandang ke luar jendela sampai mata tidak lagi mampu menangkap kubah yang perlahan hilang.
Kami terus memandang sampai pandangan benar-benar kehilangan jejaknya. Pada saat itulah saya merasakan bahwa ternyata yang sedang kami tinggalkan bukan sekadar sebuah kota. Kami sedang meninggalkan sebuah suasana batin.
Bus terus melaju. Tanpa kami sadari, kami memasuki jalan yang beberapa hari sebelumnya kami tempuh dengan berjalan kaki dalam long march menuju Karbala.
Jalan yang dahulu kami lalui dengan kaki yang lelah kini kami lewati dengan bus. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat jalan itu dari balik kaca.
Sebelumnya kami berjalan menuju Karbala. Hari ini kami berjalan menjauh darinya.
Sebelumnya setiap langkah terasa berat karena panas, jarak dan kelelahan. Hari ini kendaraan justru melaju terlalu cepat.
Kami ingin semuanya berjalan lambat. Seolah dengan memperlambat kendaraan, kami bisa memperpanjang perpisahan. Jalan itu kembali menghadirkan kenangan tentang maukib-maukib yang beberapa hari lalu memenuhi sepanjang perjalanan kami.
Tempat-tempat yang membuat kami bertahan ketika tubuh mulai lelah. Ada air yang diberikan tanpa diminta, makanan yang disuguhkan tanpa menanyakan harga, tempat beristirahat yang dibuka untuk siapa saja, dan orang-orang yang melayani peziarah seolah mereka sedang melayani keluarganya sendiri.
Kini sebagian besar maukib telah dibongkar. Tenda-tenda telah hilang. Kursi-kursi telah dilipat. Peralatan telah dikemasi. Jalan yang beberapa hari lalu seperti lautan manusia kini perlahan kembali lengang.
Tetapi bagi kami, jalan itu tidak akan pernah menjadi jalan biasa lagi. Sebab kami pernah meninggalkan jejak kaki dan doa di sana. Kami juga meninggalkan sebagian dari diri kami di jalan itu.
Saya teringat seorang pengelola maukib yang pernah kami temui. Ketika kami mengucapkan terima kasih atas makanan dan pelayanan yang diberikan, ia menjelaskan bahwa semuanya dilakukan untuk Husain.
Kalimat sederhana itu terus teringat. Sebab semakin jauh dari Karbala, semakin dalam maknanya. Ada manusia yang mampu memberi tanpa berharap dikenal. Memberi karena cinta. Memberi karena keyakinan. Memberi karena merasa bahwa melayani orang lain adalah bagian dari pengabdian.
Sementara kita sering kali memberi karena ingin dikenang. Kita menolong karena ingin disebut baik. Kita berbuat sesuatu karena berharap suatu hari akan mendapatkan balasan.
Di jalan menuju Karbala, kami seperti diperlihatkan bentuk lain dari kebaikan: memberi lalu melupakan bahwa kita pernah memberi.
Ya Husain, ajarkan kami memberi seperti tangan-tangan yang kami temui di sepanjang jalan ini. Ajarkan kami mencintai tanpa menghitung, menolong tanpa memilih siapa yang pantas ditolong, dan berbuat baik tanpa menunggu nama kami disebut. Jika mereka mampu melayani orang asing hanya karena kecintaan kepadamu, semoga kami pun mampu membawa sedikit cinta itu ketika kembali kepada kehidupan kami.
Bus terus bergerak…
Karbala semakin jauh. Tetapi justru semakin jauh kota itu, semakin banyak pertanyaan yang datang. Apa yang sebenarnya kami bawa pulang? Apakah hanya foto? Apakah hanya cerita? Apakah hanya kenangan bahwa kami pernah berjalan puluhan kilometer menuju Karbala? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang seharusnya ikut pulang bersama kami?
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab Karbala tidak hanya memperlihatkan kepada kami sebuah makam. Karbala memperlihatkan kepada kami harga sebuah keyakinan.
Husain kehilangan anaknya. Kehilangan saudaranya. Kehilangan sahabat-sahabatnya. Kehilangan orang-orang yang dicintainya. Dan akhirnya memberikan dirinya sendiri dalam kesyahidan. Sementara kami terkadang merasa telah berkorban hanya karena kehilangan sedikit kenyamanan.
Di hadapan Husain, ukuran pengorbanan dalam diri kami terasa berubah. Kami menjadi malu kepada diri sendiri. Malu karena begitu mudah mengeluh. Malu karena begitu sering takut kehilangan dunia. Malu karena terkadang mengetahui kebenaran, tetapi masih terlalu banyak pertimbangan untuk berdiri di sisinya.
Ya Allah, jangan jadikan air mata kami di Karbala hanya air mata yang jatuh karena haru. Jadikan ia air mata yang membersihkan kesombongan kami. Jangan jadikan langkah kami menuju makam Husain hanya perjalanan seorang peziarah. Jadikan ia awal dari perjalanan untuk memperbaiki diri.
Ketika kami kembali kepada kehidupan kami, jangan biarkan dunia kembali menguasai hati yang pernah belajar dari Karbala. Jika kami mulai takut kepada manusia, ingatkan kami kepada keberanian Husain. Jika kami mulai mencintai dunia terlalu dalam, ingatkan kami kepada tanah tempat ia memberikan seluruh yang dimilikinya.
Kini bus semakin jauh….
Karbala benar-benar mulai tertinggal. Namun kami tahu, perjalanan belum selesai. Di depan kami terbentang jalan menuju Najaf, kota tempat Imam Ali bin Abi Thalib dimakamkan.
Jika Karbala mengajarkan arti pengorbanan, mungkin Najaf akan mengajarkan bagaimana pengorbanan itu diterjemahkan menjadi keadilan, ilmu, keberanian dan kebijaksanaan.
Kota berganti……. Jalan berganti……
Tetapi perjalanan batin kami belum selesai.
Kami datang ke Karbala sebagai peziarah.
Kami meninggalkannya membawa sebuah amanah.
Amanah untuk tidak membiarkan air mata menjadi sekadar air mata. Amanah untuk tidak menjadikan ziarah hanya sebagai perjalanan tubuh. Amanah untuk membawa nilai-nilai yang kami temukan di tanah para syuhada kembali ke kehidupan nyata. Sebab cepat atau lambat, semua manusia akan meninggalkan tempat-tempat yang dicintainya. Kita akan meninggalkan rumah, kota, orang-orang yang kita cintai, dan pada akhirnya akan meninggalkan dunia.
Yang menentukan nilai perjalanan bukanlah seberapa jauh kaki pernah melangkah, tetapi apa yang berubah setelah langkah itu berhenti.
Semoga kami membawa sedikit keberanian Husain, sedikit kesetiaan Abbas, sedikit kesabaran Zainab, dan sedikit keadilan Ali. Semoga kami tidak pulang hanya dengan cerita tentang Karbala.
Semoga kami pulang membawa Karbala di dalam diri. Karena Karbala boleh hilang dari pandangan. Tetapi jangan pernah biarkan Karbala hilang dari kehidupan.
Dan mungkin, itulah perpisahan yang paling menyakitkan: bukan ketika kami meninggalkan Karbala, tetapi ketika suatu hari kami sadar bahwa kami telah meninggalkan Karbala, sementara Karbala tidak meninggalkan apa-apa di dalam diri kami.
Ya Husain, kami pergi. …..
Bukan karena hati kami ingin meninggalkanmu.
Kami pergi karena perjalanan harus diteruskan.
Jika Tuhan masih memberi umur, pertemukan kami kembali dengan tanahmu.
Jika tidak, biarlah cinta ini menjadi bekal ketika kelak kami sendiri yang akan meninggalkan dunia.
Salam untukmu, wahai Aba Abdillah, Husain bin Ali. Salam untuk para syuhada yang darahnya mengalir di tanah Karbala, tetapi nyalanya tidak pernah padam dalam ingatan manusia. Salam untuk tanah yang mengajarkan kami bahwa kematian di jalan kebenaran bukanlah akhir dari kehidupan; ia justru dapat menjadikan sebuah nama hidup melampaui zaman, melampaui kematian, bahkan melampaui batas-batas negeri.
Hari ini kami pergi. Kaki kami meninggalkan tanahmu, pandangan kami kehilangan kubahmu, dan jalan membawa kami semakin jauh dari pusaramu. Tetapi kami memohon, jangan biarkan hati kami ikut pergi.
Jika kelak jarak membuat kami lupa, biarkan kerinduan memanggil kami kembali. Jika kehidupan membuat kami lalai, biarkan nama Husain mengetuk hati kami. Dan jika suatu hari kami harus meninggalkan dunia ini, semoga kami membawa sedikit keberanian dari Karbala dalam perjalanan terakhir kami.
Kami pergi, wahai Husain.
Tetapi cinta kami tidak akan pernah selesai di jalan ini.
Kami meninggalkan Karbala, semoga Karbala tidak pernah meninggalkan kami. (*)
*Penulis ada pembaca dan pelanggan FAJAR





