Kebakaran lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, kian mengkhawatirkan. Hingga Senin, 10 Agustus 2026, luas area yang terdampak kebakaran dilaporkan telah mencapai 724 hektare.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur melaporkan pada pukul 06.00 WIB, rambatan api di kawasan P30 mulai mengarah ke area permukiman warga. Kondisi serupa juga terpantau di kawasan Lembah Dingklik, di mana titik api terlihat cukup besar.
Baca Juga :
Pemerintah Fokuskan Penanganan Karhutla di 6 Provinsi Rawan BencanaMerespons kondisi darurat tersebut, upaya pemadaman terus dimaksimalkan melalui jalur udara dan darat. Dua armada helikopter, yakni PK-DAP dan PK-DAN, diterjunkan untuk melakukan operasi water bombing di titik-titik api yang sulit dijangkau.
Sementara itu, operasi dari jalur darat diperkuat dengan pengerahan dua truk pemadam kebakaran, dua truk tangki, satu armada L300 bermuatan tandon air, serta satu unit drone water spray.
Modifikasi Cuaca Mustahil Dilakukan
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, memastikan bahwa operasi water bombing akan terus diandalkan hingga seluruh titik api benar-benar padam. Hal ini mengingat Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tidak memungkinkan untuk diterapkan di kawasan tersebut dalam waktu dekat.
"Modifikasi cuaca tidak bisa dilakukan sampai 10 hari ke depan. Saya sudah berkoordinasi langsung dengan Kepala BMKG, secara matematis dan teknokratik hampir mustahil ada TMC 10 hari ke depan," jelas Raja Juli Antoni dikutip dari Primetime News, Metro TV, Senin 10 Agustus 2026.
Di sisi lain, demi alasan keselamatan dan kelancaran proses pemadaman, pihak TNBTS masih menutup sementara seluruh pintu masuk wisata Gunung Bromo sejak 8 Agustus 2026 lalu. Penutupan yang belum ditentukan batas waktunya ini mulai berdampak signifikan terhadap penurunan pendapatan para pelaku usaha wisata dan pengelola penginapan di sekitar kawasan Bromo.




