130.030 Hektar Habitat Hilang, Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Menyusut

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Penggundulan hutan dalam 10 tahun terakhir membuat orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli semakin terdesak di habitat yang kian sempit dan terpisah-pisah. Sedikitnya 130.030 hektar tutupan hutan di habitat orangutan lenyap dalam periode tersebut. Akibatnya, populasi orangutan Sumatera turun 15,5 persen dan orangutan Tapanuli 6,7 persen.

Hal itu terungkap dalam ”Survei Populasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli di Sumatera Utara dan Aceh” yang dilakukan Kementerian Kehutanan dan dipublikasikan pada 2026. Survei yang berlangsung pada 2021-2023 itu melibatkan Yayasan Ekosistem Lestari-Program Konservasi Orangutan Sumatera (YEL-SOCP) dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC).

Dalam pemaparannya terkait hasil survei tersebut, Kepala Divisi Konservasi In Situ YEL-SOCP Julius Paolo Siregar, dalam diskusi di Medan, Jumat (7/8/2026), menjelaskan, populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii) saat ini diperkirakan 11.694 individu yang tersebar di delapan metapopulasi di Aceh dan Sumatera Utara. Populasi itu turun 15,5 persen dibandingkan dengan hasil survei 2011-2013 yang masih mencapai 13.846 individu.

Survei dengan metode transek garis sistematis itu juga menyimpulkan, populasi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang tersisa hanya 716 individu. Mereka tersebar di tiga metapopulasi yang terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara. Populasi tersebut turun 6,7 persen dibandingkan dengan hasil survei 2011-2013 yang masih mencapai 767 individu.

”Faktor utama penyebab penurunan populasi adalah kehilangan tutupan hutan alam,” kata Julius.

Julius menyebut, kehilangan tutupan hutan di habitat orangutan di Sumatera masih terus terjadi dengan laju sekitar 10.000 hektar per tahun. Penggundulan hutan terutama terjadi di kawasan area penggunaan lain (APL), hutan produksi, dan hutan produksi terbatas.

Secara teori, kata Julius, kehilangan 74 hektar habitat mengakibatkan hilangnya daya dukung bagi satu individu orangutan. Dengan laju kehilangan habitat seperti sekarang, penurunan populasi orangutan di Sumatera diperkirakan mencapai 135 individu setiap tahun.

Di lapangan, kehilangan tutupan hutan dan penurunan populasi terlihat jelas di delapan metapopulasi orangutan Sumatera, yakni Leuser Barat, Leuser Timur, Trumon-Singkil, Lingga Isaq, Rawa Tripa, Batu Ardan, Sikulaping, dan Siranggas.

Rawa Tripa di pesisir barat Aceh masih berupa hutan rawa gambut yang lebat pada 2013. Namun, dalam survei terakhir, hampir seluruh tutupan hutannya telah dibabat dan berubah menjadi kebun sawit.

Baca JugaPelajaran dari Orangutan

”Kami menganggap habitat orangutan di Tripa sudah habis. Kalau ada orangutan ditemukan di kawasan itu, akan dievakuasi ke habitat lain. Populasi orangutan di Tripa hanya tersisa 46 individu. Itu sudah termasuk enam individu yang kami evakuasi dalam dua tahun ini,” kata Julius.

Di Trumon-Singkil, kondisi habitat orangutan juga mengalami tekanan cukup besar. Padahal, Singkil sebelumnya menjadi salah satu habitat orangutan Sumatera dengan kepadatan tinggi. Pada survei 2013, masih ditemukan 136 sarang dalam satu transek atau garis lurus sepanjang 1 kilometer. Saat ini, jumlah tertinggi yang ditemukan hanya sekitar 70 sarang. Artinya, kepadatan sarang menurun hampir 50 persen.

Menurut Julius, penurunan kepadatan di Trumon-Singkil menunjukkan tekanan terhadap populasi semakin besar. Kondisi tersebut juga mengindikasikan orangutan mencari tempat yang lebih aman di bagian hutan yang lebih dalam.

Orangutan Tapanuli

Sementara itu, orangutan Tapanuli menghadapi ancaman yang lebih mengkhawatirkan mengingat populasinya hanya tersisa 716 individu yang tersebar di tiga habitat terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru. Orangutan Tapanuli ditetapkan sebagai spesies yang berbeda dari orangutan Sumatera pada 2017.

Kantong populasi terbesar berada di Batang Toru Barat dengan 514 individu, disusul Batang Toru Timur sebanyak 159 individu dan Sitandiang Sibualbuali 43 individu.

Dengan jumlah populasi yang sangat sedikit dan habitat yang terpisah-pisah, orangutan Tapanuli juga menghadapi ancaman penurunan keragaman genetik akibat perkawinan sedarah atau inbreeding, khususnya pada dua metapopulasi yang jumlah individunya paling sedikit. Populasi-populasi tersebut terpisah oleh jalan nasional, sungai, serta jalan menuju Pembangkit Listrik Tenaga Air Batang Toru.

Julius menyebut, orangutan yang hidup di APL dan hutan produksi menghadapi ancaman lebih besar. Menurut data yang dipaparkannya, sebagian besar orangutan saat ini hidup di kawasan hutan lindung, taman nasional, dan kawasan konservasi lainnya.

”Namun, ada 2.204 individu atau 18 persen yang hidup di tutupan hutan yang tidak dilindungi,” kata Julius.

Penyebaran di luar distribusi

Survei juga memetakan populasi orangutan di luar peta distribusi yang selama ini mengacu pada dokumen Penilaian Kelayakan Populasi dan Habitat (Population and Habitat Viability Assessment/PHVA) Orangutan 2016. Survei tersebut dilaksanakan YOSL-OIC.

”Selama satu dekade, konservasi orangutan mengacu pada PHVA 2016 dengan 10 metapopulasi. Tetapi, satu pertanyaan mendasar belum terjawab. Apakah seluruh populasi orangutan benar-benar berada di dalam peta tersebut?” kata Direktur Konservasi YOSL-OIC M Indra Kurnia.

Untuk menjawab pertanyaan itu, survei dilakukan di lima lokasi yang terindikasi menjadi habitat orangutan di Sumatera Utara, yakni Blok Pagindar di Pakpak Bharat, Parmonangan-Sipoholon di Tapanuli Utara, Dolok Saut di Tapanuli Utara, Timur Sipirok di Tapanuli Selatan, serta Rawa Pesisir Lumut dan Kampung Sawah di Tapanuli Tengah.

Baca JugaSaatnya Menghentikan Konflik Ruang untuk Kelangsungan Hidup Orangutan

Hasil survei mengonfirmasi keberadaan habitat orangutan di Pagindar, Lumut, Kampung Sawah, dan Parmonangan-Sipoholon. Konfirmasi diperoleh melalui temuan sarang orangutan. Di Parmonangan-Sipoholon dan Lumut, keberadaan orangutan bahkan diperkuat dengan perjumpaan individu secara langsung.

Namun, temuan habitat baru itu berbarengan dengan ancaman alih fungsi lahan, seperti yang terjadi di Rawa Pesisir Lumut. Sebagian besar hutan rawa gambut di kawasan tersebut telah berubah menjadi kebun sawit.

Padahal, habitat itu sangat unik karena menjadi satu-satunya habitat orangutan Tapanuli yang diketahui berada di rawa gambut. Karakter habitatnya mirip dengan Tripa dan Singkil, dua kawasan rawa gambut yang dihuni orangutan Sumatera.

”Sayangnya, status Lumut ini adalah APL dan di situ ada perkebunan sawit PT FIA. Katanya punya hak guna usaha. Akan tetapi, saat pertemuan, ternyata HGU-nya masih dalam proses pengajuan,” kata Indra..

Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Andar Abdi Saragih mengatakan, hasil survei tersebut menjadi landasan penting bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan penyelamatan orangutan dan habitatnya.

”Upaya paling penting yang disiapkan pemerintah adalah mengusulkan 197.000 hektar areal preservasi di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Pakpak Bharat,” kata Andar.

Andar mengatakan, penetapan areal preservasi tidak mengubah status lahan sebagai APL atau hutan produksi. Namun, dengan status tersebut, fungsi kawasan sebagai hutan alam harus tetap dipertahankan.

Habitat orangutan di Sumatera hingga kini masih terus dibabat dengan laju sekitar 10.000 hektar per tahun. Di tengah populasi yang terus menyusut dan habitat yang semakin terfragmentasi, langkah nyata untuk menyelamatkan hutan-hutan terakhir tempat orangutan bertahan hidup semakin mendesak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ekonomi Makin Sulit, Ribuan Istri di Kota Malang Minta Cerai
• 10 jam laluberitajatim.com
thumb
Gandeng KPKNL, Kejaksaan Jamin Lelang Barang Rampasan Transparan dan Akuntabel
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BI Sulsel Musnahkan 4.144 Lembar Rupiah Palsu
• 5 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Weda Bay Menjadi Titik Awal Industri Alat Berat Listrik
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Bikin Pangling Saat Akad Nikah, Dea Annisa Beberkan Alasan Kenakan Hijab
• 7 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.