TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com – Kemacetan yang mengular di Jalan Raya Serpong, di sekitar kawasan Pasar Serpong dan Stasiun Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), bukan lagi sekadar persoalan antrean kendaraan harian.
Masalah lalu lintas di titik ini telah berkembang menjadi benang kusut yang melibatkan persoalan infrastruktur, tingginya frekuensi perjalanan kereta api, dinamika persaingan angkutan umum, hingga minimnya kedisiplinan para pengguna jalan.
Rangkaian temuan di lapangan memperlihatkan bagaimana berbagai faktor tersebut saling bertali-temali hingga memicu kesemrawutan yang sulit diurai.
Baca juga: Sopir Angkot dan Pemotor Saling Menyalahkan soal Macet di Pasar Serpong Tangsel
Keluhan Sopir Angkot Soal Jalan Sempit hingga Pemotor Serobot JalurSopir angkot, Sembayang (40), mengatakan bahwa salah satu pemicu utama kemacetan di titik ini adalah kondisi fisik jalan dekat Stasiun Serpong yang sangat sempit dan hanya mampu memuat satu jalur kendaraan roda empat.
Selain kapasitas jalan yang terbatas, ia menyoroti kondisi permukaan jalan di perlintasan rel kereta api yang sering kali mengalami kerusakan parah sehingga memaksa pengemudi memperlambat laju kendaraan.
"Apalagi jalan di rel itu kan aduh, sering rusak. Itu pun agak terlambat memang diperbaiki. Makanya, ya mobil-mobil yang rendah kayak Brio, sedan-sedan gitu kan enggak berani agak cepat di situ. Itu faktor yang paling fatal. Paling berpengaruh," kata Sembayang saat berbincang dengan Kompas.com, Senin (10/8/2026).
Menurut Sembayang, solusi mendasar dan utama yang sangat dibutuhkan di lokasi tersebut adalah pelebaran jalan.
Baca juga: Macet Parah di Pasar Serpong, Dishub Tangsel Soroti Headway KRL dan Panggil Timer Angkot
Di sisi lain, Sembayang juga menilai bahwa mentalitas dan egoisme pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor, turut memperkeruh keadaan karena sulit diatur.
"Hanya pengendara ini banyak yang egois juga, Bang. Tidak mau diatur, apalagi sama pengendara yang lain. Apalagi motor, ya," tuturnya.
Hal serupa disampaikan sopir angkot lain, Rudi (65), yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Ia menyuarakan keluhan terkait ketidaksabaran para pengendara sepeda motor.
Baca juga: Bukan Lagi PKL, Ini Biang Kerok Kemacetan Parah di Pasar Serpong Tangsel
Ia menilai aksi pemotor yang asal menyerobot dan memakan jalur orang lain justru menjadi pemicu utama yang menghentikan arus lalu lintas.
"Tadi macet ini doang, motor ini. Motor yang dari sono, ngambil jalur orang. Mau terburu-buru malah jadi macet kan?" ujar Rudi.
Di tengah pusaran kemacetan tersebut, Rudi dan rekan-rekan sesama sopir angkot menjadi kelompok yang paling terdampak.
Selain harus menghadapi kemacetan harian, mereka harus berjuang keras di tengah makin sepinya penumpang.
Baca juga: Mobil Tabrak Pemotor hingga Terpental di Serpong Tangsel, 2 Orang Tewas





