-
-
-
-
-
Siapa sih yang nggak mupeng lihat foto liburan artis di Pulau Padar? Pemandangannya emang juara, bukit-bukit hijau kecoklatan yang jadi ikon Labuan Bajo.
Tapi giliran Jessica Mila yang pamer momen itu bareng suami, Yakup Hasibuan, plus Merdi Sahetapy dan Rama Sahetapy, netizen malah nggak fokus ke pemandangan. Mereka malah rame-rame nanya satu hal: "Loh, bukannya Padar lagi ditutup?"
Dan bener aja. Pas foto itu diunggah Minggu, 9 Agustus 2026, pelayaran ke Pulau Padar dan sejumlah kawasan di Taman Nasional Komodo emang lagi dibatasi sejak 6-10 Agustus, gara-gara gelombang tinggi sampai 2,6 meter. Otomatis, warganet langsung ramai-ramai mention akun KSOP Labuan Bajo minta klarifikasi.
Jessica: "Aku Beneran Nggak Tahu"
Nggak lama, Jessica pun buka suara.
Menurutnya, dia sama sekali nggak dikasih tahu soal larangan itu. Nggak ada satu pun kata dari kapten kapal yang bilang "eh, Padar lagi ditutup lho."
Dia juga cerita, sepanjang perjalanan nggak curiga apa-apa, soalnya banyak kapal lain yang juga bersandar di sana, dan lautnya kelihatan adem ayem aja. Jessica bahkan tegas-tegas bilang, kalau dia tahu dari awal ada larangan, dia nggak bakal ambil risiko, apalagi bawa anak-anak.
Dia juga nolak keras tudingan yang bilang dia udah tahu surat edaran itu sejak awal tapi tetep maksa jalan. Buat Jessica, urusan rute itu sepenuhnya keputusan kapten, dia sebagai penumpang ya tinggal ikut aja.
Oke, penjelasan ini emang masuk akal sih, kalau dilihat dari kacamata penumpang biasa.
Tapi... ternyata ceritanya nggak berhenti di situ.
Eh, Emang Kapal Bisa Asal Jalan ke Mana Aja?
Penasaran sama sistem di balik layar, CumiCumi.com coba ngobrol sama Giostanovlatto, pengamat pariwisata yang udah malang-melintang jadi pelaku wisata di Labuan Bajo selama 16 tahun.
Kata Giostanovlatto, kapal wisata di Labuan Bajo itu nggak bisa asal cus. Ada prosedurnya.
Setiap kapal yang mau trip seharian atau lebih, wajib punya Surat Persetujuan Berlayar alias SPB dari syahbandar, dalam hal ini KSOP. Dan pengurusan ini bukan formalitas doang, ada data lengkap penumpang, kru, sampai guide.
"Di Labuan Bajo, semua jenis wisata wajib pakai guide berlisensi dari HPI, nggak ada pengecualian," jelas Giostanovlatto.
Buat wisatawan lokal, biasanya diminta foto KTP. Kalau turis asing, pakai data paspor dan kewarganegaraan. Jadi semuanya tercatat rapi sebelum kapal boleh berangkat.
Ternyata Izin Berlayar Itu Ada Batasnya
Nah, ini yang menarik. Menurut Giostanovlatto, punya izin berlayar bukan berarti bebas mau ke mana aja.
Kalau lagi cuaca buruk atau ada pembatasan wilayah, hal itu otomatis masuk jadi ketentuan resmi di izin berlayar.
"Izin itu biasanya mencantumkan sampai mana kapal boleh berlayar, dan area mana yang nggak boleh dimasuki," katanya.
Jadi pas pembatasan berlaku 6-10 Agustus itu, mestinya kapal yang urus SPB udah dikasih tahu area mana yang di-blacklist sementara, termasuk Padar, Pink Beach, Pulau Komodo, sama Manta Point.
Giostanovlatto bilang, info kayak gini juga nggak diem-diem aja. Biasanya udah tersebar di grup-grup komunikasi pelaku wisata Labuan Bajo, plus langsung disampaikan KSOP pas ngurus izin.
"Makanya agak susah dipercaya kalau kapten atau guide sama sekali nggak tahu soal larangan ini sebelum berangkat," tegasnya.
Ada Lagi Nih, Sesi Briefing Sebelum Berangkat
Selain urusan izin, ternyata masih ada satu tahap penting: briefing.
Sebelum kapal jalan, biasanya guide bakal jelasin ke tamu soal rute dan tujuan hari itu. Kalau ada kawasan yang lagi dilarang karena cuaca, ya harusnya disebutin di sini juga.
"Dalam kondisi pembatasan kayak waktu itu, tamu seharusnya udah dikasih tahu kalau kapal nggak boleh masuk Padar, Pink Beach, Pulau Komodo, Manta Point, dan area lain yang dibatasi KSOP," jelas Giostanovlatto.
Jadi total ada tiga kesempatan info ini bisa sampai ke penumpang: pas urus izin, lewat kapten/kru, sama pas briefing sebelum berangkat.
Terus, mungkin nggak penumpang tetep nggak tahu? Giostanovlatto bilang, itu mungkin aja, misalnya kalau emang guide atau krunya yang nggak nyampein info itu. Kalau ini yang kejadian, ya jadi masalah serius, soalnya wisatawan berhak dong tahu kondisi perjalanan yang bakal mereka hadapi.
Kalau Semua Udah Tahu, Kok Bisa Tetep ke Padar?
Di bagian ini, Giostanovlatto ngomongnya hati-hati banget.
"Saya nggak mau berasumsi soal perjalanan Jessica Mila, karena saya nggak ada di kapal itu," tegasnya di awal.
Tapi dari pengalamannya di lapangan, dia jelasin dua kemungkinan yang secara umum bisa kejadian di dunia wisata kapal, tanpa nyambungin langsung ke kasus spesifik siapa pun.
Kemungkinan pertama, tamu lihat laut kelihatan tenang, terus minta ke guide atau kapten buat tetep lanjut ke Padar atau Pink Beach. Kalau krunya setuju, ya kapal jadi masuk ke area yang sebenernya lagi dibatasi.
Kemungkinan kedua, kaptennya sendiri yang lihat kondisi laut oke, terus mutusin lanjut jalan tanpa ngasih tahu tamu kalau area itu sebenarnya lagi dilarang.
"Dua-duanya tetep bahaya," kata Giostanovlatto. "Karena laut yang keliatan tenang di permukaan, belum tentu aman buat masuk area yang udah dinyatain nggak boleh dilayari."
Jadi, Jessica Beneran Nggak Tahu?
Sampai sekarang, jawabannya masih belum jelas.
Jessica udah kasih versinya: dia ngaku nggak tahu ada larangan, dan nyerahin semua keputusan rute ke kapten.
Tapi masih ada pertanyaan yang menggantung. Briefing sebelum berangkat beneran dilakukan nggak? Kaptennya udah tahu soal pembatasan ini dari proses urus izin? Guide-nya nyampein larangan itu ke rombongan atau nggak? Dan yang paling penting, gimana ceritanya kapal yang bawa Jessica dan rombongan bisa nyampe pas banget di area yang lagi dibatasi?Kayaknya, jawaban lengkap soal ini nggak cuma ada di sisi penumpang doang. Kapten dan guide yang ada di kapal itu juga jadi bagian penting dari cerita yang belum tuntas ini.





