Berprestasi Saja Tak Cukup, Talenta Unggul Harus Berdampak

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Kapitalisasi talenta unggul tidak cukup hanya berorientasi pada prestasi akademik atau non-akademik. Generasi muda yang bertalenta sangat perlu dibekali kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, serta kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan agar mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul-haq mengatakan, setiap talenta unggul yang berkesempatan mendapatkan beasiswa seharusnya dapat bertanggung jawab menyelesaikan pendidikan, mengembangkan diri, dan kemudian kembali berkontribusi kepada masyarakat. Dengan demikian, penerima beasiswa diharapkan kelak berubah dari penerima manfaat menjadi pemberi manfaat.

"Kembalilah kepada masyarakat masing-masing dan berikan dampak positif. Pada saat yang sama, jagalah mimpi-mimpi anak-anak lain yang belum terjangkau oleh program seperti ini," kata Fajar saat acara awarding day SCG Sharing the Dream 2026 di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Selasa (11/8/2026).

SCG Sharing the Dream 2026 merupakan program beasiswa untuk pelajar SMA dan mahasiswa S1 di Indonesia demi membentuk generasi muda yang peduli lingkungan. Sejak diluncurkan tahun 2012, program ini telah mendukung lebih dari 5.200 penerima beasiswa dan tahun ini ada sebanyak 412 beasiswa yang diberikan kepada 400 siswa SMA dan 12 mahasiswa tingkat S1. Dukungan finansial yang diberikan disebut telah mencapai lebih dari Rp 22 miliar.

Tahun ini, para penerima beasiswa didorong untuk mengembangkan kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, dan keterampilan praktis sekaligus menerapkan pengetahuan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan nyata, melalui program pengembangan kapasitas, pembelajaran berbasis pengalaman, dan proyek berbasis komunitas.

Mempersiapkan generasi muda untuk masa depan bukan lagi menjadi tanggung jawab satu negara saja.

Vice President of Corporate Administration SCG, Paramate Nisnagornsen mengatakan, program ini terus berkembang melampaui program beasiswa menjadi sebuah platform jangka panjang yang memberdayakan generasi muda Indonesia untuk mengembangkan potensi dan menciptakan dampak positif di masyarakat. Program ini juga diperluas ke pelajar di Vietnam, Kamboja, Laos, dan Filipina demi memajukan sumber daya manusia di kawasan ASEAN.

"Seiring kawasan kita yang semakin terhubung, menurut kami mempersiapkan generasi muda untuk masa depan bukan lagi menjadi tanggung jawab satu negara saja," ucap Paramate.

Baca JugaDibiayai Penuh, Beasiswa Talenta Indonesia Perkuat Manajemen Talenta Nasional

Duta Besar Thailand untuk Indonesia Prapan Disyatat menyatakan bahwa program semacam ini sangat memperkuat kerja sama bilateral antarnegara di ASEAN. Kerja sama di bidang pendidikan melalui pertukaran tenaga ahli untuk belajar bersama di negara kawasan menjadi sangat urgen di masa kini.

Kepala Pusat Prestasi Nasional di Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono menambahkan, program beasiswa seperti yang dilakukan SCG ini masuk pada tahap kapitalisasi talenta yang merupakan tahap terakhir dalam manajemen talenta nasional setelah identifikasi, pengembangan, aktualisasi, dan apresiasi talenta.

Program beasiswa dan proyek komunitas dinilai memiliki keterkaitan kuat terutama pada tahap kapitalisasi talenta. Pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seseorang harus diwujudkan dalam karya yang dapat menyelesaikan persoalan nyata.

Irene menilai, generasi muda Indonesia memiliki modal penting berupa kemampuan belajar dan resiliensi yang tinggi. Namun, kemampuan tersebut masih perlu diperkuat dengan kemampuan beradaptasi dan berpikir kritis agar mereka mampu menghadapi perubahan dan kebutuhan masa depan.

Pengembangan talenta unggul, lanjut Irene, juga perlu diarahkan agar anak muda mampu mengubah gagasan menjadi aksi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kemampuan dan pengetahuan tersebut tidak akan memberikan dampak apabila tidak diimplementasikan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Jadi, anak-anak ini perlu terus dikembangkan prestasinya," kata Irene.

Karena itu, pengembangan karakter, kepemimpinan, dan keterampilan pada akhirnya harus bermuara pada kemampuan problem solving. Talenta yang unggul bukan hanya mereka yang memiliki nilai akademis tinggi, tetapi mereka yang mampu menggunakan keunggulannya untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca JugaBerdaulat dengan Talenta AI Indonesia

Salah satu contoh inspiratif adalah WANOJA (Wani Nenjo Jaman) Green Academy, Community Project yang diinisiasi oleh Lulita Sauman, mahasiswi Universitas Pasundan yang merupakan alumni SCG Sharing the Dream 2025, di Desa Sukawening, Ciwidey, Jawa Barat. Lulita bekerja sama dengan komunitas pariwisata lokal untuk memberdayakan lebih dari 60 anak muda melalui pengembangan keterampilan ekowisata.

Inisiatif ini membuka peluang baru sekaligus berupaya menjawab sejumlah tantangan lokal, seperti terbatasnya prospek ekonomi, pernikahan dini, dan akses terhadap pendidikan.

"Pengalaman ini memberi saya kepercayaan diri untuk meyakini bahwa tindakan kecil sekalipun dapat menciptakan perubahan yang berarti. Kini, saya berharap dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk menyadari bahwa mereka juga mampu membuat perubahan positif di komunitas masing-masing," ucap Lulita.

Adapula, Josephine Sophie Mathilda Sagala, mahasiswi Universitas Padjadjaran yang membuat proyek Clean Water for All untuk membantu masyarakat Desa Cileles, Jatinangor, Jawa Barat mengidentifikasi sumber air baru yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi.

Dengan metode Electrical Resistivity Tomography (ERT), mereka berhasil menemukan 16 titik sumber mata air baru yang berbeda di wilayah Desa Cileles dan menyusun rencana konservasi air bersama masyarakat untuk dimanfaatkan secara mandiri ke depannya.

Baca JugaBudaya Prestasi Dipacu untuk Perkuat Manajemen Talenta Nasional

President Director PT SCG Indonesia, Pattaraphon Charttongkum menegaskan, Lulita dan Josephine hanya dua dari sebanyak 12 proyek komunitas dengan dampak positif yang disebut menjangkau sekitar 7.600 anggota masyarakat. Sebab, kapitalisasi talenta unggul perlu diarahkan pada kemampuan untuk mengubah pengetahuan menjadi aksi.

Pendekatan ini juga sejalan dengan visi mendorong pertumbuhan yang inklusif dan membangun generasi yang memiliki pola pikir hijau serta memahami prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). "Harapannya, generasi ini nantinya menjadi generasi yang sangat penting dalam menerapkan aksi ESG, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan keluarga mereka," kata Pattaraphon.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Airlangga Sebut Lokasi PFII Bakal Dekat Bandara Ngurah Rai Bali
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Waduh! Persib Terkena Sanksi FIFA Lagi, Ini Kata Manajemen
• 15 jam lalubola.com
thumb
Sidang Perdana Kasus Pencabulan Santriwati Pati, Ashari Terancam 12 Tahun Bui
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Investor Pasar Modal Indonesia Tembus 30,27 Juta, BEI Catat Rekor Pertumbuhan Sepanjang Sejarah
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Foto: Porak-poranda Kolombia Diguncang Gempa 7,4 Magnitudo
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.