Sawah Petani Kekeringan, Komisi III DPRD Wajo Dorong Percepatan Program Irigasi Perpompaan

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, WAJO– DPRD Kabupaten Wajo merespons kekeringan sektor pertanian. Kini mendorong percepatan realisasi program irigasi perpompaan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan-Jeneberang (Pomjen).

Hal itu diutarakan oleh Sekretaris Komisi III DPRD Wajo, Feri Saputra Santu. Kata dia, irigasi perpompaan dari BBWS Pomjen merupakan program penanganan darurat dan strategis untuk menyelamatkan lahan pertanian terdampak kekeringan atau mengoptimalkan suplai air pada Daerah Irigasi (D.I.).

Pompa bantuan difungsikan untuk mendistribusikan air dari sumber air terdekat ke saluran irigasi saat musim kemarau.

“Seperti kondisi sekarang di Wajo. Terdapat ribuan hektare (ha) sawah petani kita kekeringan dampak el nino,” ujarnya saat ditemui di Ruang Komisi III DPRD Wajo, Selasa, 11 Agustus.

Atas kondisi itu. Komisi III melakukan kunjungan ke BBWS Pomjen beberapa waktu lalu. Langkah itu untuk mengkoordinasikan program yang dapat diselaraskan untuk menyelamatkan tanaman padi petani di Wajo.

“Tahap pertama itu kita diberikan 15 titik irigasi perpompaan tersebar di semua kecamatan. Ini sekarang sudah running,” bebernya.

Bahkan lanjut Feri sapaannya, selanjutnya akan disalurkan 60 titik irigasi perpompaan pada tahap kedua. Kunjungan beberapa waktu lalu itu berbuah manis.

Karena fungsi utama program itu untuk mengambil air dari sumber terdekat (sungai/sumur/embung) dan memompanya ke saluran irigasi atau langsung ke lahan tani.

Sehingga, kecemasan petani akan gagal panen sedikit mereda. Dengan terealisasi program irigasi perpompaan nantinya, petani tetap bisa memanen padinya.

“Kita akan full up kembali program ini ke balai,” tuturnya.

Diketahui, luas sawah yang kekeringan tercatat 9.851 ha. Terbagi kekeringan ringan 8.209 ha dan kekeringan sedang 1.642 ha. Kekeringan tertinggi di Kecamatan Belawa seluas 3.510 ha.

Sebelumnya, warga Kelurahan Macero Kecamatan Belawa, Supriadi (46) mengaku, petani sekarang menghadapi risiko gagal panen akibat matinya tanaman padi di sawah.

“Kalau kami tanaman padi masih kecil. Jadi kerugian tidak terlalu besar. Walaupun begini, kita berharap perhatian dari pemerintah,” ungkapnya.

Dia menyampaikan, ada ratusan hektare (ha) persawahan menghadapi risiko gagal panen akibat kekeringan di sepanjang ruas Macero – Ujung Kessi.

Tanah sawah yang semula subur kini tampak pecah-pecah, sementara tanaman padi yang baru berusia beberapa minggu telah menguning dan layu sebelum waktunya. Pasokan air irigasi tidak sampai ke sawah kami membuat tanaman padi mengering.

“Kami berharap program irigasi perpompaan segera disalurkan ke petani atau kelompok petani. Sehingga penanganan segera dilakukan untuk menyelematkan tanaman kami,” tutupnya. (man)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Momen Paskibraka Gelar Gladi di Istana Merdeka Jelang HUT Ke-81 RI
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
[FULL] Mensesneg Ungkap Rangkaian Agenda HUT ke-81 RI hingga Tambahan Kuota Undangan Upacara
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Jakarta Siapkan Obligasi Rp 5,2 Triliun, Seberapa Menarik bagi Investor?
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Tim Reaksi Cepat Semen Tonasa Terima Penghargaan Tertinggi dari Kepala Basarnas RI
• 21 jam laluterkini.id
thumb
Kericuhan Pecah, Wasit Jadi Sasaran Emosi Kiper Perseka di Bupati Cup 2026
• 12 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.