Harga Emas Melemah, Pasar Menanti Data Inflasi AS

idxchannel.com
14 jam lalu
Cover Berita

Harga emas turun pada Selasa (11/8/2026), tetapi masih bertahan di dekat level tertinggi lebih dari dua bulan yang dicapai sebelumnya.

Harga Emas Melemah, Pasar Menanti Data Inflasi AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga emas turun pada Selasa (11/8/2026), tetapi masih bertahan di dekat level tertinggi lebih dari dua bulan yang dicapai sebelumnya.

Pelaku pasar menunggu data inflasi utama Amerika Serikat (AS) yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga:
Lima ETF Emas Masuk Bursa, Apa Untungnya?

Harga emas spot turun 0,50 persen menjadi USD4.368,24 per troy ons. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh USD4.434,84 per troy ons, level tertinggi sejak 5 Juni, dalam upaya menembus rata-rata pergerakan 100 hari (MA-100) yang saat ini berada di USD4.387,92.

“Pasar menantikan data inflasi pekan ini untuk mendapatkan semacam konfirmasi bahwa inflasi masih terkendali,” ujar Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, dikutip Reuters.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Melemah usai Kabar Selat Hormuz Tak Akan Dibuka hingga Syarat Teheran Dipenuhi

Menurut Grant, perlambatan inflasi tahunan berdasarkan data indeks harga konsumen (CPI) AS dapat terus menjadi sentimen positif bagi harga emas.

Data CPI AS yang dirilis pada Rabu (12/8) dan data indeks harga produsen (PPI) pada Kamis (13/8) waktu setempat diperkirakan menjadi faktor penting dalam membentuk ekspektasi kebijakan moneter.

Baca Juga:
AEI, OJK, BEI Dorong Emiten Perkuat Fundamental Demi Pulihkan Kepercayaan Investor

Sebelumnya, data ketenagakerjaan AS yang lemah pada Jumat (7/8) membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September dan mendorong harga emas melonjak 2,4 persen dalam sehari.

“Emas masih cukup kuat setelah kekecewaan terhadap data ketenagakerjaan pekan lalu yang mengikis ekspektasi kenaikan suku bunga pada September,” kata Grant.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 50 persen dan pada Desember sebesar 79 persen, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack pada Senin (10/8) mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap guna menghindari kebutuhan kenaikan yang lebih tajam di kemudian hari.

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump merespons tuntutan Iran terkait kesepakatan perdamaian dengan mengajukan sejumlah persyaratan kepada Teheran.

Trump meminta Iran memberikan kompensasi atas korban tewas dalam perang, serangan, dan aksi protes.

Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak bertahan di dekat level tertinggi dalam sepekan. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Ribut Soal Penumpang, Paguyuban Angkutan & Taksi Online Bandung Berdamai
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Andre Rosiade: Komisi VI Terima Aduan Konsumen ADCP, Siap Fasilitasi Solusi
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Menko Yusril Dorong Polisi Selidiki Kasus Challenge Hafalan Al Quran Berhadiah Miras
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Link Streaming Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 dan Daftar Negara yang Bisa Menyaksikannya
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Korupsi Kuota Haji, 'Anatomi' Dakwaan Gus Alex Dipertanyakan
• 9 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.