Anak perusahaan Subholding Commercial & Trading Pertamina Patra Niaga, PT Pertamina Lubricants, merespons harga oli atau pelumas yang melonjak di tengah perang AS dan Iran.
Corporate Secretary Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, mengatakan bahan baku pelumas yang sebagian diimpor memang terdampak lonjakan harga minyak mentah karena dinamika konflik geopolitik.
Hal ini berujung pada kenaikan harga produk pelumas, termasuk oli kendaraan, pada semua merek. Terakhir kali perseroan menaikkan harga produk pada awal Juli 2026.
"Kenaikan harga pelumas tidak cuma merek Pertamina Lubricants, tapi secara nasional brand yang lain juga. Kalau di kami sendiri terakhir naik itu di tanggal 2 Juli, sampai sekarang belum naik lagi," ujar Rika saat media visit di Jakarta, Rabu (12/8).
Saat ini, kata Rika, Pertamina Lubricants belum berencana menaikkan kembali harga produk pelumas. Sebab harga minyak mentah global sudah mulai melandai seiring deeskalasi konflik AS dan Iran.
"Harapannya justru dengan harga crude yang mulai trend-nya turun, semoga kami juga serta harapannya bisa menyesuaikan," ucap Rika.
Pada penutupan perdagangan Selasa (11/8), harga minyak mentah bertengger di atas USD 80 per barel. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September seharga USD 83,20 per barel, dan minyak Brent untuk penyelesaian Oktober sebesar USD 88,91 per barel.
Rika menuturkan, harga produk pelumas juga tergantung pada ketersediaan pasokan bahan baku serta biaya logistik. Kedua faktor tersebut memang dipengaruhi dinamika konflik geopolitik global.
Hanya saja, lanjut dia, perusahaan juga tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat dan persaingan dengan kompetitor. Hal ini mengingat pasar pelumas di Indonesia bersifat persaingan sempurna, di mana terdapat lebih dari 200 merek produsen pelumas yang terdaftar di Indonesia.
"Tentunya dalam menentukan pricing pun kami juga mempertimbangkan pasar, artinya konsumen. Kita juga memperhatikan sejauh mana atau sampai mana daya beli dari konsumen kita," kata Rika.
Selain fokus pada pasar domestik, Pertamina Lubricants juga mengekspor produknya hingga ke 16 negara seperti Korea Selatan, China, Bangladesh, Myanmar, Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia, hingga beberapa negara di Benua Afrika.
Sebelumnya, harga oli motor terpantau mulai mengalami kenaikan pada awal Juni 2026 ini.
Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, tak menampik adanya kenaikan harga pelumas dan suku cadang kendaraan roda dua.
”Oli sudah naik dari April, Mei naik lagi...ya bahan bakunya naik, kemudian kurs (mata uang rupiah) juga sekarang seperti ini (melemah),” kata Sigit kepada kumparan, Selasa (2/6/2026)





