Komnas harap sinergi data kekerasan perempuan jadi dasar kebijakan

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) berharap sinergi database kekerasan terhadap perempuan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang berbasis bukti.

"Agar data ini menjadi dasar pengambilan kebijakan yang berbasis bukti, memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan kualitas layanan serta mendorong akuntabilitas negara dalam pemenuhan hak-hak perempuan," kata Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor saat membuka acara "Peluncuran Laporan Sinergi Data Kekerasan terhadap Perempuan 2025 KemenPPPA, Komnas Perempuan, dan Forum Pengada Layanan (FPL)", di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, terciptanya sinergi database menunjukkan bahwa penguatan data tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas lembaga yang saling melengkapi.

Kelebihan sinergi database ini memudahkan dalam mengakses data dan memastikan para pengambil kebijakan juga tidak salah hitung.

"Selama ini masing-masing kami punya data, sementara data yang valid yang mana kita seringkali juga menerka-nerka ini yang mana yang tumpang tindih data. Tetapi dengan sinergi data, alhamdulillah setidaknya tiga lembaga untuk data layanan pengaduan kekerasan terhadap perempuan sudah menyatu dalam sinergi data ini," kata Maria Ulfah Anshor.

Acara peluncuran tersebut merupakan periode kedua kelanjutan kerja sama KemenPPPA, Komnas Perempuan, dan Forum Pengada Layanan (FPL) mengenai sinergi database kekerasan terhadap perempuan.

"Jadi ini periode yang kedua ya. Ketiga lembaga berkomitmen untuk mengintegrasikan sistem pendokumentasian kasus kekerasan terhadap perempuan dengan menggunakan kerangka CEDAW, prinsip Hak Asasi Manusia dan peraturan perundangan nasional sebagai acuan bersama dalam pencatatan, analisis, dan pemanfaatan data yang kita miliki," kata Maria Ulfah Anshor.

Laporan sinergi database kekerasan terhadap perempuan tahun 2025 ini tidak hanya memuat angka statistik dan tabel, tetapi juga memetakan tren, pola, karakteristik korban dan pelaku, bentuk kekerasan, ranah kekerasan, serta kebutuhan layanan dan pemulihan korban sepanjang tahun 2025.







Baca juga: Pengaduan kekerasan ke Komnas Perempuan tertinggi berasal dari Jakarta

Baca juga: Komnas Perempuan rilis kertas kerja kuatkan pendataan cegah femisida

Baca juga: Komnas Perempuan kecam kekerasan polisi dalam aksi demonstrasi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Macet Panjang, Transjakarta Pastikan Operasional Jalur Langit Kembali Normal
• 22 jam laludisway.id
thumb
Dua Pegawai Pajak jadi Tersangka Usai Terseret Dugaan Korupsi Ini, Bikin Negara Rugi Rp2 Triliun
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Jejak Karier Aida S. Budiman, Kandidat Deputi Gubernur Senior BI Usulan Prabowo
• 8 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pimpinan DPR Terima Perwakilan Buruh Bahas RUU Ketenagakerjaan, Oktober Rampung
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Doyan Semangka Bikin Gula Darah Naik Tinggi, Mitos atau Fakta?
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.