JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan terbaru potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Indonesia untuk periode 14-20 Agustus 2026.
Ada perubahan mencolok dalam prakiraan kali ini dibandingkan prakiraan sebelumnya. Tidak ada satu pun wilayah yang masuk kategori Frequent (FRQ) atau memiliki cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
Meski demikian, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan 50-75 persen, masih terdeteksi di sejumlah wilayah daratan dan perairan Indonesia.
Berdasarkan data terbaru BMKG, kategori FRQ (>75 persen) tidak tercatat di wilayah mana pun untuk periode 14-20 Agustus 2026.
Baca Juga: BMKG Ungkap Potensi Awan Cumulonimbus 13-19 Agustus 2026, Samudra Hindia Barat Nias Masuk Zona FRQ
Kondisi ini berbeda denbgan dua periode sebelumnya. Pada periode 8-14 Agustus 2026, Samudra Hindia barat Bengkulu masuk kategori FRQ.
Kemudian pada periode 13-19 Agustus 2026, zona FRQ bergeser ke Samudra Hindia barat Kepulauan Nias.
Kini, untuk periode 14-20 Agustus 2026, kategori FRQ tidak lagi tercantum.
Namun, nihilnya kategori FRQ bukan berarti tidak ada potensi awan Cumulonimbus maupun hujan di Indonesia.
Data tersebut menunjukkan tidak ada wilayah yang diprakirakan memiliki cakupan spasial maksimum Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
Wilayah Zona OCNL Masih TersebarBMKG masih mencatat sejumlah wilayah dengan kategori OCNL, yakni cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus antara 50-75 persen.
Baca Juga: BMKG Ungkap 4 Langkah Hadapi Karhutla 2026, dari Patroli hingga Masker N95
Berikut wilayah daratan yang masuk zona OCNL:
- Aceh
- Bengkulu
- Riau
- Sumatera Barat
- Sumatera Utara
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Utara
- Sulawesi Barat
- Sulawesi Tengah
- Papua
- Papua Pegunungan
- Papua Tengah
Sementara itu, sejumlah wilayah perairan juga masuk kategori OCNL. Berikut rinciannya:
Baca Juga: BMKG: Waspada Gelombang Tinggi 2,5-4 Meter di Perairan DI Yogyakarta hingga Minggu, Cek Detailnya
- Laut Jawa bagian timur
- Laut Natuna Utara
- Laut Sulawesi bagian barat
- Samudra Hindia barat Aceh
- Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
- Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
- Samudra Pasifik utara Papua
- Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
- Selat Karimata bagian utara
- Selat Makassar bagian utara
- Selat Malaka bagian tengah
- Selat Malaka bagian utara
BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum menjadi tiga kategori.
- ISOL (Isolated) berarti awan Cumulonimbus memiliki cakupan area kurang dari 50 persen.
- OCNL (Occasional) berarti cakupan area awan Cumulonimbus berkisar 50-75 persen.
- FRQ (Frequent) menunjukkan cakupan area awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
Kategori-kategori tersebut menggambarkan cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus, bukan secara langsung menunjukkan peluang atau intensitas hujan di suatu wilayah.
Informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus tersebut merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan yang dihasilkan dari model cuaca numerik.
Baca Juga: Peringatan Dini Cuaca BMKG Besok 14-15 Agustus 2026: Ini Daftar Wilayah Hujan Lebat dan Angin
Produk tersebut digunakan untuk memperoleh informasi mengenai sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah Indonesia dan berlaku untuk tujuh hari ke depan.
Masyarakat Diminta WaspadaMeskipun tidak ada wilayah yang masuk kategori FRQ, masyarakat tetap perlu memantau perkembangan cuaca, khususnya di wilayah yang masuk kategori OCNL.
Nelayan dan pelaku transportasi laut juga disarankan memperhatikan prakiraan cuaca terkini sebelum beraktivitas di perairan, terutama di kawasan yang masuk daftar OCNL.
Masyarakat juga tidak disarankan menganggap nihilnya kategori FRQ sebagai kondisi tanpa risiko cuaca.
Perubahan cuaca dapat terjadi secara cepat dan informasi prakiraan dapat diperbarui sesuai perkembangan kondisi atmosfer.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG DKI Jakarta Besok Jumat 14 Agustus 2026, Didominasi Cerah Berawan
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- BMKG
- awan Cumulonimbus
- potensi awan Cumulonimbus
- prakiraan cuaca BMKG
- awan CB
- cuaca ekstrem





