Ketika dilantik sebagai Rektor Universitas Diponegoro (Undip) pada 29 April 2024 lalu, Prof Suharnomo berkomitmen mewujudkan Undip bermartabat sekaligus Undip bermanfaat. Komitmen ini berangkat dari kegelisahan tentang minimnya kontribusi universitas kepada masyarakat. Padahal, masalah di masyarakat semakin banyak.
”Kok, kampus tidak banyak berkontribusi, ya? Sedangkan masalah di masyarakat itu makin lama makin banyak. Kok, kayaknya masyarakat menyelesaikan masalahnya sendiri?,” kata Suharnomo, Kamis (6/8/2026), di Kampus Undip, Semarang, Jawa Tengah.
Menurut Suharnomo, universitas kadang mengalami megalomania. Kampus merasa keren dengan segala risetnya. Jumlah inovasi juga berlimpah, meski pada akhirnya hanya tertimbun menumpuk.
”Lha, pasar (ternyata) enggak menerima. Ini untuk apa, sih? Ya, karena tidak in line, enggak relevan dengan industri,” paparnya.
Supaya produk-produk inovasi kampus relevan dengan kebutuhan masyarakat, perlu ada perubahan paradigma. Dulu, sivitas akademika belajar dan menimba ilmu, kemudian membuat riset, tetapi tidak berpikir setelah ini hasilnya untuk apa.
Sekarang, paradigma itu dibalik. Kampus turun ke pasar, ke industri, ke perusahaan, dan ke masyarakat untuk melihat masalah-masalah yang ada di sana. Aneka macam permasalahan itu kemudian dibawa lagi ke kampus, diteliti di laboratorium kampus, dicari solusinya, kemudian dilempar lagi ke pasar, industri, perusahaan, dan masyarakat.
”Jadi, sekarang ini kita sudah mulai membuat riset (berbasis) penugasan. Kalau dulu, mohon maaf, agak asal sehingga tidak ada tujuan yang jelas. Tetapi, kita sekarang melakukan riset untuk tujuan tertentu,” terang Suharnomo.
Universitas kadang mengalami megalomania. Kampus merasa keren dengan segala risetnya. Jumlah inovasi juga berlimpah meski pada akhirnya hanya tertimbun menumpuk.
Dalam hal riset, Undip membuat sejumlah terobosan pada pengembangan teknologi pangan, pengolahan air, dan pembuatan produk-produk alat kesehatan. Lokasi kampus yang berada di kawasan pantai utara (pantura) Jawa menuntut Undip untuk bisa menghasilkan temuan-temuan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat pantura Jawa.
Salah satu tantangan masyarakat pantura Jawa adalah bencana rob. Genangan air laut yang berulangkali muncul mengakibatkan tanaman padi sulit hidup. Dari tantangan ini, kemudian lahir inovasi Padi Salin yang diinisiasi Prof Florentina Kusmiyati. Padi Salin adalah tanaman padi unggul yang bisa dibudidayakan di kawasan pesisir.
Masih soal tantangan di kawasan pantura Jawa. Prof I Nyoman Widiasa juga menemukan teknologi desalinasi tenaga surya. Teknologi ini bertujuan untuk penyediaan air bersih di kawasan pesisir berbasis energi terbarukan.
”Tahun 2017, Prof Nyoman sudah melakukan penelitian tentang water treatment, tetapi belum banyak orang tahu. Kemudian, kami menggiatkan pemasaran dan baru orang mulai tertarik. Saya undang orang dan bilang, kami punya di Jepara dengan kapasitas 200.000 liter per hari. Begitu diketahui oleh publik, akhirnya (mereka) yang dari Brebes, Pemalang, Pekalongan, Demak, sampai Rembang juga minta. Ada sebagian yang didanai pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kementerian, swasta, dan lain sebagainya. Sekarang semakin banyak permintaan,” tambah Suharnomo.
Untuk membangun ketahanan pangan masyarakat, Prof Muhammad Nur mengembangkan D’Ozone, sebuah teknologi plasma untuk meningkatkan kualitas dan memperpanjang masa simpan produk hortikultura. Temuan ini menarik karena bisa mengawetkan sayuran dari tiga hari menjadi tiga bulan, bahkan sampai enam bulan.
Khusus di lingkungan internal kampus, Undip sudah mampu memenuhi kebutuhan air minum dengan inovasi Voca Water. Voca Water adalah air minum murni berkualitas, higienis, dan berstandar kesehatan yang diproduksi oleh Teaching Factory Sekolah Vokasi Undip.
Sekolah Vokasi Undip juga menghasilkan banyak inovasi unik, salah satunya Electric Solar Vehicle Green Automotive, kendaraan nol emisi yang telah diproduksi dalam beberapa varian. Para dosen dan mahasiswa di sana juga mengembangkan aneka macam produk tepat guna.
Selain inovasi terkait pangan, Undip juga melakukan terobosan dalam produksi alat kesehatan, antara lain bone graft (cangkok tulang) dan alat hemodialisis atau cuci darah. Keduanya tinggal menunggu izin edar.
Hingga saat ini, Undip telah memiliki hampir 300 guru besar. ”Ini keren secara kelembagaan. Tapi, kami akan lebih senang lagi kalau produk Bapak, Ibu (guru besar) masuk ke masyarakat,” tambah Suharnomo.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dalam kegiatan Indonesia Innovator Award dan Indonesia Innovator Lecture 2026, sekaligus peluncuran Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (PRIMA) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin (10/8/2026), mengatakan, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membangun jalur antara hasil riset dan pengembangan perusahaan hingga menjadi industri. Maka dari itu, penguatan ekosistem yang mempertemukan antara perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan industri menjadi penting agar hasil riset dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
”Yang perlu kita bangun dengan kuat adalah bagaimana membuat jalan yang menghubungkan antara penemuan menjadi perusahaan, dan perusahaan menjadi industri. Sebagai peneliti, kita tahu valley of death atau lembah kematian ada di sana,” ujar Brian.





