REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mengungkap dugaan penyebab macan kumbang jantan berusia 10 tahun memasuki permukiman warga di Dukuh Ngasinan, Desa Gunungsari, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Menurut mereka, hal itu terjadi akibat faktor kekeringan. Macan pun ditemukan dalam bobot rendah, yakni 25 kilogram.
“Karena kondisi sekarang musim kemarau, memungkinkan satwa cari pakan lebih jauh, turun dari habitatnya,” ungkap Kepala BKSDA Jateng Dyah Sulistyasari ketika diwawancara soal masuknya macan kumbang ke perkampungan Dukuh Ngasinan, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga
Indramayu Dilanda Kekeringan, Bupati Lucky Hakim Ajak Warganya Sholat Istisqo Minta Hujan
31 Kecamatan di Kabupaten Bogor Kekeringan, Pemkab Salurkan 1,8 Juta Liter Air Bersih
Sejumlah Daerah Sudah Siaga Darurat Kekeringan tapi BPBD DIY Tak Punya Anggaran Dropping Air
Menurut Dyah, habitat macan kumbang tersebut berada di hutan Gunung Prau. Dia berpendapat, keberadaan macan kumbang merupakan penanda bahwa kawasan hutan masih terjaga. Sebab macan kumbang merupakan predator puncak dalam rantai makanan.
Dyah mengungkapkan, sepanjang Januari-Juli 2026, pihaknya sudah menerima laporan tentang masuknya macan ke perkampungan atau permukiman warga di Jateng. Namun, selain di Batang, dia enggan mengungkap di daerah mana saja ditemukan kasus semacam itu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Dyah, selain macan, terdapat pula aduan soal masuknya satwa liar lainnya ke perkampungan penduduk. “Jadi tidak hanya macan, ada monyet ekor panjang juga. Tapi beberapa (aduan) sudah penanganan,” ujarnya.
Terkait masuknya macan kumbang di perkampungan Dukuh Ngasinan Batang, Dyah mengatakan pihaknya bakal berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Perhutani untuk menjaga kelestarian alam serta hutan di sana. “Di sana kan arahnya pembukaan wisata, padahal di sana tidak hanya ada macan kumbang, melainkan juga ada owa Jawa,” ucapnya.