Karawang, VIVA – Membonceng anak naik sepeda motor sering dianggap sebagai aktivitas biasa. Helm pun terkadang hanya dipandang sebagai syarat agar tidak ditilang. Padahal, bagi anak yang duduk sebagai penumpang, perlindungan kepala menjadi salah satu hal penting ketika terjadi kecelakaan.
Persoalannya bukan hanya soal ada atau tidaknya helm. Ukuran yang terlalu besar, tali yang tidak dikunci dengan benar, hingga kualitas helm yang diragukan bisa membuat perlindungan menjadi tidak maksimal.
Gambaran mengenai perbedaan kualitas helm tersebut terlihat dalam edukasi keselamatan jalan raya di SDN Kutanegara II, Karawang, Jawa Barat, Kamis.
Para siswa diperlihatkan uji benturan atau impact test yang membandingkan dua helm. Salah satunya merupakan helm berstandar SNI asli, sedangkan lainnya merupakan helm yang menggunakan label SNI secara tidak semestinya.
Hasil pengujian menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Setelah menerima benturan, helm pembanding mengalami kerusakan parah hingga terbelah, sementara bagian visornya ikut pecah. Helm SNI yang menjadi pembanding hanya mengalami goresan dan visornya tetap tidak pecah.
Demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa tampilan helm yang sekilas mirip belum tentu memberikan perlindungan yang sama. Karena itu, orang tua tidak seharusnya memilih helm anak hanya berdasarkan harga atau desain yang disukai.
Ukuran juga menjadi persoalan tersendiri. Helm yang terlalu longgar berpotensi bergeser ketika anak bergerak atau kendaraan mengalami benturan. Sebaliknya, helm yang terlalu sempit juga tidak nyaman digunakan dalam perjalanan.
Selain itu, tali pengaman harus dikunci dengan benar. Dalam edukasi tersebut, siswa diajarkan memasang tali helm hingga terdengar bunyi klik. Visor juga perlu digunakan untuk membantu melindungi area wajah dari debu maupun benda kecil selama perjalanan.
Aipda Syarif Hidayat dari Satlantas Polresta Karawang turut memberikan edukasi kepada para siswa. Polisi yang dikenal melalui media sosial sebagai Polisi Arif Karawang itu menjelaskan sejumlah hal dasar yang perlu diperhatikan ketika menggunakan helm.
Kebiasaan tersebut penting karena anak tidak selalu menjadi pengendara. Mereka lebih sering berada di posisi penumpang ketika bepergian bersama orang tua atau menggunakan layanan transportasi roda dua.





