Presiden Prabowo Subianto menyebut ingin mengoptimalkan pendapatan negara. Menurutnya, ada beberapa cara yang akan pemerintah lakukan, antara lain dengan menekan kebocoran penerimaan dan melanjutkan efisiensi belanja.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam agenda penyampaian Rancangan APBN 2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Awalnya, Prabowo menjelaskan, RAPBN 2027 akan difokuskan pada 8 Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), yakni: kedaulatan pangan; kemandirian energi dan air; pendidikan; kesehatan; hilirisasi dan industrialisasi; infrastruktur, perumahan, dan ketahanan bencana; penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa; serta penurunan kemiskinan.
"Delapan prioritas tersebut didukung oleh penguatan pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, percepatan digitalisasi, dan diplomasi ekonomi," ujar Prabowo.
Agar seluruh agenda itu bisa terlaksana, Prabowo menyebut, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp 3.426 triliun. Pembiayaan direncanakan sebesar Rp 671,2 triliun dengan defisit sebesar 2,40 persen terhadap PDB.
"Pertumbuhan ekonomi tahun 2027 ditargetkan mencapai 6 persen. Lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4 persen," tutur Prabowo.
Kemudian, inflasi akan dijaga pada 2,5 persen. Sementara suku bunga SBN 10 tahun ditargetkan 6,9 persen. Nilai tukar dolar AS berada pada kisaran Rp 17.500 per satu dolar.
"Angka-angka tersebut akan kita jaga dengan reformasi fiskal yang holistik dan konsisten. Pendapatan negara didorong lebih optimal. Kebocoran penerimaan harus diminimalisasi, efisiensi belanja terus dilanjutkan," tutur Prabowo.
"Perlindungan sosial didorong semakin tepat sasaran, serta pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan terus dikembangkan," lanjutnya.





