Washington (ANTARA) - Militer Amerika Serikat (AS) mengirim kapal induk baru ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln, yang telah dikerahkan selama lebih dari 250 hari untuk mendukung perang melawan Iran, demikian dilaporkan media AS mengutip keterangan sejumlah pejabat.
USS George Washington, "kapal induk garis depan utama" Angkatan Laut AS di kawasan Pasifik, terlihat melintasi Selat Malaka, yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, pada Kamis (13/8).
Seorang pejabat angkatan laut mengonfirmasi kepada USNI News, portal berita dan analisis daring milik Institut Angkatan Laut AS, bahwa kapal induk itu sedang bergerak ke arah barat setelah melintasi Selat Singapura.
Pengerahan ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kondisi di atas kapal Lincoln, termasuk laporan mengenai krisis pasokan dasar, kontaminasi air, masalah pipa, masalah keselamatan dek, gangguan layanan surat-menyurat, serta memburuknya kesehatan mental para awak kapal.
Senator Richard Blumenthal mengatakan kapal Lincoln sama sekali belum singgah di pelabuhan selama 200 hari dalam masa penugasan yang diperpanjang di tengah konflik dengan Iran, mencetak rekor periode terlama di laut.
Di tengah ketegangan perang, militer AS telah kehilangan sekitar 25 persen armada drone MQ-9 Reaper miliknya, menurut laporan The Washington Post pada Kamis yang mengutip tiga pejabat AS.
Harga setiap drone bisa mencapai 30-50 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.882), bergantung pada jenis sensor dan senjata yang dibawanya, sehingga total nilai kerugian militer AS mencapai lebih dari 1,3 miliar dolar AS, sebut laporan itu.
USS George Washington, "kapal induk garis depan utama" Angkatan Laut AS di kawasan Pasifik, terlihat melintasi Selat Malaka, yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, pada Kamis (13/8).
Seorang pejabat angkatan laut mengonfirmasi kepada USNI News, portal berita dan analisis daring milik Institut Angkatan Laut AS, bahwa kapal induk itu sedang bergerak ke arah barat setelah melintasi Selat Singapura.
Pengerahan ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kondisi di atas kapal Lincoln, termasuk laporan mengenai krisis pasokan dasar, kontaminasi air, masalah pipa, masalah keselamatan dek, gangguan layanan surat-menyurat, serta memburuknya kesehatan mental para awak kapal.
Senator Richard Blumenthal mengatakan kapal Lincoln sama sekali belum singgah di pelabuhan selama 200 hari dalam masa penugasan yang diperpanjang di tengah konflik dengan Iran, mencetak rekor periode terlama di laut.
Di tengah ketegangan perang, militer AS telah kehilangan sekitar 25 persen armada drone MQ-9 Reaper miliknya, menurut laporan The Washington Post pada Kamis yang mengutip tiga pejabat AS.
Harga setiap drone bisa mencapai 30-50 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.882), bergantung pada jenis sensor dan senjata yang dibawanya, sehingga total nilai kerugian militer AS mencapai lebih dari 1,3 miliar dolar AS, sebut laporan itu.





