KUPANG, KOMPAS - Gempa tektonik dengan kekuatan magnitudo 7,7 terjadi di Laut Flores berpotensi menimbulkan tsunami. Pusat gempa sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbai, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur itu terasa guncangan hingga di seluruh wilayah Pulau Flores dan sekitarnya.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) menjelang pukul 06.00 Wita itu diikuti beberapa gempa susulan. BMKG terus melaporkan gempa susulan. Belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab gempa.
Beredar foto dan video yang menggambarkan tentang kepanikan warga yang mengamankan diri di luar bangunan. Ada juga video kerusakan bangunan yang timbul akibat gempa. Di antaranya rumah dan fasilitas publik.
"Goyangan besar sekali. Kami sampai mual. Sampai sekarang masih goyang terus," kata Vicko Raga Mudja, warga Mauponggo, Negekeo. Daerah itu tak jauh dari pusat gempa.
Kompas berusaha menghubungi sejumlah warga pesisir di Marpokot, Nagekeo, pesisir paling dekat dengan pusat gempa. Sayangnya, belum tersambung. "Kami paling khawatir dengan nasib mereka," ucap Vicko.
Emilia Oma, warga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat mengatakan, gempa terasa cukup kuat. Serasa seperti dalam ayunan. Banyak orang berlari ketakutan. Labuan Bajo berada di ujung barat Flores.
Panus Kopong, warga di Pulau Adonara mengatakan, gempa pertama diikuti gempa susulan. Mereka tak menghitungnya. Adonara berada di sebelah timur Pulau Flores.
Hingga saat ini belum ada informasi ada tidaknya tsunami di wilayah pesisir utara Flores. Belum ada juga laporan mengenai ada tidaknya korban yang timbul.
Kompas.id akan terus melaporkan dan memperbaharui informasi dan data terkait gempa magnitudo 7,7 berpotensi tsunami yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.





