Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Bambang Patijaya mengapresiasi upaya PT PLN (Persero) dalam mengoptimalkan pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) atau abu sisa pembakaran batubara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Bangka Belitung (Babel) menjadi produk bernilai guna, khususnya untuk mendukung sektor pertanian dan konservasi lingkungan.
Apresiasi tersebut disampaikan Bambang saat melakukan kunjungan ke PLTU Air Anyir, Kamis (13/8). Dalam kunjungan tersebut, Bambang didampingi Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo dan General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan (UIK) Dwipantara, Rita Triani.
Bambang menilai pemanfaatan FABA perlu terus dikembangkan karena mampu menjawab sejumlah kebutuhan sekaligus, mulai dari pengelolaan pemulihan lahan pascatambang, peningkatan produktivitas pertanian, hingga penciptaan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
"Kami mengapresiasi inovasi pemanfaatan FABA yang dilakukan PLN. FABA yang tadinya merupakan residu, ternyata bisa kita gunakan untuk pupuk. Pupuk yang dihasilkan ini bagus, hasilnya juga menunjukkan yang menggembirakan, kemudian biayanya murah. Ini sangat bagus dengan judul yang namanya pemberdayaan dan ketahanan pangan," ujar Bambang, dikutip Sabtu (15/8/2026).
Menurut Bambang, pengembangan pemanfaatan FABA untuk sektor pertanian juga sejalan dengan agenda Pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan nasional. Pemanfaatan sumber daya lokal untuk meningkatkan produktivitas lahan diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan sektor pertanian, termasuk di Bangka Belitung.
"Swasembada pangan ini jadi agenda strategis nasional. Untuk itu, kami berharap kita dapat menjadikan pemanfaatan FABA ini jadi satu program nasional, bahwa PLN dapat melakukan optimalisasi, hilirisasi daripada FABA itu untuk mendukung ketahanan pangan," tambahnya.
Selain manfaat lingkungan dan pertanian, Bambang mendorong agar pengembangan ekosistem pemanfaatan FABA turut melibatkan lebih banyak sumber daya manusia dan pelaku usaha lokal. Menurutnya, masyarakat tidak hanya perlu menjadi penerima manfaat, tetapi juga dapat terlibat dalam rantai nilai pemanfaatan FABA.
"Yang tidak kalah penting adalah bagaimana program ini mampu menggerakkan SDM lokal. Kita ingin masyarakat Bangka Belitung terlibat, memiliki kompetensi, dan mendapatkan nilai ekonomi dari proses pemanfaatannya. Dengan begitu, ekonomi sirkuler benar-benar tumbuh," katanya.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo mengatakan PLN terus mendorong transformasi pengelolaan FABA menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.
"Pemanfaatan FABA di Bangka menunjukkan efektivitas pengelolaan dan tingginya pemanfaatan oleh masyarakat dalam sektor pertanian, konservasi lingkungan, dan konstruksi," ucap Rizal.
Ia memaparkan, rata-rata pemanfaatan FABA mencapai hampir 90 persen, bahkan dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pemanfaatan FABA tercatat mampu melampaui produksi tahunan.
Selain dimanfaatkan untuk pertanian, FABA juga digunakan sebagai bahan baku batako dan paving block, stabilisasi lahan, serta media konservasi terumbu karang dan fish shelter di kawasan pesisir Bangka.
"PLN tidak hanya memastikan pembangkit mampu menghasilkan listrik yang andal, tetapi juga bagaimana seluruh proses bisnisnya dapat memberikan manfaat yang lebih luas. FABA memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai guna. Karena itu, kami terus mendorong kolaborasi agar pemanfaatannya memberikan manfaat bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat," ujar Rizal.
Sementara itu dari sektor budidaya pertanian, manfaat FABA tidak berhenti pada konsep ekonomi sirkuler. PLN telah bekerja sama dengan Forum Masyarakat Petani (Formap) Babel selama lebih dari tiga tahun. Melalui kolaborasi tersebut, penyerapan FABA mencapai sekitar 100 ton per bulan, dan sepanjang tahun 2026 telah dihasilkan lebih dari 25 ribu karung pupuk FABA yang didistribusikan ke berbagai wilayah.
Pemanfaatan FABA sebagai pupuk dan pembenah tanah juga terbukti membantu petani menekan biaya produksi hingga 58,3 persen, terutama untuk kebutuhan perbaikan unsur hara dan pengapuran lahan.
General Manager PLN UIK Dwipantara, Rita Triani mengatakan Babel memiliki karakteristik yang membuka peluang besar bagi pengembangan pemanfaatan FABA. Dari sebelumnya abu, kini menjadi harapan bagi petani.
"Bagi petani Bangka Belitung, manfaat FABA tidak berhenti pada konsep ekonomi sirkuler. Material ini dimanfaatkan sebagai pembenah tanah untuk membantu meningkatkan pH lahan yang cenderung asam, sehingga lebih baik untuk budidaya pertanian," ujar Rita.
Rita menambahkan PLN juga membina kelompok "FABA KITE LESTARI", yang mengolah limbah organik menjadi pupuk siap pakai. Program ini melibatkan 25 penerima manfaat, mayoritas berusia di atas 40 tahun, sehingga turut memperkuat ekonomi masyarakat produktif dan pra-lansia di sekitar wilayah operasional pembangkit.
"Kami ingin FABA memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Babel. Tidak berhenti pada pemanfaatan materialnya, tetapi bagaimana dari sana dapat tercipta peluang usaha, meningkatnya kompetensi masyarakat lokal, hingga lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat kembali memberikan manfaat," kata Rita.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Forum Masyarakat Petani Babel, Arif turut mengapresiasi kontribusi PLN kepada masyarakat di Bangka Belitung. "Alhamdulillah sudah ribuan hektar masyarakat menggunakan olahan pupuk dari FABA dan semua petani mengatakan sangat dibutuhkan dan berhasil," ungkap Arif.
Pengembangan FABA untuk sektor pertanian kini memiliki landasan yang semakin kuat dengan terbitnya (SNI) 9387:2025 sebagai pembenah tanah dan bahan baku pupuk untuk tanaman. Kehadiran standar tersebut menjadi salah satu landasan pengembangan pemanfaatan FABA secara aman, terukur, dan berkelanjutan.
(rah/rah)




