Tanggap Darurat Gempa NTT, Pemerintah Prioritaskan Penyelamatan Korban

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Koordinasi terkait tanggap darurat bencana gempa di wilayah Nusa Tenggara Timur terus diperkuat dari lintas kementerian dan lembaga. Setidaknya 38 jiwa dilaporkan meninggal dunia dengan lebih dari 2.000 jiwa mengungsi akibat gempa tersebut. Pemerintah pun kini memfokuskan upaya penyelamatan jiwa dalam penanganan gempa tersebut.

Deputi V Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Lilik Kurniawan dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Sabtu (15/8/2026) mengatakan, penyelamatan nyawa manusia menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana gempa yang terjadi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

“Yang diutamakan adalah penyelamatan. Jadi, penyelamatan manusia, masyarakat yang terdampak ini segera dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, tidak hanya pemerintah daerah saja, tetapi juga didukung dari masyarakat, relawan, dan semua pihak,” katanya.

Baca JugaKapolda NTT: Evakuasi Korban Gempa Flores Jadi Prioritas Utama
Baca JugaBNPB: 38 Orang Tewas, Ribuan Warga Mengungsi akibat Gempa NTT

Lilik menyebutkan, proses evakuasi warga yang masih terjebak di beberapa bangunan yang runtuh akibat gempa menjadi sasaran awal dari seluruh tim di lapangan. Pihak Badan SAR Nasional, BNPB, TNI, dan Polri diminta untuk segera bergerak mencari dan menolong korban yang belum berhasil dievakuasi.

Jadi penyelamatan manusia, masyarakat yang terdampak ini segera dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak.

Ia menambahkan, prioritas selanjutnya pada pemulihan fasilitas kebutuhan dasar yang terdampak gempa. Itu terutama akses jalan yang terputus, bandara, sejumlah terminal, pelabuhan, fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, dan layanan dasar lainnya.

Kebutuhan logistik

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan dan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, posko penanggulangan bencana akan segera diaktifkan di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota terdampak. Seluruh penanganan gempa di NTT akan dikoordinasikan dan didukung pemerintah pusat lewat koordinasi dari BNPB.

Dukungan logistik dasar bagi masyarakat terdampak gempa segera disediakan. Adapun kebutuhan mendesak saat ini, meliputi bahan makanan, air bersih, tenda tempat berlindung, dan genset.

“Tentu saja kondisi di lapangan masih kurang. Ini terus akan didorong,” katanya.

Ia menambahkan, Kementerian Sosial dalam satu hingga dua hari ke depan akan menggeser bantuan logistik dari kabupaten-kabupaten sekitar yang terdampak ringan atau tidak terdampak. Wilayah Flores Timur disebut masih memiliki cadangan logistik yang dapat segera dikirimkan. Cadangan tersebut sebelumnya disiapkan untuk korban letusan Gunung Lewotobi Laki-laki.

Selain itu, bantuan tambahan dari Presiden akan dikirimkan ke wilayah terdampak. Bantuan tersebut berupa 50.000 paket sembako yang dijadwalkan akan dikirimkan dalam satu hingga dua hari mendatang.

Baca JugaGempa Bermagnitudo 7,7 Guncang Utara Flores
Baca JugaRentetan Gempa di Flores Timur dan Konstruksi Tahan Gempa yang Dilupakan

BNPB pun telah menyiapkan dua unit helikopter dan satu pesawat bersayap tetap (fixed wing). Sejumlah pesawat untuk kebutuhan darurat disiagakan pula lewat Kementerian Perhubungan. Jika dibutuhkan, armada tambahan dari TNI, Polri, dan Basarnas dapat digunakan.

“Nanti setelah kami datang di lapangan melihat situasi yang sebenarnya, kemudian melaksanakan asesmen, melaksanakan pengumpulan keterangan, baru kita bisa menginformasikan (kondisi) secara jelas dan rinci kepada masyarakat,” tutur Suharyanto.

Ia menambahkan, pemulihan jalur komunikasi di wilayah terdampak gempa turut menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah telah menyiapkan alat komunikasi cadangan berupa Starlink untuk mengantisipasi adanya gangguan jaringan komunikasi.

Pemulihan jalur transportasi pun menjadi prioritas lain. Sejumlah ruas jalan di beberapa wilayah dilaporkan tertutup material longsor akibat gempa.

Korban

Data terbaru BNPB hingga pukul 15.00 WIB mencatat setidaknya 38 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut. Selain itu, dua orang dilaporkan mengalami luka berat dan 11 orang luka ringan. Sekitar 2.000 jiwa telah mengungsi secara mandiri ke lokasi yang lebih aman.

Suharyanto menyampaikan, data korban akan terus berkembang seiring proses pendataan di lapangan. Pembaruan data resmi akan disampaikan setiap hari melalui konferensi pers pada sore hari.

Secara rinci, korban jiwa ditemukan sebanyak tiga orang di Kabupaten Sikka, 16 orang di Kabupaten Manggarai, 17 orang di Kabupaten Manggarai Timur, satu orang di Kabupaten Ende, dan satu orang di Kabupaten Manggarai Barat.

Baca JugaPeringatan Tsunami Pascagempa NTT Dihentikan
Baca JugaKerusakan dan Kepanikan akibat Gempa Magnitudo 7,7 di Flores

Dari laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa susulan masih terjadi di wilayah Pulau Flores, NTT. Sebanyak 235 kali aktivitas gempa susulan (aftershocks) terjadi hingga pukul 14.00 WIB pasca gempa tektonik utama di utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Aktivitas gempa susulan tersebut berada di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo 2,5 hingga 6,2. Sebanyak empat gempa susulan tercatat memiliki kekuatan signifikan di atas magnitudo 5.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, tren gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan yang signifikan. Berdasarkan kondisi dan riwayat di wilayah tersebut, sesar membutuhkan waktu tertentu untuk kembali normal.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” tuturnya.

Faisal menyampaikan, gempa yang terjadi di NTT ini merupakan jenis gempa dangkal yang timbul dari aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Struktur Flores Back Arc Thrust tersebut menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang.

Namun, pada gempa kali ini, pusat gempa berada pada kedalaman yang dangkal sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang cukup berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Ia pun mengimbau agar masyarakat bisa tetap tenang dan waspada. Hindari bangunan yang retak dan rusak akibat gempa bumi. Bangunan-bangunan yang tidak dapat digunakan kembali akibat gempa akan diinformasikan secara detail setelah survei menyeluruh dilakukan.

“Kita ketahui bangunan-bangunan rusak sudah mengalami guncangan dengan 7,7 magnitude. Kita khawatirkan dengan gempa (susulan) yang lebih rendah magnitudo-nya, (bangunan) ini dapat mengalami kerusakan yang lebih parah,” kata Faisal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar 14 Daerah Berstatus Waspada Tsunami Usai Gempa M 7,7 NTT
• 14 jam laluliputan6.com
thumb
Musim Tanam Tiba, Nagan Raya Manfaatkan TKD untuk Rehabilitasi Sawah Terdampak
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Kabar Terbaru Kebakaran Bromo: Titik Api TNBTS Padam, Kapan Kawasan Wisata Dibuka Kembali?
• 9 jam laludisway.id
thumb
Warga Berburu Hadiah Lomba 17-an di Pasar Jatinegara, Rogoh Kocek Rp 2 Juta
• 7 jam laludetik.com
thumb
Prabowo Sebut 3 Juta Keluarga Sudah Terdaftar Digitalisasi Bansos
• 22 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.