Berbekal waktu dan tenaga, Kristina Iin Dwiyanti atau yang akrab disapa Iin memilih datang dan mengajar ke Sekolah Alternatif Anak Jalanan (Saaja). Padahal tak ada gaji tetap yang bisa menghidupinya.
Bahkan, ketika kebutuhan sekolah menjadi prioritas sementara dana untuk kebutuhan tidak ada, ia terkadang harus merogoh kocek dari uang pribadinya.
Namun bagi perempuan 47 tahun itu, meninggalkan Saaja bukan pilihan. Ada anak-anak di dalamnya yang masih menunggunya membagi belajar.
Perjalanan Iin di Saaja bermula jauh sebelum ia menjadi kepala sekolah dan pengajar. Awalnya, ia datang sebagai relawan dan belajar langsung dari pendiri Saaja, (alm) Farid Faqih. Saat itu, Iin bahkan tidak memiliki latar belakang sebagai guru.
Pendidikan terakhirnya adalah SMK jurusan sekretaris. Tetapi dari keterlibatannya sebagai relawan, Iin perlahan belajar tentang bagaimana mendampingi anak-anak dan menjalankan berbagai program yang dibuat almarhum Farid.
“Dasarnya itu pun saya sebenarnya juga bukan seorang pengajar. Jadi saya terakhir pendidikan itu SMK jurusan sekretaris. Jadi banyak ilmu yang diberikan oleh almarhum Farid Faqih kepada saya,” kata Iin saat ditemui, Sabtu (15/8).
Dari sana, perannya di Saaja perlahan berkembang. Ia mengikuti berbagai kegiatan yang dibuat Farid hingga akhirnya memahami bagaimana sekolah tersebut mendampingi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Saaja sendiri bermula dari tempat belajar sederhana. Pada 2002, kegiatan belajar mengajar dilakukan di bekas posko banjir yang hanya berbentuk seperti gubuk. Dari ruangan sederhana itu, anak-anak mulai datang untuk belajar.
“Jadi kalau di awal berdiri di tahun 2002 itu sebenarnya tempat belajar yang kami gunakan itu adalah sebuah tempat yang dibilang cuma semacam kayak gubuk. Karena waktu itu kita LSM itu buat posko, posko banjir di tahun 2002. Nah setelah posko program banjir itu berakhir, posko itu akhirnya kita gunakan untuk kegiatan belajar mengajar,” kata Iin.
Saat awal berdiri, jumlah murid yang didampingi hanya sekitar enam hingga tujuh anak. Mereka merupakan anak-anak yang sehari-hari berada di jalan, termasuk berjualan asongan dan ikut orang tua menjadi joki three in one.
"Waktu awal berdiri itu muridnya kalau nggak salah sekitar enam atau tujuh anak. Kalau yang awal-awal itu benar-benar anak jalanan yang memang mereka kesehariannya itu ngasong di depan Pasar Festival. Kemudian ada juga yang kalau dulu itu kan ada istilahnya joki, joki three in one dulu kan kalau masuk kawasan Sudirman sampai Thamrin kan harus tiga orang atau lebih. Nah, itu mereka kadang ikut orang tuanya jadi joki three in one," tambah Iin.
Keterlibatan Iin pada masa awal mengabdi belum sepenuhnya sebagai pengelola Saaja. Ia masih menjalankan tugas lain bersama organisasi yang didirikan Farid. Namun keadaan berubah sejak Farid wafat.
Kepergian sang pendiri membuat keberlangsungan Saaja menjadi persoalan. Sejumlah relawan memilih mundur karena kegiatan di Saaja memang berbasis sosial dan tidak menjanjikan penghasilan tetap.
Di tengah kondisi tersebut, Iin melihat bahwa masyarakat masih membutuhkan keberadaan Saaja sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak jalanan. Sehingga Iin pun memilih meneruskan estafet yang ditinggalkan Farid.
"Ketika beliau wafat, kemudian Saaja ini ternyata masih banyak dibutuhkan masyarakat, sehingga itu yang akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan estafet kepengurusan di Saaja ini," ujar Iin
"Kemudian juga banyak teman-teman juga yang sudah mundur karena istilahnya kita bener-bener sosial gitu ya. Itu akhirnya memutuskan saya mau tidak mau bagaimana melanjutkan keberlangsungan Saaja ini agar masyarakat masih bisa merasakan dampak dari apa yang kita berikan untuk anak-anak keluarga prasejahtera," Iin menambahkan.
Keputusan itu membawa Iin pada perjalanan baru. Dari seorang relawan, ia kemudian mengambil peran lebih besar hingga kini menjadi guru sekaligus kepala sekolah Saaja.
Bertahan Meski Tak DigajiMenjaga Saaja tetap berjalan ternyata bukan perkara mudah. Usai kepergian Farid, persoalan yang sebelumnya banyak ditangani sang pendiri harus ikut dipikirkan oleh pengelola.
Saaja tidak memiliki donatur tetap. Dana yang datang pun tidak selalu tersedia dan harus diprioritaskan untuk kebutuhan anak-anak, mulai dari buku, vitamin, hingga sarana bermain.
Di tengah keterbatasan itu, Iin memilih memastikan kegiatan belajar anak-anak tidak berhenti. Bahkan ketika hanya memiliki uang Rp 10 ribu, ia tetap berusaha datang ke Saaja untuk mengajar.
“Meskipun saya hanya punya uang sepuluh ribu, tapi bagaimana saya bisa sampai ke Saaja untuk mengajar anak-anak,” tuturnya.
Baginya, persoalan transportasi tidak boleh menjadi alasan anak-anak kehilangan kegiatan belajar.
“Yang penting kegiatan ini kegiatan untuk anak-anak ini tidak terputus,” ungkap Iin.
Kebutuhan sekolah yang tak bisa ditutup dari dana donasi pun terkadang harus ia tanggung sendiri. Lampu hingga kebutuhan kecil lainnya pernah dibeli menggunakan uang pribadi.
“Ya banyak sih, kadang ya untuk kayak lampu, kayak apa gitu. Kalau misalkan memang tidak ada dana masuk ya mau nggak mau ya kita pakai uang pribadi,” katanya.
Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, Iin mengandalkan penghasilan suaminya.
"Kalau pemasukan pribadi ya kan saya ikut suami. Suami saya kerja," ungkap Iin.
Namun keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti. Ketika pandemi Covid-19 membuat kegiatan belajar tidak bisa berlangsung seperti biasa, Iin dan pengelola Saaja mencari cara lain agar anak-anak tetap mendapatkan pembelajaran.
“Bahkan pada saat kondisi COVID pun kita pikirkan juga bagaimana anak-anak ini tetap bisa mendapatkan pembelajaran. Jadi meskipun kita datangin ke rumah mereka untuk mengajarkan mereka, ya itu yang kita lakukan,” kata Iin.
Muridnya Jadi Pemicu SemangatLebih dari dua dekade berada di lingkungan Saaja membuat Iin tentu tidak selalu berjalan tanpa lelah. Ia mengakui rasa letih tetap ada.
Tetapi ada hal yang membuat lelah itu terbayar yaitu melihat anak didiknya yang awalnya tidak bisa dan harus diajarkan, kemudian perlahan mampu.
“Ketika melihat anak dari yang tadinya mereka tidak bisa, kemudian dia bisa, berhasil, dan apa yang ilmu yang kita berikan kemudian bisa diimplementasikan dalam kehidupan... itu ya menjadi salah satu ada rasa senang, ada rasa bahagia,” ujar Iin.
Ia tidak mengejar materi dari pekerjaan yang dijalaninya. Justru ia merasa memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada masyarakat.
“Saya ingin dalam hidup saya tuh ada sesuatu yang bisa saya berikan ke masyarakat, yang berguna untuk masyarakat meskipun saya secara materi saya tidak punya,” katanya.
Bagi Iin, Saaja menjadi wadah untuk mewujudkan keinginan itu. Anak-anak yang pernah belajar di sana kemudian menjadi pengingat bahwa waktu dan tenaga yang diberikan tidak benar-benar hilang.
Ada anak yang ketika masuk TK masih menangis ketika diminta menulis dan bahkan memilih bersembunyi di bawah meja. Setelah lulus dan melanjutkan ke SD, anak itu justru mampu masuk lima besar.
Ada pula anak yang sejak TK terlihat menonjol dalam bidang seni. Setelah melanjutkan ke SD, ia mengikuti berbagai perlombaan dan berhasil menjadi juara.
Baginya, setiap anak memiliki perjalanan dan cerita yang berbeda
“Masing-masing anak ada kemampuannya, ada ceritanya sendiri-sendiri,” kata Iin.
Bagi dia juga, keberhasilan itu tidak melulu berupa pencapaian besar. Ketika seorang anak mampu menggunakan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bahkan datang dari seorang alumni yang secara tak sengaja kembali ke Saaja setelah bertahun-tahun berlalu.
Iin menceritakan, Anak itu datang ketika sedang bekerja di sebuah katering yang mendapat pekerjaan di sekitar gedung Nyi Ageng Serang. Saat melihat Saaja, ia masih mengenali tempat tersebut sebagai sekolah tempatnya belajar dahulu.
“Kebetulan catering itu lagi ngisi di sini di gedungnya Nyi Ageng Serang ada pernikahan. Nah terus tiba-tiba anak itu datang ke sini dan dia tuh masih ingat ini sekolah saya dulu,” kata Iin.
Pertemuan singkat itu menjadi salah satu jejak bahwa Saaja pernah memiliki tempat dalam perjalanan hidup anak tersebut.
Menjaga Apa yang Pernah DimulaiKini Iin masih berdiri di tempat yang sama, meneruskan perjuangan yang dulu dimulai Farid. Di tengah segala keterbatasan, ia tidak memiliki banyak hal untuk diberikan. Ia hanya memiliki waktu, tenaga, dan kemauan untuk terus datang.
Dan selama masih ada anak-anak yang membutuhkan tempat untuk belajar, Iin memilih tetap berada di sana.
“Saya merasa saya masih bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat dengan saya mengurus Saaja ini,” ucapnya.
Kalimat itu mungkin sederhana. Namun bagi Iin, puluhan tahun di Saaja adalah cara untuk membuktikannya bahwa sesuatu yang diberikan tanpa berharap imbalan tetap bisa meninggalkan jejak dalam hidup orang lain.





