Sabtu (15/8/2026) pagi jelang pukul 06.00 Wita, Roman (34) menyantap nasi bungkus dengan tangan di Pelabuhan Lorens Say. Baru suapan ketiga, ia merasakan guncangan hebat. Ia pun buru-buru lari keluar gedung, dikejar reruntuhan bangunan yang jatuh mengikuti dari belakang.
Roman berlari menuju dermaga sembari menoleh ke belakang. Dia melihat beberapa orang tertimpa reruntuhan bangunan yang terus bergoyang seperti dahan pohon tertiup angin kencang. Ia sempoyongan dan terjatuh di dermaga pelabuhan yang berlokasi di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu.
"Gempa. Awas tsunami. Lariii…" Begitu teriakan orang-orang dari tempat parkir sambil menghidupkan kendaraan dan meninggalkan tempat itu. Roman hanya punya satu jalan untuk menyelamatkan diri. Dia berupaya menaiki KM Bukit Siguntang yang sedang sandar di dermaga Pelabuhan Lorens Say.
Namun, saat hendak bangun dan menuju kapal itu, tali pengikat kapal di dermaga terlepas. Kapal itu pun bergerak ke tengah laut. Tangga kapal terjungkal ke dalam laut bersama beberapa penumpang. "Saya kehabisan daya. Mau gempa terus atau mau tsunami datang, saya pasrah," kata Roman.
Beberapa saat kemudian, gempa mereda, tsunami pun tidak datang. Roman selamat. Namun, beberapa orang yang berada di pelabuhan itu menjadi korban. Tiga orang meninggal dunia lantaran luka cukup serius, sedangkan beberapa orang lain terluka.
Roman menceritakan ulang kisah tersebut saat ditemui di kompleks Pelabuhan Lorens Say pada Sabtu malam. Ia datang mencari barangnya yang tercecer ketika peristiwa terjadi. Ia pun batal berangkat ke Kupang, NTT. "Saya masih trauma. Hampir saja saya mati pagi tadi," ucapnya.
Berdasarkan pantauan Kompas, jejak para korban masih terlihat di pelabuhan. Di sana, tampak sisa makanan yang tercecer, sandal yang hilang pasangannya, minyak gosok penangkal mabuk laut, pakaian ganti, serta tas dan kardus.
Banyak warga di berbagai sudut Pulau Flores dan sekitarnya terdampak guncangan akibat gempa dengan magnitudo 7,7 yang berpusat di Laut Flores. Guncangan gempa pada Sabtu pagi itu kemudian diikuti gempa susulan yang sudah berjumlah ratusan kali.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa itu. Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menyampaikan, peringatan dini tsunami telah berakhir.
Peringatan dini IV atau pengakhiran dikeluarkan pada pukul 07.30 WIB atau 08.30 Wita. Dengan demikian, peringatan dini tsunami berakhir setelah berlangsung selama 2 jam 31 menit 30 detik sejak gempa terjadi.
Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan informasi resmi BMKG dan arahan petugas di lapangan.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 18.48 WIB, 47 orang meninggal akibat gempa tersebut. Mereka tersebar di Kabupaten Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Manggarai Barat 1 orang, Ngada 1 orang, dan Ende 1 orang.
”Selain korban ini, petugas juga mengevakuasi dan melakukan perawatan medis terhadap para korban luka-luka,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangan tertulis, Sabtu malam.
Pada Sabtu siang, sejumlah pejabat berdatangan ke Maumere, Kabupaten Sikka. Mereka di antaranya Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Kapolda NTT Inspektur Jenderal Rudi Darmoko, Ketua DPRD NTT Emelia Nomleni, dan sejumlah pejabat lain.
Para pejabat tersebut juga menemui para penyintas di Markas Polsek Alok, Sikka. Mereka pun menyerahkan bantuan kepada para korban. "Kami merasa senang karena para pejabat datang menyapa kami," kata Anita (45), salah seorang penyintas.
Menurut Anita, gempa pada Sabtu pagi itu memanggil memori kelam warga tentang gempa besar yang diikuti tsunami di Flores pada 1992. Saat itu, ratusan warga Sikka meninggal.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, kejadian gempa Flores sudah diketahui oleh Presiden Prabowo Subianto. Dia menyebut, kehadiran sejumlah pejabat ke Maumere merupakan simbol kehadiran negara. Bantuan bagi para korban pun mulai dikirimkan.
Melkiades juga mengumandangkan semangat gotong royong untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. ”Kami harap kontraktor yang memiliki alat berat agar mengerahkan untuk membantu proses evakuasi dan pembukaan jalur jalan yang putus,” katanya.
Kepala Polda NTT Inspektur Jenderal Rudi Darmoko pun memerintahkan jajarannya untuk mengerahkan semua sumber daya guna menangani dampak gempa. Fokus saat ini adalah mencari dan menyelamatkan korban serta menangani pengungsi.
Pengalaman berada di antara batas hidup dan mati yang dialami Roman tentu juga dirasakan oleh korban yang lain. Sebagian korban tidak selamat, sedangkan sebagian lainnya hidup dalam bayangan rasa takut hidup di daerah rawan bencana.
Saya masih trauma. Hampir saja saya mati pagi tadi





