JAKARTA, KOMPAS – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026). Akibat bencana itu, setidaknya empat pelabuhan mengalami kerusakan berat, sedangkan tiga pelabuhan lainnya tergolong rusak ringan hingga sedang.
Merujuk data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (16/8/2026) pukul 00.00 WIB, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT berada di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa.
Kabupten Manggarai menyusul dengan jumlah pengungsi mencapai 2.078 jiwa. Ratusan pengungsi lainnya dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, serta dua wilayah di provinsi berbeda, yakni Bima (Nusa Tenggara Barat) hingga Kepulauan Selayar (Sulawesi Selatan).
Imbas musibah itu, sedikitnya tujuh pelabuhan terdampak gempa bumi di wilayah NTT. Dari seluruh pelabuhan tersebut, empat pelabuhan di antaranya mengalami kerusakan berat.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Muhammad Masyhud mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya, empat pelabuhan yang terdampak parah adalah Pelabuhan Laurentius Say, Maumere; Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Manggarai Barat; Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu, Manggarai Barat; serta, Pelabuhan Marapokot, Nagekeo.
Masyhud dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (15/8/2026) malam, menjelaskan, pihaknya telah menginstruksikan kepada seluruh Unit Pelaksana Teknis terdampak untuk meningkatkan monitoring sekurang-kurangnya 24-48 jam.
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap struktur dermaga, trestle, apron, fender, bollard, terminal penumpang, fasilitas listrik/BBM, peralatan bongkar muat, alur pelayaran, dan akses menuju pelabuhan.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar menentukan langkah penanganan dan pengamanan, termasuk memastikan fasilitas yang mengalami kerusakan tidak digunakan sebelum dinyatakan aman.
“Fasilitas yang mengalami keretakan, deformasi, atau indikasi kerusakan struktural, tidak dioperasikan sebelum dinyatakan aman melalui pemeriksaan teknis,” ujar Masyhud.
Pelabuhan Laurentius Say, Masyhud melanjutkan, dermaga dan bagian terminal penumpang roboh akibat guncangan gempa bumi. Saat kejadian, Kapal Motor (KM) Bukit Siguntang sedang sandar di dermaga pelabuhan. Langkah-langkah pengamanan terhadap kapal, penumpang, awak kapal, petugas, serta area pelabuhan sudah dilakukan.
Pelabuhan Labuan Bajo mengalami kerusakan pada kantor dan terminal penumpang berupa keretakan tembok dan dermaga. Masih dalam wilayah yang sama, Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu mengalami keretakan pada tembok bangunan kantor dan gudang.
“Dampak terhadap pengguna jasa, beberapa perjalanan wisata dibatalkan sementara. Namun, saat ini pelayaran sudah dibuka kembali setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencabut peringatan dini tsunami dan dermaga, terminal penumpang dapat digunakan dengan aman,” tutur Masyhud.
Untuk Pelabuhan Marapokot, fasilitas jalan penghubung antara daratan dan struktur dermaga (causeway) serta dermaga eksisting mengalami penurunan elevasi. Kerusakan lainnya teridentifikasi pada pagar pembatas yang runtuh.
Selain keempat pelabuhan tersebut, pelabuhan lain yang terdampak dan mengalami kerusakan ringan hingga sedang adalah Pelabuhan Reo, Manggarai; Pelabuhan Ende, Ende; dan, Pelabuhan Waingapu, Sumba Timur. Adapun, Pelabuhan Larantuka, Flores Timur dinyatakan aman dan tidak mengalami kerusakan.
Masyhud melanjutkan, pemantauan dan pemeriksaan terhadap fasilitas transportasi laut terdampak akan terus dilakukan. Tujuannya, memastikan keselamatan serta mendukung keberlangsungan konektivitas dan pelayanan masyarakat di NTT.
“Keselamatan harus menjadi prioritas kita bersama. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan petugas, khususnya di area pelabuhan yang masih dalam proses pemeriksaan,” tutur Masyhud.
Dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/8/2026), Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian menjadi salah satu prioritas penanganan darurat.
Para penyintas, terutama di Kabupaten Manggarai, sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 tempat tidur lipat portabel (folding bed), 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih hingga genset.
“Merespons eskalasi bencana, Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses surat keputusan untuk menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari mendatang. Langkah serupa juga telah diambil secara resmi di tingkat kabupaten/kota terdampak,” tutur Berton secara tertulis.
Kabupaten Manggarai telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari, terhitung pada 15 Agustus-13 November 2026. Kabupaten Ngada memberlakukan status serupa selama 30 hari, tepatnya 15 Agustus-15 September 2026. Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026.
“Terkait akses mobilitas logistik dan evakuasi, jalur lintas darat Larantuka-Maumere terpantau sudah terhubung dan dapat dilalui. Namun, tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain, lantaran akses jalan darat penghubung Ende-Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa,” ujar Berton.
Menurut data BMKG, gempa bermagnitudo 7,7 itu terjadi pada Sabtu pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur timur dengan kedalaman 15 kilometer. Pusat gempa berada di laut dengan jarak sekitar 30 kilometer arah timur laut Kabupaten Nagekeo. Nagekeo merupakan salah satu kabupaten di Pulau Flores (Kompas.id, 15/8/2026).





