Pada usia 79 tahun, hampir semua perlombaan telah selesai. Ambisi biasanya telah digantikan oleh kebijaksanaan. Keinginan untuk membuktikan diri berubah menjadi hasrat untuk meninggalkan warisan. Di usia itu, seseorang tidak lagi sibuk mengejar kursi. Mungkin ia lebih memilih menjadi mentor atau kawan diskusi.
Mungkin itulah cara paling tepat membaca sosok Burhanuddin Abdullah; ekonom senior yang belakangan ini muncul sebagai salah satu pembawa obor bagi pemerintah di isu ekonomi. Ia hadir dengan berbekal pengetahuan, pengalaman dan kepercayaan.
Mereka yang mengenalnya tahu, ia bukan politikus yang pandai membangun panggung. Dunia yang ia kenal adalah angka, inflasi, nilai tukar, suku bunga, stabilitas sistem keuangan, dan satu kata yang sering dianggap membosankan oleh publik, tetapi menentukan nasib jutaan orang: kepercayaan.
Sejarah mencatat namanya sebagai penjaga gawang moneter yang sukses memerangi inflasi tinggi dan menciptakan stabilitas, sehingga pemerintahan saat itu mampu mencapai pertumbuhan yang berkualitas.
Ketika Burhanuddin Abdullah memimpin Bank Indonesia pada 2003–2008, Indonesia masih berjalan tertatih meninggalkan trauma krisis ekonomi Asia. Kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih. Inflasi masih menjadi ancaman. Nilai tukar rupiah rentan terhadap gejolak global.
Kondisi APBN juga sangat rapuh. Utang bertumpuk dan penyelesaian kewajiban para taipan saat krisis belum sepenuhnya tuntas. Di sisi lain, sebagai bagian dari perjanjian utang dengan IMF pada 1998, Indonesia tidak bisa sepenuhnya berdaulat dalam merancang kebijakan.
Di masa itulah Burhanuddin Abdullah memimpin. Bukan pada masa yang mudah. Melainkan pada masa ketika setiap keputusan moneter bisa menentukan apakah ekonomi Indonesia akan kembali tergelincir atau terus bangkit.
Di bawah kepemimpinannya, kerangka kebijakan moneter diperkuat, kredibilitas Bank Indonesia meningkat, stabilitas makroekonomi semakin terjaga, dan posisi Indonesia dalam percaturan bank sentral dunia memperoleh pengakuan yang lebih besar.
Pengakuan itu bukan datang dari dalam negeri semata. Pada 2007, Global Finance menempatkan Burhanuddin Abdullah sebagai salah satu dari lima gubernur bank sentral terbaik di dunia. Penghargaan seperti itu tidak diberikan karena popularitas. Ia diberikan kepada mereka yang dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi, membangun kredibilitas kebijakan, dan memperoleh kepercayaan komunitas keuangan internasional.
Lalu hidup menunjukkan sisi yang lain. Burhanuddin Abdullah terseret ke dalam proses hukum. Dia didakwa bersama anggota Dewan Gubernur BI lainnya menggunakan dana milik Yayasan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (YLPPI) senilai Rp100 miliar. Dana itu digunakan untuk bantuan hukum lima mantan pejabat BI, penyelesaian kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), dan amandemen Undang-Undang BI (UU BI).
Kasus ini sangat kontroversial dan proses persidangannya menuai perhatian publik. Salah satu episode paling menarik adalah ketika pengadilan gagal membuktikan tuduhan bahwa ia memiliki niat jahat melakukan korupsi, menikmati uang hasil korupsi atau memutuskan kebijakan yang memperkaya dirinya sendiri.
Fakta persidangan menunjukkan bahwa Burhanuddin Abdullah baru menjabat ketika proposal penggunaan dana YPPI, yang telah disiapkan dan dibahas jauh sebelumnya, membutuhkan persetujuan Gubernur Bank Indonesia. Ketika izin prinsip telah diberikan pada masa pejabat sebelumnya, keputusan yang dihadapi Burhanuddin merupakan bagian dari rangkaian kebijakan yang telah berjalan dan diputuskan secara kolegial.
Burhanuddin Abdullah pada akhirnya divonis, menjalani hukuman, dan menyelesaikan seluruh konsekuensi yang diputuskan pengadilan. Dalam negara hukum, itulah mekanisme yang berlaku meski pendapat publik menganggapnya sebagai bentuk kriminalisasi yang kebablasan.
Meski divonis bersalah—dan kemudian dikurangi masa hukumannya oleh pengadilan tingkat banding—Burhanuddin tidak pernah tercerabut dari akar sosialnya. Ia tidak dikucilkan atau sekadar dijauhi karena stempel terpidana korupsi.
Publik akan selalu ingat hari pembebasannya ketika ratusan orang menyemut di halaman LP Sukamiskin menggelar penyambutan. Komunitas intelektual dan ekonom bukan hanya menerima dia kembali, bahkan memberikan tanggung jawab lebih besar. Partai Gerindra besutan Prabowo Subianto mendapuknya sebagai ketua dewan pakar.
Dijatuhkan Tapi Tetap Kembali ke Arus UtamaAda satu pelajaran penting dalam perjalanan hidupnya. Karier tidak selalu berjalan lurus. Seorang manusia bisa mencapai puncak, jatuh sangat dalam, lalu bangkit bukan untuk membalas masa lalu, melainkan untuk terus memberi manfaat.
Sebagian orang mungkin masih memperdebatkan masa lalunya. Itu wajar. Tak mengapa. Biasa saja. Demokrasi memang memberi ruang bagi perbedaan penilaian. Namun ada fakta yang tidak dapat diperdebatkan. Burhanuddin Abdullah telah menjalani hukuman yang dijatuhkan kepadanya.
Secara hukum, perkara itu telah memiliki akhir.
Hari ini, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak kalah kompleks dibandingkan dua dekade lalu. Perang dagang, fragmentasi geopolitik, digitalisasi sistem pembayaran, tekanan terhadap nilai tukar, hingga kecerdasan buatan yang mengubah struktur ekonomi menuntut kebijakan yang bukan hanya tepat, tetapi juga mampu menjaga kepercayaan.
Dalam situasi seperti ini, pengalaman bukanlah beban masa lalu. Ia dapat menjadi kompas. Pengalaman menghadapi krisis mengajarkan bahwa stabilitas tidak lahir dari satu keputusan besar, melainkan dari konsistensi, ketenangan, dan keberanian mengambil keputusan yang terkadang tidak populer.
Pada usia 79 tahun, Burhanuddin Abdullah berada pada fase berbeda dalam perjalanan hidupnya. Ia tidak lagi berdiri sebagai pengambil keputusan moneter, tetapi sebagai ekonom senior dan penasihat yang ikut menyumbangkan pandangan bagi arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pandangan ekonominya pun tidak berhenti pada pertumbuhan. Sejalan dengan gagasan ekonomi yang diperjuangkan Presiden, ia meyakini bahwa pertumbuhan harus berjalan bersama pemerataan. Sebab, pertumbuhan yang tidak memperluas kesejahteraan dan justru membiarkan kesenjangan melebar bukan hanya kehilangan makna, tetapi juga menjadi rapuh.
Perjalanan Burhanuddin Abdullah tentu tidak seluruhnya bebas dari kontroversi. Ada keberhasilan yang dicatat, ada pula episode yang akan terus diperdebatkan. Namun mungkin warisan seseorang memang tidak ditentukan hanya oleh satu fase dalam hidupnya. Ia juga ditentukan oleh apa yang dilakukan setelah melewati fase tersebut.
Pada akhirnya, perjalanan panjang Burhanuddin Abdullah adalah kisah tentang pengalaman, kepercayaan, dan kesempatan untuk terus mengabdi. Pada usia ketika banyak orang memilih menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan publik, ia masih berada di ruang tempat gagasan dipertukarkan dan arah masa depan dibicarakan. Bukan lagi untuk membuktikan siapa dirinya, melainkan untuk memastikan bahwa pengalaman panjang itu masih dapat memberi manfaat bagi Indonesia.




