Pengguna Google Gemini Bisa Hapus Watermark di Gambar dan Video AI

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Google akan memberikan pilihan kepada pengguna untuk menghapus watermark yang terlihat pada konten buatan kecerdasan buatan (AI). Kebijakan ini mencakup gambar, video, dan musik yang dihasilkan melalui sejumlah model AI milik perusahaan.

VP Gemini Google, Josh Woodward, mengatakan opsi tersebut akan tersedia untuk model Nano Banana, Omni, dan Lyria. Pengguna dapat menonaktifkan watermark melalui Gemini dan editor video AI Google, Flow. Dukungan serupa untuk Search akan menyusul.

Fitur ini akan dirilis secara bertahap dalam beberapa hari mendatang. Setelah tersedia, pengguna dapat membuka menu Settings, memilih Media Watermark, lalu mengaktifkan atau menonaktifkan tanda yang terlihat pada konten.

Meski watermark visual dapat dihapus, Google tetap mempertahankan sistem penanda digital SynthID dan metadata yang mengikuti standar C2PA. Keduanya bekerja tanpa menampilkan tanda mencolok pada konten.

SynthID menyisipkan penanda digital yang tidak terlihat ke dalam konten buatan AI. Sementara itu, metadata C2PA menyimpan informasi mengenai asal dan proses pembuatan media.

Dengan sistem tersebut, pengguna masih dapat memeriksa melalui Gemini atau Google Search untuk mengetahui apakah sebuah gambar dibuat menggunakan artifical intelligence.

"Kami berusaha menyeimbangkan kontrol kreatif dan keamanan. Meski watermark yang terlihat sekarang bersifat opsional, watermark SynthID yang tidak terlihat dan metadata C2PA tetap digunakan untuk transparansi," kata Woodward, mengutip TechCrunch.

Menurut Google, watermark visual dapat mengurangi kegunaan konten AI untuk kebutuhan profesional dan kreatif. Namun, perusahaan tetap menilai identifikasi media buatan AI sebagai hal penting.

Perubahan ini menunjukkan pergeseran pendekatan perusahaan teknologi dalam memberikan label pada konten AI. Google kini memberi kebebasan lebih besar kepada kreator untuk menentukan tampilan hasil karya, sambil mempertahankan penanda digital yang dapat digunakan untuk memeriksa asal konten.

Google juga membuka kode sumber Credentio, sebuah pustaka perangkat lunak baru yang memungkinkan pengembang menambahkan mekanisme validasi lokal ke dalam aplikasi mereka.

Kebijakan Google muncul setelah keputusan Anthropic memicu perdebatan. Anthropic sebelumnya memasukkan watermark ke dalam teks dan berkas yang dihasilkan Claude sebagai bagian dari upaya mematuhi regulasi Uni Eropa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Keseruan Lomba Tarik Bus di Terminal Lebak Bulus
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Respons Pemerintah soal Ricuh Hari Damai Aceh: Situasi Kondusif hingga Bahas Otonomi Khusus
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Rumah Rusak Capai 7.968, Pemerintah Belum Buka Pintu Bantuan Asing untuk Gempa NTT
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Nasib Keuangan Shio Ular 18 Agustus 2026, Dapat Cuan Melimpah atau Malah Tertipu Mentah-mentah?
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Ronaldo Mulai Bicara Kehidupan Setelah Sepak Bola, Ada Padel dan Liburan Bersama Keluarga
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.