Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam pada perdagangan Selasa (18/8/2026), setelah kembali dibuka usai libur sehari.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam pada perdagangan Selasa (18/8/2026), setelah kembali dibuka usai libur sehari dalam rangka peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia (RI).
Penguatan indeks terutama ditopang lonjakan saham tambang, khususnya PT Bayan Resources Tbk (BYAN), di tengah pasar yang menanti sejumlah katalis domestik dan global.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/8/2026) pukul 10.25 WIB, IHSG melesat 1,24 persen ke level 6.480,61, hingga membentuk gap up teknikal.
Nilai transaksi mencapai Rp5,73 triliun dengan volume perdagangan 13,16 miliar saham.
Sebanyak 378 saham menguat, 218 saham melemah, sedangkan 367 saham lainnya stagnan.
Dalam sepekan, IHSG tercatat menguat 1,87 persen dan dalam sebulan naik 5,03 persen.
Kendati demikian, indeks masih melemah 25,00 persen secara year to date (YtD).
Penguatan IHSG pagi ini terutama ditopang saham BYAN yang melambung 19,82 persen ke level Rp17.125 per saham.
Saham emiten batu bara milik taipan Low Tuck Kwong tersebut kembali menjadi sorotan setelah beredar rumor akan diakuisisi pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp570,83 triliun, BYAN merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di BEI setelah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang mencapai Rp788,96 triliun.
Alhasil, pergerakan BYAN yang sangat tajam turut memberikan dorongan signifikan terhadap IHSG.
Meski demikian, BYAN dikenal memiliki volatilitas yang tinggi. Likuiditas sahamnya juga relatif terbatas, tercermin dari antrean bid dan offer yang cenderung tipis.
Kondisi tersebut membuat pergerakan harga BYAN dapat memberikan dampak cukup besar terhadap indeks ketika terjadi lonjakan harga.
Selain BYAN, penguatan IHSG juga ditopang saham perbankan berkapitalisasi besar serta sejumlah saham konglomerasi, meski kenaikannya tidak setinggi BYAN.
Setelah reli pada perdagangan pagi, perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah katalis yang berpotensi menentukan arah pasar dalam beberapa hari ke depan.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset Week Ahead: Key Catalysts | RDG BI dan uji fit-proper Komisi XI memperkirakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 Agustus menjadi salah satu katalis utama.
Pasar diperkirakan mencermati keputusan suku bunga BI yang berpotensi mempertahankan level 5,75 persen, sekaligus melihat nada kebijakan terkait stabilitas rupiah dan waktu konfirmasi calon Gubernur BI.
Selain RDG BI, investor juga akan mencermati proses uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) Komisi XI DPR RI terhadap Destry Damayanti dan sejumlah calon lainnya.
Dari eksternal, perkembangan pembicaraan terkait Selat Hormuz turut menjadi perhatian.
Investor akan melihat apakah kerangka rute Iran-Oman dapat berujung pada pembukaan kembali jalur pelayaran secara nyata atau justru muncul insiden baru yang mendorong harga minyak Brent kembali mendekati USD90 per barel.
Katalis global lainnya adalah risalah rapat Federal Reserve AS atau Federal Open Market Committee (FOMC) pada 19 Agustus waktu setempat, disusul agenda Jackson Hole pada 27-29 Agustus dan pertemuan FOMC berikutnya pada 15-16 September.
Sementara itu, pasar saham Indonesia juga masih menghadapi agenda rebalancing MSCI yang berlaku efektif 1 September serta perkembangan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang hingga kini masih tertunda untuk kelima kalinya secara beruntun.
Di sektor telekomunikasi, investor juga akan mencermati keberlanjutan momentum saham PT Indosat Tbk (ISAT) setelah kolaborasi Zankore by Indosat.
BRI Danareksa menilai perhatian utama berada pada apakah aliran dana asing mulai berbalik positif atau justru reli saham tersebut mulai mereda akibat aksi ambil untung. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





