Ubah Konsumtif Jadi Produktif, 1.426 Penerima Manfaat BPJS Ketenagakerjaan Ikuti PEKA

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Setiap tahun, ratusan ribu keluarga kehilangan sosok pekerja yang menjadi tulang punggung mereka. Ada di antaranya yang tutup usia akibat kecelakaan kerja, ada pula yang meninggal dunia karena sakit yang diderita.

Rasa duka tentu menjadi hal pertama yang sangat terasa. Namun di balik itu, ada kegundahan besar mengenai bagaimana keluarga tersebut dapat menjalani kehidupannya ke depan.

Di titik inilah perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan hadir untuk mereka. Tak hanya berupa manfaat dalam bentuk rupiah, tetapi juga pendampingan bagi keluarga pekerja agar kembali berdaya, memiliki keterampilan, dan membangun sumber penghidupan baru sehingga dapat melanjutkan kehidupan secara mandiri.

Semangat inilah yang diwujudkan BPJS Ketenagakerjaan melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Penerima Manfaat (PEKA). Sejalan dengan semangat Hari Kemerdekaan untuk terus maju dan berdaya, BPJS Ketenagakerjaan menggelar Soft Launching Nasional PEKA yang dipusatkan di Bandung, Selasa, 18 Agustus.

Kegiatan tersebut diresmikan oleh Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli bersama Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat dan Wali Kota Bandung yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Iskandar Zulkarnain, serta diikuti secara serentak di seluruh Indonesia.

Membawa semangat Value Beyond Protection, PEKA menjadi bukti bahwa perlindungan BPJS Ketenagakerjaan tak berhenti ketika manfaat telah diterima. Ada harapan agar manfaat tersebut menjadi pijakan bagi pekerja dan keluarganya untuk bangkit, kembali produktif, dan melanjutkan kehidupan secara mandiri.

Semangat pemberdayaan tersebut juga sejalan dengan Asta Cita Ke-6 Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli mengapresiasi inisiatif BPJS Ketenagakerjaan melalui PEKA. Menurutnya, program tersebut menunjukkan bahwa kehadiran BPJS Ketenagakerjaan tidak berhenti pada pemberian manfaat atau santunan, tetapi berlanjut dengan pendampingan agar manfaat yang diterima dapat dikelola secara produktif dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.

“Idenya luar biasa. Menurut saya, ini harus kita apresiasi. BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya sampai memberikan uang atau santunan, tapi juga mengawal bagaimana uang atau santunan itu bisa bermanfaat secara berlanjut, terus-menerus. Karena memang kemandirian ini menjadi kunci,” ujar Yassierli.

Ia menilai PEKA berpotensi mendorong lahirnya tenaga kerja mandiri dan wirausaha baru. Kementerian Ketenagakerjaan juga siap berkolaborasi dan memberikan pendampingan agar para penerima manfaat maupun ahli waris mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

“Kita berharap bisa menumbuhkan tenaga kerja mandiri baru, wirausaha baru yang akan menjadi soko guru perekonomian bangsa kita. Ujungnya tentu kita berharap tidak hanya wirausaha baru, tapi juga nanti menciptakan lapangan kerja baru,” tambahnya.

Yassierli berharap PEKA dapat menjadi harapan baru bagi penerima manfaat dan ahli waris untuk membangun kemandirian sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Sementara itu, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat mengatakan, PEKA berangkat dari perhatian terhadap keberlanjutan manfaat yang diterima pekerja maupun ahli waris. BPJS Ketenagakerjaan ingin memastikan manfaat tersebut tidak hanya memberikan ketahanan dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi bekal untuk membangun kemandirian ekonomi.

“Kami melihat bagaimana manfaat yang diterima peserta ini bisa menjadi produktif. Kami khawatir kalau tidak dilakukan pendampingan dan pembekalan, manfaat yang diterima hanya menjadi konsumtif. Karena itu, melalui PEKA kami ingin mendorong shifting dari konsumtif menjadi produktif, dari menerima manfaat menjadi memiliki daya, dan pada akhirnya menjadi mandiri,” ujar Saiful.

Menurutnya, keberhasilan PEKA bukan semata diukur dari jumlah pelatihan maupun peserta, melainkan dari kemampuan penerima manfaat untuk menjadi produktif, memperoleh penghasilan, dan kembali mandiri.

Sebanyak 1.426 penerima manfaat mengikuti rangkaian kegiatan PEKA yang digelar serentak di 45 titik di seluruh Indonesia.

Pemberdayaan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan peserta serta potensi ekonomi di masing-masing daerah. Bentuknya dapat berupa peningkatan kompetensi, pelatihan kewirausahaan, digital marketing/content creator, kuliner/tata boga, kerajinan/handycraft, florist, barista, laundry, make up, menjahit, reseller, serta pelatihan usaha lainnya sesuai potensi daerah.

Dalam pelaksanaannya, BPJS Ketenagakerjaan mengedepankan kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, komunitas, serta berbagai mitra strategis lainnya.

“Harapannya kegiatan ini benar-benar menjadi kegiatan bersama. Karena itu kami berkolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, komunitas, dan ekosistem lainnya untuk bersama-sama memberdayakan ekonomi dan kemandirian para penerima manfaat. Bahkan, kita berharap nantinya mereka juga bisa membuka lapangan pekerjaan baru,” tutup Saiful.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sulawesi Maluku, Suci Rahmad, menegaskan bahwa semangat PEKA juga menjadi bagian penting dari upaya BPJS Ketenagakerjaan di wilayah Sulawesi Maluku dalam memastikan manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi pekerja dan keluarganya.

Menurut Suci, pemberian santunan merupakan bagian penting dari perlindungan, namun penerima manfaat dan ahli waris juga perlu mendapatkan dukungan agar mampu mengelola manfaat yang diterima sebagai modal untuk membangun kembali kemandirian ekonomi keluarga.

“Kami ingin manfaat yang diterima tidak berhenti untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi dapat menjadi bekal bagi penerima manfaat dan ahli waris untuk kembali produktif. Melalui PEKA, mereka didorong untuk memiliki keterampilan, keberanian memulai usaha, serta kemampuan mengembangkan sumber penghasilan yang berkelanjutan,” ujar Suci.

Ia menambahkan, karakteristik dan potensi ekonomi di setiap daerah berbeda sehingga pemberdayaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat dan peluang usaha yang tersedia di wilayah masing-masing.

“Wilayah Sulawesi Maluku memiliki potensi ekonomi yang sangat beragam. Karena itu, pendekatan pemberdayaan harus disesuaikan dengan potensi lokal agar keterampilan yang diperoleh benar-benar dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sumber penghasilan. Kami juga terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, perbankan, komunitas, dan seluruh stakeholder terkait,” jelasnya.

Suci berharap PEKA tidak hanya melahirkan penerima manfaat yang mandiri, tetapi dalam jangka panjang juga mampu menciptakan wirausaha baru yang membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitarnya.

“Inilah makna Value Beyond Protection. Perlindungan tidak selesai ketika santunan dibayarkan. Kami ingin terus hadir mendampingi mereka untuk bangkit, berdaya, dan mandiri. Harapannya, penerima manfaat yang hari ini kita berdayakan kelak tidak hanya mampu menopang keluarganya sendiri, tetapi juga tumbuh menjadi pelaku usaha yang membuka kesempatan kerja bagi orang lain,” tutup Suci.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
14.373 KPM di Kota Mojokerto Terima Bantuan 30 Kg Beras untuk Tiga Bulan
• 11 jam laluberitajatim.com
thumb
Ada Proyek Jaringan Utilitas, Lalin Jalan Kramat Raya dan Matraman Direkayasa
• 2 jam laludetik.com
thumb
Laba Bersih Energi Mega Persada (ENRG) Tumbuh 27 Persen hingga Juni 2026
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Pramono Ajak Seluruh Masyarakat Jaga Keamanan Jakarta
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menikah dengan Ronaldo, Georgina Rodriguez Pakai Setelan Pengantin dari Gucci
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.