Pertamina NRE Kembangkan Bio-Metanol dari Limbah Sawit

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mengembangkan bio-metanol berbasis biogas dari limbah sawit sebagai bagian dari upaya membangun rantai nilai energi rendah karbon dari hulu hingga hilir.

Pengembangan tersebut ditandai dengan penandatanganan tiga kesepakatan strategis pada Jumat (14/8), yakni Joint Development Agreement (JDA) dengan perusahaan teknologi asal Singapura CRecTech Pte. Ltd., Heads of Agreement (HoA) dengan PT Pertamina Petrochemical Trading (Pertachem), serta Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pertamina International Marketing & Distribution Pte. Ltd. (PIMD).

Melalui kerja sama dengan CRecTech, Pertamina NRE akan membangun fasilitas percontohan biogas-to-bio-methanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas sekitar 50 ton bio-metanol per tahun dan akan memanfaatkan biogas yang berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME) pada PLTBg Sei Mangkei milik Pertamina NRE.

Teknologi katalis CRecREF milik CRecTech memungkinkan konversi biogas menjadi metanol melalui dua tahap, lebih singkat dibandingkan proses konvensional yang membutuhkan empat tahap. Teknologi ini berpotensi menekan biaya produksi hingga 50%.

Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, mengatakan pengembangan bio-metanol tersebut merupakan langkah konkret perusahaan dalam membangun rantai nilai dari produksi hingga pasar.

“Penandatanganan hari ini bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bukti konkret bahwa kami sedang membangun rantai nilai secara lengkap, mulai dari produksi bersama CRecTech, domestic offtake bersama Pertachem, hingga membuka jalur menuju pasar bahan bakar maritim internasional bersama PIMD,” ujar John dikutip Rabu (19/8/2026).

Dari sisi hilir, Pertamina NRE bersama Pertachem membuka jalur penyerapan bio-metanol di pasar domestik. Kedua pihak juga membahas kerangka kerja menuju skema offtake jangka panjang ketika proyek memasuki fase komersial.

Kebutuhan metanol nasional saat ini mendekati 2 juta ton per tahun. Sekitar dua pertiga kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.

Sementara itu, kerja sama dengan PIMD diarahkan untuk menjajaki peluang pasokan dan pemasaran bio-metanol sebagai bahan bakar kapal atau marine fuel/bunkering di pasar internasional.

CEO CRecTech Dr. Kang Hui Lim mengatakan pengembangan bio-metanol membutuhkan kolaborasi dari sisi teknologi, infrastruktur, produksi hingga akses pasar.

“Kami melihat nilai yang kuat dalam kerja sama ini. Pertamina membawa pengetahuan mengenai Indonesia, infrastruktur energi, pelanggan, dan pasar, sementara CRecTech membawa teknologi dan pengalaman. Bersama-sama, kami dapat menghubungkan teknologi, produksi, komersialisasi, dan kebutuhan pasar yang akan menjadi kunci bagi pengembangan selanjutnya,” tutur Kang.

Direktur Utama PT Pertamina Petrochemical Trading Aribawa mengatakan pengembangan bio-metanol berpotensi membuka fondasi bisnis baru bagi Pertachem.

“Metanol telah menjadi bagian dari portofolio perdagangan Pertachem. Dengan teknologi CRecTech serta sumber daya dan kapabilitas energi terbarukan Pertamina NRE, kami berharap dapat mengembangkan bio-metanol yang mendukung agenda transisi energi Indonesia. Bagi Pertachem, kesepakatan ini merupakan langkah nyata untuk membangun fondasi bisnis baru yang dapat terus berkembang,” ujarnya.

Baca Juga: PLTS Masuk Sekolah, Pertamina NRE Jadikan Bengkalis Laboratorium Energi Bersih

Baca Juga: Pastikan Pasokan BBM di NTT Aman Pascagempa, Komut Pertamina Tinjau Langsung

Pemanfaatan POME sebagai bahan baku biogas juga memungkinkan limbah industri kelapa sawit diolah menjadi produk energi bernilai tambah. Inisiatif ini sekaligus berpotensi menangkap emisi metana yang sebelumnya terlepas ke atmosfer.

Fasilitas percontohan di Sei Mangkei akan menjadi basis bagi pengembangan proyek bio-metanol dalam skala komersial untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka peluang pasar internasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemensos Waspadai Perdagangan Orang di Tengah Bencana NTT
• 18 jam laluliputan6.com
thumb
PSI apresiasi CKG: Mencegah lebih baik daripada mengobati
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Said Abdullah: Destry dan Aida Punya Modal Memimpin BI di Tengah Gejolak Global
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bahlil soal Pasokan BBM dan Listrik ke NTT Pascagempa: Mulai Ada Perbaikan
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Satpol PP Bongkar Bangunan 3 Lantai Ilegal di Puncak Bogor
• 23 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.