Terumbu karang juga ekosistem laut di kawasan Indo-Pasifik ternyata menghadapi ancaman bom ikan dengan frekuensi yang mengkhawatirkan. Penelitian terbaru yang terbit di jurnal Remote Sensing in Ecology and Conservation mengungkap aktivitas pengeboman di laut terjadi dengan intensitas yang setara satu ledakan setiap 62 menit sekali.
Temuan tersebut diperoleh melalui metode pemantauan baru yang menggabungkan mikrofon bawah laut dan teknologi machine learning untuk mendeteksi aktivitas pengeboman ikan di wilayah laut yang luas.
Blast fishing atau penangkapan ikan menggunakan bom, dilakukan dengan melemparkan bahan peledak ke dalam air. Ledakan menghasilkan gelombang kejut yang dapat membunuh ikan di sekitarnya secara instan.
Metode tersebut memang memungkinkan nelayan mendapatkan ikan dalam jumlah besar dengan cepat. Namun, dampaknya terhadap ekosistem laut sangat merusak karena ledakan juga menghancurkan habitat bawah laut, terutama terumbu karang.
Terumbu karang mencakup kurang dari 1 persen dasar laut, tetapi menjadi habitat bagi lebih dari 25 persen spesies laut. Kesehatannya menjadi fondasi bagi berbagai rantai makanan di lautan. Satu ledakan saja dapat menghancurkan bagian terumbu karang dan mengganggu ekosistem yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Menurut ahli biologi kelautan, Dr Ben Williams, dari University College London dan Institute of Zoology, populasi ikan dapat membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk pulih setelah mengalami dampak blast fishing.
Kerusakan tersebut juga dapat berdampak pada masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas perikanan. Meskipun praktik penangkapan ikan dengan bom telah dilarang, penegakan aturan di lapangan tidak mudah.
Mendengarkan Suara Laut dengan MikrofonSalah satu langkah penting untuk mengatasi blast fishing adalah mengetahui kapan dan di mana aktivitas tersebut terjadi. Untuk itu, tim peneliti dari Inggris dan Indonesia memasang mikrofon bawah laut di sejumlah lokasi di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan.
Perangkat tersebut merekam berbagai suara yang dihasilkan ekosistem terumbu karang, termasuk suara ledakan bom ikan dalam wilayah sekitar 900 kilometer persegi. Dari wilayah tersebut, peneliti memperkirakan terdapat sekitar 100 kilometer persegi terumbu karang.
Setelah seluruh rekaman dikumpulkan, peneliti menggunakan algoritma machine learning untuk mengidentifikasi suara ledakan bom. Hasilnya, skala praktik penangkapan ikan destruktif tersebut jauh lebih besar dari yang diperkirakan.
Dalam 3.650 jam rekaman, mikrofon mendeteksi 3.570 ledakan bom. Jika angka tersebut diekstrapolasi selama satu tahun penuh, jumlahnya setara dengan sekitar 8.500 ledakan, atau satu ledakan setiap 62 menit.
Peneliti memang belum dapat memastikan seluruh ledakan terjadi tepat di atas terumbu karang hanya berdasarkan data suara. Namun, jika seluruh ledakan ini diasumsikan terjadi di kawasan terumbu, aktivitas tersebut berpotensi menghancurkan hingga 0,17 kilometer persegi atau sekitar 7 acre terumbu karang setiap tahun. Dalam tiga tahun, luas kerusakan tersebut setara dengan setengah kawasan kompleks Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat.
AI Bisa Bantu Petakan Lokasi Bom IkanMeski mengkhawatirkan, para peneliti menilai teknologi pemantauan berbasis suara ini justru dapat menjadi langkah awal untuk mengatasi persoalan tersebut. Dengan mengetahui lokasi yang paling sering menjadi sasaran blast fishing, konservasionis dan masyarakat lokal dapat bekerja sama untuk mencari alternatif mata pencaharian yang lebih berkelanjutan, sekaligus melindungi ekosistem laut.
Menurut dia, perikanan berkelanjutan merupakan salah satu pilihan yang dapat segera diterapkan. Pariwisata juga berpotensi menjadi alternatif karena telah berhasil digunakan untuk membantu mengatasi praktik ilegal lain seperti perburuan satwa.
Ketika ekosistem memiliki nilai ekonomi yang jelas dan upaya konservasinya mendapatkan pendanaan yang memadai, masyarakat yang sebelumnya mengeksploitasi satwa, termasuk pelaku blast fishing, dapat beralih menjadi pihak yang justru melindungi dan memulihkan ekosistem tersebut.
Upaya konservasi yang melibatkan masyarakat lokal juga dinilai lebih efektif. Namun, mencari alternatif mata pencaharian yang berkelanjutan sekaligus menguntungkan secara ekonomi bukan perkara mudah.
Kepulauan Spermonde sendiri menjadi lokasi salah satu program restorasi terumbu karang terbesar di dunia yang dipimpin perusahaan cokelat Mars. Dalam program tersebut, para konservasionis menempatkan "reef stars", struktur berbahan baja yang dilapisi pasir terumbu, dalam jumlah besar untuk menstabilkan area puing yang sebelumnya rusak akibat pengeboman ikan.
Sebanyak 15 fragmen karang dari terumbu yang sehat di sekitar lokasi kemudian ditempelkan pada setiap reef star. Hasilnya, dalam beberapa tahun saja tutupan karang di lokasi yang direstorasi dapat meningkat dari 5 persen menjadi lebih dari 80 persen.
Namun, Williams mengingatkan bahwa metode restorasi semacam ini membutuhkan biaya besar. Karena itu, upaya konservasi tidak cukup hanya memulihkan terumbu karang yang sudah rusak.
"Yang terpenting adalah mengatasi penyebabnya, bukan hanya gejala dari kerusakan terumbu karang," ujarnya, kepada IFLScience.
Tantangan untuk menyelamatkan terumbu karang memang masih besar. Namun, berbagai upaya konservasi menunjukkan bahwa lautan memiliki kemampuan untuk pulih ketika diberi kesempatan. Pemulihan tersebut bukan hanya memberikan manfaat bagi satwa laut, tetapi juga bagi masyarakat pesisir dan keberlangsungan lingkungan secara keseluruhan.





