Pemerintah perlu segera melakukan langkah penanganan terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan, terutama bangunan yang masuk kategori rusak berat.
IDXChannel—Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani mengungkap sebanyak 400 sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) rusak terdampak akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang beberapa waktu lalu.
"Per hari ini kami sudah menerima data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tentunya serta dari Pemerintah Daerah kurang lebih sekolah yang terdampak itu 400 sekolah kurang lebih per hari ini. Ini masih terus berkembang karena kami meminta untuk diklasifikasikan rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan," kata Lalu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Lalu menyampaikan bahwa pendataan masih dilakukan lantaran dampak gempa tidak hanya dirasakan di wilayah NTT. Sejumlah daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Kabupaten Bima dan Kota Bima, juga ikut terdampak akibat gempa yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Nah, saya rasa ini masih terus berkembang karena dampak gempa ini ternyata tidak hanya di NTT, ada sebagian NTB terutama di Kabupaten Bima, kemudian Kota Bima yang mengalami dampak dari terjadinya gempa NTT beberapa waktu yang lalu," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu segera melakukan langkah penanganan terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan, terutama bangunan yang masuk kategori rusak berat.
"Nah, upaya yang dilakukan hari ini selain memutakhirkan data, tentu langkah-langkah cepat dalam rangka merevitalisasi bahkan membangun kembali bangunan-bangunan yang tergolong bangunan sekolah ini yang tergolong rusak berat itu terus dilakukan," tuturnya.
Selain kondisi fisik bangunan sekolah, Komisi X DPR juga meminta pemerintah melakukan pendataan terhadap warga sekolah yang terdampak gempa. Pendataan tersebut meliputi guru, siswa, hingga tenaga kependidikan lainnya.
"Kemudian di samping melihat bangunan sekolah, kami juga meminta untuk menginventarisir guru, siswa, dan tenaga pendidik lainnya yang terdampak akibat gempa. Nah sekarang sedang dihitung, tetapi DPR sudah membentuk Satgas Bencana dan langsung dipimpin oleh pimpinan DPR sendiri sudah meninjau langsung ke Nusa Tenggara Timur dan sudah memberikan bantuan," kata dia.
Legislator PKB itu memastikan proses belajar mengajar tidak boleh berhenti terlalu lama akibat bencana. Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk segera mencari solusi, termasuk penggunaan sekolah darurat apabila diperlukan.
"Kami tidak menginginkan pendidikan kita terhenti lama. Kami ingin bahwa proses belajar mengajar terus berjalan di saat gempa yang sampai dengan hari ini memang masih berlangsung gempa susulan. Tetapi kami menginginkan baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah agar proses belajar mengajar untuk anak-anak kita yang ada di NTT terus berjalan. Seperti itu," ungkapnya.
Ia meminta jumlah sekolah darurat disesuaikan dengan kondisi sekolah terdampak. Sekolah yang masih memungkinkan untuk digunakan akan tetap diinventarisasi, sementara sekolah dengan kerusakan berat dapat menggunakan fasilitas darurat seperti tenda.
"Nah, jumlah sekolah daruratnya tentu menyesuaikan. Kalau ternyata sekolah existing-nya masih bisa dilakukan ya tentu diinventarisir, tetapi lagi-lagi bahwa kami menyarankan agar belajar di sekolah darurat terlebih dahulu. Apakah nanti disiapkan berupa tenda atau ditempatkan di sekolah yang memang tidak terdampak oleh gempa tersebut," pungkasnya.
(Nadya Kurnia)





