VIVA – Denmark untuk pertama kalinya dalam sejarah modern mengerahkan sejumlah besar wajib militer baru ke Greenland. Langkah ini dilakukan Kopenhagen untuk memperkuat kendalinya atas wilayah Arktik tersebut di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencaplok Greenland.
Sekitar 100 wajib militer dari Resimen Infanteri Schleswig tiba di Nuuk pada awal Agustus lalu, menurut keterangan militer Denmark pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Para personel tersebut akan membagi waktu antara pelatihan dan menjalankan “tugas operasional”. Sebagian ditempatkan di Nuuk, sementara lainnya dikirim sekitar 350 kilometer ke utara, menuju Kangerlussuaq. Wilayah itu merupakan pangkalan udara yang pernah digunakan pasukan AS selama Perang Dunia II dan Perang Dingin.
Para wajib militer yang dikirim ke Greenland merupakan kelompok pertama yang menjalani masa dinas selama 11 bulan di militer Denmark. Pada 2024, Denmark memperpanjang masa wajib militer dari empat menjadi 11 bulan. Pemerintah juga memperluas program tersebut untuk mencakup perempuan dan meningkatkan target jumlah wajib militer tahunan dari 5.000 menjadi 7.000 personel.
Dalam siaran persnya, militer Denmark menyebut penempatan di Greenland sebagai kesempatan bagi para rekrutan untuk “berlatih dan mengasah keterampilan militer di medan yang tidak dikenal”.
Pernyataan tersebut tidak secara langsung menyinggung perselisihan antara Denmark dan AS terkait Greenland. Namun, disebutkan bahwa para wajib militer akan ikut serta dalam Operasi Arctic Endurance, latihan militer yang diluncurkan sebagai respons terhadap ancaman Trump untuk mencaplok wilayah tersebut.
Trump mulai mengancam akan mencaplok Greenland pada tahun lalu. Ia beralasan bahwa AS membutuhkan wilayah itu “untuk tujuan keamanan nasional”, termasuk kemungkinan menempatkan elemen jaringan pertahanan rudal balistik Golden Dome yang dijanjikannya. Trump juga menyatakan ketertarikannya terhadap Greenland karena wilayah tersebut memiliki mineral langka.
Denmark meluncurkan latihan Arctic Endurance pada Januari setelah Trump dan sejumlah pejabat tinggi AS menolak mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland. Dua minggu sebelum latihan tersebut diumumkan, Trump bahkan sempat mengejek kecilnya kehadiran militer Denmark di Greenland dengan mengatakan bahwa pasukan Denmark di sana hanya berjumlah “dua kereta luncur anjing”.





