BI Siapkan Strategi Pengendalian Inflasi Imbas El Nino

suarasurabaya.net
4 jam lalu
Cover Berita

Bank Indonesia (BI) sedang menyiapkan sejumlah strategi pengendalian inflasi untuk mitigasi dampak El Nino terhadap lonjakan harga pangan hingga akhir 2026.

Untuk diktehaui, El Nino diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026, terutama di kawasan Indonesia bagian timur. Kondisi ini berpotensi mengganggu produksi pangan sekaligus meningkatkan biaya produksi.

“Tentunya kita harus waspadai ke depan ini, terutama perlu mewaspadai risiko dari El Nino ini. El Nino diperkirakan akan lebih kuat hingga bulan Oktober 2026 di kawasan timur Indonesia, serta (berdampak) tekanan biaya produksi. Oleh sebab itu, strategi nanti pengendalian inflasi akan tetap fokus pada ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi,” ujar Rizky Perdana Gozali Deputi Gubernur BI, melansir Antara, Kamis (20/8/2026).

Beberapa komoditas yang akan menjadi perhatian BI di antaranya, beras, cabai, dan bawang merah, karena rentan mengalami tekanan harga imbas gangguan produksi.

Sejumlah strategi yang disiapkan seperti, penerapan digital farming dan pertanian presisi, penguatan pascapanen dan hilirisasi pangan, serta penguatan kerja sama antardaerah (KAD) berbasis surplus dan defisit pangan.

BI juga akan mengoptimalkan fasilitasi distribusi pangan (FDP) yang lebih matang, subsidi ongkos angkut, serta gerakan pasar murah dengan prinsip tepat komoditas, tepat lokasi, dan tepat waktu.

Langkah tersebut dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPIP/TPID), termasuk lewat Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Ricky menjelaskan, pengendalian inflasi tidak lagi hanya mengandalkan operasi pasar, tapi juga diarahkan untuk memperkuat produksi dan distribusi pangan dari hulu hingga hilir.

Sebagaimana diketahui, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy), melandai dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 3,34 persen (yoy).

Penurunan itu terutama didukung oleh kelompok volatile food yang inflasinya melambat menjadi 2,52 persen (yoy). Perkembangan itu antara lain dipengaruhi panen komoditas seperti cabai dan bawang merah.

Meski demikian, BI tetap mewaspadai potensi tekanan harga pangan pada periode mendatang akibat kondisi cuaca.

Pada kesempatan yang sama, Destry Damayanti Pejabat Sementara (Pjs.) Gubernur BI memastikan bank sentral akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027, termasuk melalui stabilisasi nilai tukar rupiah untuk memitigasi dampak imported inflation.

“Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), guna mengendalikan inflasi pangan termasuk antisipasi risiko gangguan cuaca El Nino terhadap harga pangan,” ujar Destry.(ant/kir/faz)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Biaya Haji Diusulkan Naik Lagi jadi Rp107.340.172,02 per Jemaah
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pemerintah Fokus Tingkatkan Kualitas Belanja dan Tekan Kemiskinan dalam RAPBN 2027
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Bantu Korban Gempa, DPW Perindo NTT Buka Posko Bantuan Terpusat di 7 Kabupaten
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Diduga Peras Warga Bermodus Tuduhan Judol, Dua Polisi Gresik Diamuk Massa
• 20 jam lalueranasional.com
thumb
Guru PPPK Jadi PNS di 2027: Daerah Tunggu Juknis
• 2 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.