MAUMERE, KOMPAS - Akses jalan di hampir seluruh desa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang sempat tertutup longsor akibat gempa, kini mulai terbuka. Tinggal Desa Nitunglea yang masih sulit ditembus kendaraan. Namun, hingga kini, tenaga kesehatan di Palue masih kewalahan melayani warga yang datang.
"Sekarang tinggal satu desa saja, yakni Nitunglea. Ini yang masih agak berat. Desa-desa yang lain mobil sudah bisa tembus. Kami berterima kasih untuk progres yang cepat ini," Nestor Langga, guru yang juga pekerja kemanusiaan di Palue, lewat sambungan telepon pada Kamis (20/8/2026).
Di Pulau Palue terdapat delapan desa. Desa itu adalah Ladolaka, Tuanggeo, Rokirole, Nitunglea, Maluriwu, Rerewairere, Kesokoja, dan Lidi. Jumlah penduduk di pulau itu lebih kurang 11.000 jiwa. Letak pulau itu berada paling dekat dengan episentrum gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang daerah itu pada Sabtu (15/8/2026).
Setelah jalan terbuka, distribusi bahan makanan yang dibeli sendiri maupun bantuan dari berbagai pihak pun kembali lancar. Warga menggunakan mobil bak terbuka dan sepeda motor. Untuk jalan yang belum bisa ditembus, mereka berjalan kaki sambil memikul bahan makanan.
Oleh karena itu, Nestor minta agar bantuan yang sempat tertahan bisa segera didistribusikan ke Palue. Saat ini korban gempa di pulau itu sangat membutuhkan bantuan bahan, kebutuhan balita dan perlengkapan perempuan, tenda, dan kasur.
Nestor juga berharap, semakin banyak relawan kesehatan yang masuk ke Palue. Saat ini, hanya ada satu dokter di Palue. ”Banyak anak yang mulai sakit karena selama ini tidur di tenda dan kasur seadanya. Petugas kesehatan di sini mulai kerepotan," katanya.
Serial Artikel
Nestapa Pulau Palue, Porak-poranda Dihantam Gempa
Pulau Palue menjadi wilayah yang paling terdampak gempa Flores. Kerusakan meluas dan warga kehilangan tempat tinggal. Simak kondisi terkini serta upaya pemulihannya.
Ia menambahkan, kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Maumere pada Kamis siang hingga petang ini menjadi momentum untuk mempercepat penanganan bencana di Palue. Untuk wilayah Kabupaten Sikka, Pulau Palue terdampak paling parah.
Menanggapi kehadiran Gibran di Maumere, sejumlah pengungsi meminta agar prioritas penanganan gempa sebaiknya diarahkan ke daerah yang paling terdampak. Salah satunya adalah Pulau Palue.
"Harusnya yang mendapat sentuhan itu masyarakat di Palue. Gibran harusnya ke Palue. Di Maumere sini sudah banyak bantuan yang masuk. Yang lebih menderita itu Palue," kata Maria Sae (50), warga di Maumere.
Gibran menemui korban gempa di Maumere. Pantauan Kompas, lokasi pertama yang didatangi Gibran adalah SD Wairklau. Di sana, Gibran sempat berdialog secara singkat dengan seorang ibu yang mengaku rumahnya rusak akibat gempa.
Selanjutnya, Gibran mendatangi Pelabuhan Lorens Say Maumere. Ia sempat melihat bangunan terminal penumpang yang rusak berat akibat gempa. Di tempat itu, tiga orang meninggal akibat gempa. Para korban adalah para penumpang kapal.
Gibran kemudian mendatangi RSUD TC Hillers Maumere. Ia menemui pasien yang kebanyakan dirawat di dalam tenda darurat di luar bangunan rumah sakit. Gempa susulan yang terjadi terus menerus membuat pelayanan di dalam gedung rumah sakit menjadi berisiko.
Dalam siaran pers yang diterima Kompas, Gibran bersama perwakilan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia datang ke Flores untuk menjalankan tugas negara sekaligus memastikan penanganan dan pemulihan pascabencana berjalan optimal di lapangan.
Kunjungan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk melihat langsung kondisi masyarakat terdampak bencana sekaligus memastikan keperluan di masa tanggap darurat mereka terpenuhi. Harapannya, langkah pemerintah dalam proses pemulihan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan nyata masyarakat.
Serial Artikel
Dari Palue ke Maumere, Evakuasi Korban hingga Perawatan di Tenda Darurat
Proses evkuasi korban dari Pulau Palue ke Maumere dilakukan menggunakan helikopter. Pasien dibawa ke RSUD TC Hillers yang pelayanannya belum sepenuhnya pulih.





