Perjuangan Ibu Hamil di Tancak Jember, Jalan Terjal Jadi Tantangan Akses Kesehatan

kompas.tv
5 jam lalu
Cover Berita
Tenaga kesehatan yang mendatangi rumah warga di Kecamatan Sumberbaru, Jember pada Jumat (24/7/2026). Ini merupakan pelayanan tenaga medis dalam program Home Care yang baru dilaunching Pemerintah Kabupaten Jember. (Sumber: Muhamad Isa Bustomi/KOMPAS.com)

KOMPAS.TV – Di lereng Tancak, Dusun Tenap, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, kemewahan bukan diukur dari materi. Bagi warga permukiman terpencil ini, jalan yang layak jauh lebih berharga daripada bantuan uang tunai.

Harapan sederhana itu disampaikan warga saat tim ekspedisi Nusaraya Kompas.com menemui mereka pada Sabtu (25/7/2026). Kisah perjuangan mendapatkan akses kesehatan di wilayah tersebut tecermin dari pengalaman Intan Nur Aini (19), seorang ibu nifas, dan Buse (26), orang tua yang mendampinginya.

Tinggal di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan membuat setiap urusan medis menjadi perjalanan yang melelahkan. Bagi warga, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi ibu hamil dan tenaga kesehatan yang harus menempuh jalur terjal menuju permukiman.

Berjalan Kaki Satu Jam dalam Kondisi Hamil

Bagi Intan, memeriksakan kandungan bukan sekadar datang ke fasilitas kesehatan, melainkan harus menempuh perjalanan menuruni gunung.

Sejak usia kehamilan tiga bulan, ia harus rutin berjalan kaki menuju Posyandu atau Polindes di wilayah bawah.

"Jalan kaki dari sini minimal satu jam dengan kondisi hamil," tutur Intan mengenang masa-masa sulitnya.

Ia mengakui rasa lelah yang luar biasa kerap menghampiri. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain demi menjaga kesehatan sang buah hati.

"Capek, capek banget. Tapi kan kalau mau sudah Posyandu ya pergi ke Posyandu. Kalau ada tugas dari Bu Bidan ya harus saya jalanin gitu," tambahnya.

Buse yang mendampingi Intan pun kerap diliputi rasa cemas dan sedih. Ia menceritakan betapa beratnya melihat Intan yang mengalami kehamilan berisiko tinggi harus menempuh jalur setapak yang terjal, terlebih ketika cuaca tidak bersahabat.

"Intan muntah-muntah terus itu. Ibunya (Bayi ini) sering nangis kasihan," ungkap Buse.

Deteksi Kritis di Ujung Kehamilan

Perjuangan tersebut nyaris berujung fatal jika bukan karena kesigapan Bidan Tria Dewi Purworini (41).

Saat usia kehamilan Intan memasuki sembilan bulan dan belum menunjukkan tanda-tanda melahirkan, Bidan Tria membawanya menjalani pemeriksaan USG di pusat kota Jember.

Hasil pemeriksaan medis saat itu mengejutkan. Air ketuban Intan sudah hampir habis sehingga kondisi tersebut membutuhkan penanganan segera.

Tim medis kemudian memberikan obat perangsang agar persalinan dapat segera dilakukan. Berkat penanganan cepat tersebut, bayi Intan lahir dengan selamat secara normal dalam waktu dua jam.

Tanpa pemantauan rutin dari bidan yang bersedia naik ke lereng gunung, kondisi medis seperti yang dialami Intan mungkin tidak akan terdeteksi tepat waktu. Terlebih, biaya untuk turun gunung secara mandiri bisa mencapai Rp50.000 hanya untuk ongkos transportasi.

Harapan Sederhana: Perbaikan Jalan

Kini, dengan kehadiran program Home Care, beban Intan dan Buse sedikit berkurang.

Tenaga kesehatan lebih sering melakukan pendekatan jemput bola dengan mendatangi rumah warga untuk melakukan pemeriksaan rutin dan mengukur tekanan darah. Buse mengaku merasa lebih tenang karena tidak harus selalu membawa bayi kecil menempuh perjalanan jauh di bawah terik matahari.

Namun, di balik rasa syukur tersebut, warga Tancak masih menyimpan satu permintaan besar kepada Pemerintah Kabupaten Jember, yakni perbaikan akses jalan.

Mereka menyadari bahwa tenaga kesehatan seperti Bidan Tria telah mempertaruhkan keselamatan dalam menjalankan tugas. Tria bahkan pernah jatuh tersungkur saat hamil tua ketika hendak menolong pasien di jalur yang sama.

"Kalau harapan orang gunung di sini ya enggak permintaan apa-apa, enggak ada harapan apa-apa. Cuma ingin kalau bisa ya memperbaiki jalan itu. Hanya itu yang keluarga ini harapkan," tegas Buse.

Bagi warga, jalan yang layak bukan sekadar mempermudah mobilitas, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan bagi tenaga kesehatan yang setiap hari menempuh perjalanan menuju permukiman demi membantu warga.

"Lebih mudah kan kalau jalannya itu bagus gitu kan," tutupnya sembari menyampaikan rasa terima kasih kepada tim medis yang tidak kenal lelah mengunjungi rumah mereka.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Oviana

Sumber : Kompas TV

Tag
  • Advertorial
  • Home Care
  • Dusun Tenap
  • Kecamatan Sumberbaru
  • Akses Kesehatan
  • Pemerintah Kabupaten Jember
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Legislator Apresiasi Kolaborasi Polri dan Petani untuk Wujudkan Swasembada Bawang Putih
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Dampak Cuaca Ekstrem di Medan, 170 Rumah di Delapan Kecamatan di Medan Rusak
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Polisi Periksa 4 Saksi dan Identifikasi Temuan Potongan Tubuh di Sungai Limo
• 14 jam laludisway.id
thumb
Skrining TB Ditargetkan Jangkau 42 Ribu Pesantren, Kemenkes Beli Ribuan X-Ray
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Jaksa Ungkap Pergerakan Pertama Heru Anggara Usai Bunuh Anak Politikus
• 8 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.