Aktor David Harbour kembali mencuri perhatian lewat proyek akting terbarunya yang berjudul DTF St. Louis. Berbeda dengan peran-peran sebelumnya yang menonjolkan aksi fisik serta dialog yang intens, aktor berusia 51 tahun ini harus menahan diri untuk tidak bersuara demi menghidupkan karakter Floyd, seorang pria yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Dedikasi tersebut terbukti tidak sia-sia karena sukses membawanya masuk dalam jajaran nominasi Emmy Awards tahun ini. Dilansir Variety, demi mendalami karakter Floyd, Harbour menghabiskan waktu selama empat bulan untuk berlatih American Sign Language (ASL) setiap hari.
Kerja keras ini tidak hanya membuahkan nominasi sebagai aktor terbaik saja, tetapi juga sebagai produser eksekutif melalui rumah produksi miliknya, Bravo Axolotl, yang ia dirikan pada akhir tahun 2022.
Proses Belajar ASL David HarbourHarbour menceritakan bahwa proses menguasai bahasa isyarat memberikan pengalaman baru yang sangat berbeda dibandingkan saat ia mempelajari bahasa asing berbasis suara. Ia mengaku harus melatih fokus mentalnya agar bisa menyampaikan emosi secara akurat tanpa mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.
“Saya menghabiskan sekitar empat bulan sebelum syuting untuk berlatih setiap hari dengan seorang instruktur di New York dan juga di Atlanta, hingga akhirnya saya berada di titik di mana saya bisa mengobrol,” ungkap Harbour.
Ia juga menambahkan bahwa proses tersebut seolah merombak kembali struktur berpikir di kepalanya, berbeda dengan ketika ia belajar bahasa Prancis yang masih membutuhkan proses penerjemahan internal dari bahasa Inggris.
Bagi seorang aktor yang kerap dikenal lewat kekuatan fisiknya yang dominan, berperan sebagai sosok yang tenang dan minim gerakan menjadi tantangan tersendiri. Namun, Harbour mengaku karakter Floyd yang tertutup sebenarnya sangat dekat dengan kepribadian aslinya di dunia nyata yang cukup tertutup.
Kebanggaan sebagai Produser dan Lepas dari Label Aktor GenreSerial DTF St. Louis sukses mendapatkan total 13 nominasi Emmy, menjadikannya salah satu miniseri yang paling diperhitungkan tahun ini. Bagi Harbour, pencapaian ini terasa jauh lebih istimewa dibandingkan dengan nominasi individu yang pernah ia dapatkan saat membintangi Stranger Things pada tahun 2017 silam.
Sebagai salah satu produser eksekutif, Harbour merasa memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar terhadap keseluruhan jalannya produksi. “Dulu fokusnya sangat personal, hanya tentang Anda sebagai aktor. Namun untuk proyek ini, ini adalah tentang keseluruhan pertunjukan, tentang setiap aktor yang terlibat,” jelasnya.
Banyak kritikus menilai peran Floyd sukses melepaskan Harbour dari label aktor spesialis genre fiksi ilmiah dan laga yang selama ini melekat padanya. Meski begitu, Harbour menegaskan ia tidak pernah merasa label tersebut membatasi kariernya, mengingat ia memulai kesuksesan di industri perfilman pada usia yang cukup matang, yakni 40 tahun.





