Jakarta, VIVA – Masyarakat atau konsumen pengguna layanan keuangan digital diimbau untuk selalu waspada, terhadap modus penipuan yang kerap mengatasnamakan customer service (CS) resmi.
Head of Corporate Affairs GoPay, Audrey P. Petriny mengatakan, para pengguna GoPay disarankan hanya menghubungi layanan pelanggan hanya melalui kanal resmi yang tersedia di aplikasi GoPay.
"Serta tidak pernah membagikan data sensitif, seperti PIN, password, maupun kode OTP, kepada siapa pun termasuk pihak yang mengaku sebagai CS," kata Audrey dalam keterangannya, Jumat, 21 Agustus 2026.
- [Istimewa]
Imbauan ini disampaikan sebagai pengingat bagi para pengguna, untuk tetap berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan digital yang mengatasnamakan layanan pelanggan resmi.
"Pelaku umumnya menyasar pengguna yang sedang lengah atau panik dengan berpura-pura menjadi CS, lalu menawarkan bantuan untuk mendapatkan kepercayaan korban," ujarnya.
Korban yang terjebak dalam modus ini berisiko mengalami kerugian finansial, akibat membagikan data sensitif ataupun terpengaruh oleh manipulasi psikologis yang mendorong mereka melakukan transaksi dengan dalih proses verifikasi, pengamanan akun, atau pengembalian dana (refund).
Audrey juga mengimbau para pengguna GoPay untuk tetap waspada, dan memastikan bahwa bantuan yang diterima berasal dari saluran resmi GoPay.
"Kami mengimbau pengguna untuk selalu berhati-hati saat menggunakan layanan keuangan digital. Jika mengalami kendala, pastikan hanya menghubungi layanan pelanggan melalui halaman bantuan resmi di aplikasi GoPay, email [email protected], atau Call Center 1500729," ujar Audrey.
Dia menegaskan bahwa customer service resmi GoPay tidak pernah meminta data sensitif pengguna.
"Customer service resmi GoPay tidak pernah meminta PIN, password, maupun kode OTP. Jika ada pihak yang mengaku sebagai customer service dan meminta informasi tersebut, dapat dipastikan itu adalah modus penipuan,” ujarnya.
Untuk membantu pengguna mengenali modus tersebut, GoPay mengimbau pengguna untuk mewaspadai beberapa ciri customer service (CS) palsu, antara lain yakni:
1). Menghubungi pengguna terlebih dahulu tanpa adanya permintaan bantuan
2). Menggunakan akun media sosial yang tidak terverifikasi atau baru dibuat
3). Menggunakan nada mendesak atau menakut-nakuti agar pengguna segera mengikuti instruksi





