MAUMERE, KOMPAS — Gempa tektonik meretakkan tanah di Desa Ladolaka, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 29 keluarga yang rumahnya berada di antara retakan tanah dan jurang harus segera dievakuasi.
”Kalau gempa susulan terus terjadi, bisa-bisa tanah langsung amblas bersama bangunan rumah masyarakat ini. Mereka harus segera direlokasi dari tempat ini,” kata Nestor Langga, relawan kemanusiaan di Palue, Jumat (21/8/2026).
Berdasarkan pantauan Kompas, permukiman itu berada di daerah perbukitan. Kini, kondisinya rawan longsor setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang daerah tersebut pada Sabtu (15/8/2026). Hingga saat ini, gempa susulan telah terjadi ribuan kali. Dikhawatirkan, retakan tanah semakin melebar dan mempercepat terjadinya longsor.
Nestor mendorong agar masyarakat setempat direlokasi ke tempat yang lebih aman. Hal itu untuk menghindari risiko longsor pada kemudian hari. ”Apalagi pada musim hujan nanti, pasti akan lebih berat kondisi di sini,” katanya.
Tak hanya di Ladolaka, kondisi serupa juga terjadi di desa lain yang terdampak gempa. Sayangnya, beberapa desa masih terisolasi sehingga menghambat proses pendataan. Akses jalan kini sedang dibuka menggunakan ekskavator.
Sementara itu, seorang anggota polisi mengatakan, pihaknya telah mendata warga yang rumahnya terancam longsor. Berdasarkan pendataan sementara, jumlah warga yang berada di antara jurang dan retakan tanah mencapai 85 jiwa.
Warga, terutama anak-anak dan lanjut usia, ingin mengungsi sementara ke Maumere. Namun, belakangan ada pejabat yang meminta agar mereka tidak perlu dievakuasi. ”Padahal kami sudah siapkan kapal untuk angkut mereka ke Maumere,” kata seorang anggota Polri yang ditemui di lokasi.
Serial Artikel
Nestapa Pulau Palue, Porak-poranda Dihantam Gempa
Pulau Palue menjadi wilayah yang paling terdampak gempa Flores. Kerusakan meluas dan warga kehilangan tempat tinggal. Simak kondisi terkini serta upaya pemulihannya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, korban meninggal dunia di Palue sebanyak satu orang dan belasan lainnya terluka. Selain itu, 894 rumah dan 20 fasilitas umum rusak. Masih ada desa yang belum terdata dengan baik.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengunjungi Desa Ladolaka pada Jumat siang. Ia berjanji membantu masyarakat keluar dari kesulitan dan meminta pemerintah daerah segera mendata jumlah warga terdampak. ”Camat, segera ya,” ujar jenderal bintang tiga itu.
Ia mengatakan, dalam waktu dekat fokus bantuan pemerintah adalah pemenuhan kebutuhan harian masyarakat terdampak gempa. Bantuan akan terus dikirim melalui jalur laut maupun udara. Dari Maumere, Pulau Palue dapat ditempuh sekitar lima jam melalui jalur laut atau sekitar 25 menit menggunakan helikopter.
Selanjutnya, korban yang rumahnya tidak bisa ditempati lagi diminta tinggal di hunian sementara. Mereka akan mendapat bantuan sebesar Rp 600.000 per bulan.
Setelah rumah yang rusak selesai didata, pemerintah akan memberikan bantuan sesuai tingkat kerusakan. Rumah rusak ringan mendapat Rp 15 juta, rusak sedang Rp 30 juta, dan rusak berat Rp 60 juta.
Di Pulau Palue terdapat delapan desa, yakni Ladolaka, Tuanggeo, Rokirole, Nitunglea, Maluriwu, Rerewairere, Kesokoja, dan Lidi. Jumlah penduduk di pulau itu sekitar 11.000 jiwa. Palue berada paling dekat dengan episentrum gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan tersebut pada Sabtu (15/8/2026).
Seperti diberitakan sebelumnya, kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Maumere pada Kamis (20/8/2026) menjadi momentum untuk mempercepat penanganan bencana di Palue. Untuk wilayah Kabupaten Sikka, Pulau Palue merupakan daerah yang terdampak paling parah.
Menanggapi kehadiran Gibran di Maumere, sejumlah pengungsi meminta agar prioritas penanganan gempa diarahkan ke daerah yang paling terdampak, salah satunya Pulau Palue.
”Harusnya yang mendapat sentuhan itu masyarakat di Palue. Gibran harusnya ke Palue. Di Maumere sini sudah banyak bantuan yang masuk. Yang lebih menderita itu Palue,” kata Maria Sae (50), warga Maumere.
Serial Artikel
Dari Palue ke Maumere, Evakuasi Korban hingga Perawatan di Tenda Darurat
Proses evkuasi korban dari Pulau Palue ke Maumere dilakukan menggunakan helikopter. Pasien dibawa ke RSUD TC Hillers yang pelayanannya belum sepenuhnya pulih.





