Pantau - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan ruang belajar sementara bagi madrasah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung selama ruang kelas yang rusak belum aman digunakan.
Penyediaan ruang belajar sementara menjadi bagian dari respons darurat pemerintah dalam menangani dampak gempa terhadap sektor pendidikan.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menegaskan pemulihan sarana pendidikan membutuhkan waktu, tetapi layanan pembelajaran bagi siswa tidak boleh terhenti.
"Pemulihan sarana pendidikan memang membutuhkan waktu, tetapi layanan pembelajaran harus tetap berjalan selama proses pemulihan itu," kata Amien Suyitno.
Keselamatan Jadi Pertimbangan Penempatan Ruang BelajarPenempatan ruang belajar sementara akan dilakukan dengan memperhatikan keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Tenda yang digunakan sebagai tempat pembelajaran harus ditempatkan di lokasi yang dinilai aman.
Lokasi tenda pembelajaran juga tidak boleh berdekatan dengan bangunan maupun struktur lain yang berpotensi roboh dan membahayakan siswa serta tenaga pendidik.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag M. Arskal Salim mengatakan penanganan sektor pendidikan yang terdampak bencana harus dilakukan berdasarkan data yang telah terverifikasi.
"Respons tanggap darurat harus berbasis kebutuhan. Karena itu, verifikasi dan pemutakhiran data terus dilakukan agar dukungan yang diberikan tepat sasaran," ujar Arskal.
Sebanyak 32 Satuan Pendidikan Masuk Prioritas IBerdasarkan pendataan Kemenag, sebanyak 72 Raudhatul Athfal (RA) dan madrasah terdampak gempa yang tersebar di tujuh kabupaten di NTT.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 32 satuan pendidikan ditetapkan masuk kategori Prioritas I karena mengalami kerusakan berat atau kerusakan total serta gangguan terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Sebanyak 5.523 siswa tercatat berada di 32 satuan pendidikan yang masuk kategori Prioritas I tersebut.
Selain menyediakan ruang belajar sementara, Kemenag melakukan pemetaan kebutuhan perlengkapan sekolah atau school kit bagi siswa dan satuan pendidikan terdampak.
Jumlah paket perlengkapan sekolah yang akan diberikan masih disesuaikan dengan hasil verifikasi penerima di lapangan agar bantuan memenuhi kebutuhan aktual dan tepat sasaran.
Kemenag selanjutnya memperkuat koordinasi dengan jajaran di daerah untuk menindaklanjuti kebutuhan madrasah yang telah masuk kategori Prioritas I.
Koordinasi juga dilakukan untuk memperbarui data satuan pendidikan kategori Prioritas II sehingga penanganan dan dukungan terhadap madrasah terdampak gempa dapat disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masing-masing.




