VIVA – Perubahan industri video game dalam beberapa tahun terakhir ikut mengubah cara pemain menikmati permainan. Jika generasi sebelumnya terbiasa membeli game secara penuh lalu memainkannya sampai selesai, sebagian Gen Z tumbuh bersama game gratis, multiplayer online, battle pass, dan layanan yang terus mendapatkan pembaruan.
Perubahan tersebut bukan sekadar persoalan usia. Ekosistem game yang tersedia ketika seseorang mulai mengenal video game ikut membentuk kebiasaan bermain.
Game seperti Fortnite, Roblox, Minecraft, Genshin Impact, Valorant, hingga berbagai judul live service membuat bermain game tidak selalu berarti membeli satu produk kemudian menyelesaikannya. Permainan bisa menjadi ruang sosial yang terus berubah.
Berikut VIVA telah merangkumnya Sabtu, 22 Agustus 2026.
Game Gratis Menurunkan Hambatan untuk Mulai Bermain
Salah satu perubahan terbesar adalah semakin kuatnya model free-to-play. Pemain tidak harus membeli game terlebih dahulu untuk mencoba pengalaman dasarnya. Model ini membuat seseorang dapat mengunduh game, membuat akun, lalu langsung bermain.
Epic Games, misalnya, menjelaskan bahwa Fortnite Battle Royale dapat dimainkan secara gratis dan tersedia di berbagai platform. Model tersebut kemudian dikembangkan dengan berbagai pengalaman tambahan dalam ekosistem Fortnite.
Mereka tidak selalu memandang game sebagai produk yang harus dibeli di awal. Game justru dapat menjadi layanan yang terus berkembang dan menghasilkan pendapatan melalui kosmetik, battle pass, atau konten tambahan.
Live Service Mengubah Arti "Selesai" dalam Game
Pada era game single-player klasik, ada titik yang relatif jelas ketika permainan selesai. Pemain menamatkan cerita, membuka seluruh konten, kemudian mungkin memainkan kembali game tersebut.
Model live service menawarkan pendekatan berbeda. Game mendapatkan musim baru, karakter baru, item kosmetik, event, kolaborasi, hingga perubahan gameplay secara berkala.
Riot Games menjelaskan bahwa League of Legends terus mendapatkan pembaruan untuk memperbaiki pengalaman pemain dan menghadirkan konten baru.
Artinya, pemain tidak selalu datang untuk "menamatkan" game. Mereka datang untuk mengikuti perkembangannya.
Inilah salah satu alasan mengapa pola bermain Gen Z bisa terlihat berbeda dibandingkan gamer yang tumbuh ketika game masih didominasi pengalaman offline.





