Kabar duka datang dari lokasi pengungsian gempa NTT tepatnya di Kabupaten Nagekeo. Mario Calviano Guru, balita berusia 2 tahun, meninggal dunia bukan akibat reruntuhan gempa, melainkan karena kedinginan di tenda pengungsian.
Mario sempat bertahan di posko pengungsian Bukit Puta pascagempa yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus lalu. Kondisi di sana minim selimut dan air bersih. Ia lalu mengalami demam tinggi, tubuhnya kaku dan kejang, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit pada Kamis (20/8).
Kisah Mario jadi pengingat bahwa dalam situasi darurat seperti bencana alam, ancaman terhadap anak tak selalu datang dari bencana itu sendiri, tapi juga dari kondisi pengungsian yang minim perlindungan terhadap suhu dingin.
Kenapa Anak Lebih Rentan Hipotermia Dibanding Orang Dewasa?Mengutip CDC, secara fisiologis, tubuh anak—terutama balita—memang jauh lebih rentan kehilangan panas dibanding orang dewasa. Beberapa faktor yang membuat mereka lebih berisiko:
1. Rasio permukaan tubuh yang lebih besar dibanding berat badan
Anak kecil memiliki luas permukaan kulit yang jauh lebih besar dibandingkan volume tubuhnya jika dibandingkan dengan orang dewasa. Semakin besar rasio ini, semakin cepat pula panas tubuh hilang ke lingkungan sekitar, karena thermoregulasi dipengaruhi banyak faktor termasuk rasio luas permukaan tubuh terhadap volume.
2. Sistem pengaturan suhu tubuh yang belum matang sepenuhnya
Bayi dan anak kecil memiliki mekanisme termoregulasi yang belum matang, metabolisme yang lebih tinggi, serta ambang berkeringat yang berbeda dari orang dewasa.
Kemampuan menggigil yang merupakan respons tubuh untuk menghasilkan panas, juga belum berkembang optimal di usia balita.
3. Lebih rentan saat kondisi tubuh sedang lemah
Dalam situasi pengungsian, anak biasanya juga mengalami kelelahan, kurang asupan gizi, dan kurang tidur—kombinasi yang membuat tubuhnya semakin sulit mempertahankan suhu normal.
4. Bayi di bawah 1 tahun termasuk kelompok risiko tertinggi
Menurut data yang pernah dipublikasikan lembaga kesehatan masyarakat AS, meski kematian akibat hipotermia pada anak tergolong jarang secara umum, bayi di bawah usia 1 tahun termasuk kelompok yang berisiko relatif tinggi mengalami hipotermia.
Tanda Bahaya Hipotermia pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua- Kulit dingin, pucat, atau kebiruan
- Anak tampak sangat lemas atau justru rewel berlebihan
- Menggigil hebat, lalu tiba-tiba berhenti menggigil (justru pertanda memburuk)
- Napas dan detak jantung melambat
- Sulit dibangunkan atau kesadaran menurun
Jika muncul tanda-tanda ini, terutama dalam situasi darurat seperti pengungsian, segera bawa anak ke tenaga kesehatan terdekat.
Langkah yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Situasi Darurat- Prioritaskan selimut dan pakaian kering untuk anak dan bayi
- Dekap anak langsung ke tubuh (skin-to-skin) bila selimut terbatas
- Tutupi kepala anak, karena area ini adalah titik kehilangan panas terbesar
- Hindari anak bersentuhan langsung dengan lantai atau tanah dingin
- Segera cari bantuan tenaga medis begitu tanda-tanda bahaya muncul
Kepergian Mario menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak di masa darurat bukan hanya soal menyelamatkan mereka dari reruntuhan, tapi juga memastikan kebutuhan dasar seperti kehangatan tubuh tetap terpenuhi.





