Oleh: Yusuf Maulana, Pensyarah Perpustakaan Samben Yogyakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ya, ada yang amat beda. Kalau saya setidaknya. Merasa beda itu. Bukan dengan kacamata iman, yang diri ini al-faqir belaka. Ini amatan kejujuran. Tak peduli arah juang yang kita klaim: lama ataukah baru. Kemanusiaan atas nama ketuhanan harusnya di atas kesetiaan pada koalisi politik bergaransi kursi menteri, wakil menteri.
Kawan, perhatikan dengan jujur. Di grup WA kalangan kita. Kontras di era kuasa terdahulu. Ini bukan soal posisi sebagai oposisi atau bukan. Tak urgen. Ini soal pemihakan pada kezaliman; pada manusia, hewan, tumbuhan, alam, dan masa depan anak keturunannya.
Kawan, tak ada cerita anak-anak yang jadi korban keracunan. Tak ada bahasan tentang koperasi pengatasnama kesejahteraan rakyat. Tak ada bicara empati menyebutkan perjuangan perih rakyat Aceh selepas banjir tahu lalu.
Dan masih tiada suara mewartakan bagaimana perut perih rakyat timur Nusa Tenggara. Atau nestapa rakyat dipapar asap pembakaran hutan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Grup WhatsApp kita sepi. Senyap, tanpa ada minat membahas agenda-agenda tadi. Ada ruang berpikir dan berpeduli yang beda di antara dua musim semi politik. Di luar dan di dalam kuasa cukup gambarkan arti rasa merasa.
Tapi kita memandang yakin kalau semua baik-baik saja. Tiada yang berubah. Termasuk pemimpin yang kita bela. Atas nama geopolitik, maqashid syariah hingga penghancur oligarki. Rapalan mantra apologi kita memang itu adanya. Dan kita tak ingin ada anak-anak muda macam Bima, Askar atau Fatimah. Mereka yang di masa lalu imajinasi kehebatan pelanjut kita, tapi kini monster bedebah antek asing si Soros menghalang mantra sakti. Geopolitik-maqashid-antioligarki.
Grup kita lebih senyap soal peduli. Karena ukurannya sudah kita ubah. Secara sadar sebagai ongkos afiliasi politik koalisi. Airmata kita bukan soal rakyat mati, anak-anak sakit akut, hewan bertumbangan. Airmata kita tentang kenapa anak-anak muda pintar itu masih saja demonstrasi ditunggangi oligarki. Oligarki bikinan fantasi di kepala kita ini.
Dan airmata malaikat, andai ada, tak jemu berhamburan. Iba pada orang-orang saleh yang menangis di momen terbalik.
Ke mana suara-suara riuh menuntut keadilan dan kebenaran tahun-tahun lalu? Ke mana bincang penuh emosi karena cinta atas tegaknya muruah hukum tapi kini enggan bersuara? "Oh, kita kan sekarang di dalam. Bersama kekuasaan. Tak perlu kritis, tapi kita juga berjuang. Beda cara mainnya, Akhi!" Argumen engkau dan serombongan lain. Sembari memantra: maqashid syariah, geopolitik, antioligarki. Seolah-olah musuh itu dari luar, padahal dialah--si pemimpin negeri--pencipta musuh itu.
Kalau ada prihatin bersemayam di hati, kalau ada perhatian tulus pada segenap anak negeri, kalau memandang tiap saran kritik sebagai bentuk empati, tak perlu ada takut pada mantra pengusir "asing", londho ireng. Semua itu ciptaan pemimpin, dan kita mengamini di barisan koalisi.
Kita lupa, maqam kemanusiaan sementara itu merosot drastis. Karena memilih bungkam demi stabilitas negeri, demi strategi ciamik pemimpin Republik, demi geopolitik berwibawa. Lupa bahwa itu semua omongan kosong belaka.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.