Gelombang unjuk rasa menentang lonjakan biaya hidup dan memburuknya kondisi sekolah di Prancis berujung ricuh. Ratusan ribu warga yang turun ke jalan terlibat bentrok dengan aparat, mengakibatkan sejumlah fasilitas umum hancur, ratusan petugas terluka, dan ribuan orang ditangkap.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sedikitnya 2.000 orang telah ditangkap di seluruh penjuru negeri akibat terlibat aksi perusakan dan penjarahan toko. Bentrokan fisik yang tidak terhindarkan juga menyebabkan lebih dari 500 petugas keamanan dan pemadam kebakaran mengalami luka-luka.
Di ibu kota Paris, bentrokan sengit antara petugas keamanan dan demonstran terus memanas. Aparat kepolisian terpaksa menembakkan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan massa. Situasi kian tak terkendali ketika sekelompok massa bertopeng membakar kendaraan dan sepeda, serta melemparkan kembang api ke arah barisan petugas.
Baca Juga :
Kemlu: Tidak Ada yang Terlibat Demonstrasi Prancis, WNI Diminta WaspadaKerusuhan dan vandalisme serupa turut melanda kota-kota lain. Di Kota Lyon, sekelompok massa berpenutup kepala merusak sekaligus membakar kantor pariwisata setempat hingga hancur. Sementara itu, aksi pembakaran juga dilaporkan terjadi di Kota Limoges yang mengakibatkan atap balai kota ambruk.
Menanggapi eskalasi kerusuhan yang kian meluas, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras aksi anarkistis tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan toleransi dan seluruh pelaku perusakan akan diproses secara hukum.




