Frans Banninck Cocq baru beberapa tahun naik pangkat dari letnan menjadi kapten pasukan pengawal sipil Amsterdam di bawah pemerintahan Wijk II. Sekitar tahun 1640-an, ia menugaskan seniman-seniman utama untuk melukis potret semua anggota kompi yang berbasis di Kloveniersdoelen—yang sekarang jadi Hotel Doelen, sebuah aula besar tempat para penembak jitu berkumpul.
Salah satu pelukis populer kala itu, Rembrandt Harmenszoon van Rijn, diminta menggambar sketsa dirinya bersama 17 anggota milisi. Untuk masing-masing kepala, Rembrandt mendapatkan 100 guilder (mata uang lama Belanda), kecuali untuk penambuh drum yang digambar cuma-cuma.
Lukisan ini sejatinya tak punya nama resmi. Ia disebut dengan "Militia Companny of District II under the Command of Captain Frans Banninck Cocq" atau "The Shooting Company of Frans Banning Cocq and Willem van Ruytenburch". Baru beberapa puluh tahun kemudian, lukisan ini dikenal dengan nama "The Night Watch" karena dikira menggambarkan suasana malam.
Sebenarnya ada setidaknya 35 lukisan potret di Kloveniersdoelen. Tapi enam lukisan terakhir yang tergantung di ruangan besar dianggap sebagai satu seri koleksi. Selain lukisan Rembrandt, lima karya lainnya adalah karya Joachim von Sandrart, Govert Flinck, Nicholaes Eliaszn Pickenoy, Jacob adriaenszn Backer, dan Bartholomeus van der Helst yang selesai digarap di tahun yang berbeda-beda.
Sejarawan Dudok van Heel menemukan, masing-masing lukisan itu terlihat serasi dan terpasang pada panel kayu di sepanjang dinding ruangan. Hanya karya Rembrandt saja yang terlihat agak berbeda dari segi komposisi dan warna, sehingga diduga Rembrandt memang tidak mematuhi aturan komisi yang diberikan kepadanya.
Joseph Manca, penulis dan profesor di Departemen Seni Budaya, Rice University, menilai Rembrandt sengaja menciptakan "lapisan kompleks yang dramatis" di lukisan ini. Dua sosok utama di bagian depan, Kapten Frans Banninck Cocq dan Letnan Willem van Rytenburch, yang terlihat tenang menunjukkan bagaimana kedua perwira tinggi ini terus menjalankan tugas meski banyak gangguan di belakang mereka.
Para Penyusup dan Kejatuhan RembrandtBanyak yang mengaitkan lukisan "The Night Watch" dengan kejatuhan Rembrandt. Meski begitu sukses, Rembrandt meninggal dunia di usia 63 tahun dan dikubur dalam makam tanpa nisan di lahan gereja. Seperti orang-orang yang meninggal dalam keadaan miskin pada era itu, setelah 20 tahun makamnya dibongkar dan sisa jasadnya dibuang.
Konon, "The Night Watch" adalah titik balik dari kesuksesan Rembrandt. Ada yang bilang, saat lukisan ini berikan kepada pemesan, mereka kesal. Bagaimana tidak, Rembrandt dianggap tidak mengikuti aturan komisi. Pun, ada belasan figur fiktif yang ditambahkan dan lebih mencolok ketimbang para prajurit yang rela membayar mahal.
Peneliti seni, Peter Greenaway, dalam essayistic film-nya menduga lukisan ini bukan sekadar karya seni tetapi juga tuduhan visual yang dilontarkan kepada pemesan. Menurutnya, Rembrandt meninggalkan sejumlah petunjuk tentang kondisi milisi sipil ini.
Jika diamati lagi, lukisan sebesar 365 x 426 cm ini bisa jadi salah satu lukisan Rembrandt dengan komposisi paling rumit yang pernah ia kerjakan. Saat seniman lain melukis Cocq dan satuannya dengan gaya yang lebih formal, kaku, dan "terhormat", Rembrandt malah menciptakan sebuah aksi teatrikal dramais.
Rembrandt seolah ingin menggambarkan bahwa meski tugas satuan ini cuma "formalitas" belaka, tapi ada kebanggaan sipil di dalamnya. Kekuatan emosional itulah yang ingin ia hidupkan lewat gambaran kelompok orang yang terlihat "berantakan", tak bisa mengikuti perintah kapten di depannya.
Inilah yang konon membuat pesanan lukisan dari elite ke Rembrandt jadi berkurang drastis. Tapi, toh, pada kenyataannya, Rembrandt sebenarnya masih terus mendapat pesanan dan komisi dari orang-orang kaya.
Lantas, apa yang membuat Rembrandt berakhir dalam kemiskinan?Ada dua hal utama: gaya hidup mewah yang sulit diubah; dan gaya impresionisme yang sudah tak lagi populer. Saat itu, gaya lukisan halus yang dipopulerkan mantan murid Rembrandt, Gerrit Dou, yang lebih naik daun, mengalahkan ketenarannya. Rembrandt harus menunggu sebelum bisa "ditemukan lagi".
Bahkan, lukisan "The Night Watch" sebenarnya baru tenar di tahun 1790-an. Saat itu catnya sudah menggelap dan membuat adegan yang sebenarnya digambarkan sore atau siang hari, seperti adegan malam yang lebih misterius. Karena itulah, lukisan ini kemudian disebut "The Night Watch".
Satu tahun setelah "The Night Watch" selesai, istri Rembrandt, Saskia, meninggal dunia karena sakit. Kepergian Saskia menambah deretan duka yang dialami Rembrandt. Sebelumnya, pasangan ini punya tiga anak yang meninggal saat bayi. Hanya satu anak mereka saja, Titus, yang berhasil bertahan hingga dewasa—pun usianya tak sepanjang itu karena ia meninggal saat Rembrandt masih hidup.
Kematian Titus menjadi puncak tragedi di hidup Rembrandt, yang diperparah dengan kondisi finansialnya yang memburuk selama 20 tahun terakhir hidupnya. Kebangkrutan itu membuat Rembrandt harus menjual rumah besarnya (yang kini jadi Rembrandt House Museum), dan melelang koleksi seni serta barang antiknya.





