KUPANG , KOMPAS - Pemotongan dana transfer ke daerah sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, anggaran yang tersedia tidak cukup untuk pembangunan jalan. Warga pun urunan membeli semen, kerikil, dan pasir untuk melanjutkan pembangunan.
Salah satu ruas jalan terdampak adalah yang menghubungkan Desa Baniona, Oyang Barang, dan Desa Kawela di Kecamatan Wotan Ulumado. Panjang jalan dimaksud lebih kurang tujuh kilometer. Itu jalan negara yang didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten.
Muhammad Don Soge (41), warga, lewat sambungan telepon pada Senin (19/10/2026) menuturkan, pembangunan jalan itu berlangsung secara bertahap selama beberapa tahun terakhir. "Tiga empat tahun, bangun satu kilometer. Terus pas lanjut lagi, jalan yang sudah dibangun lebih dulu mulai rusak," ujarnya.
Tahun ini, katanya, ruas jalan yang dibangun hanya 900 meter dengan anggaran sekitar Rp 2 miliar. Pembangunan jalan itu belum tuntas. Sekitar dua kilometer tersisa belum selesai dibangun. Rencananya, baru akan dibangun beberapa tahun mendatang.
"Ini kan tidak jelas kapan mau dibangun. Dulu saat belum ada efisiensi saja tiga sampai empat tahun baru terbangun satu kilometer. Nah, sekarang kan lagi efisiensi jadi pasti akan lama. Nasib pembangunan jalan semakin tidak jelas," katanya.
Melihat kondisi tersebut, warga setempat bersepakat untuk mengerjakan jalan dengan anggaran swadaya. Mereka ingin menuntaskan pembangunan jalans tanpa menunggu anggaran dari pemerintah yang dianggap kian tidak pasti.
Kepala Desa Oyang Barang Laurensius Lega Ama menambahkan, warga mengumpulkan uang untuk membeli semen, kerikil, dan pasir serta menyewa truk pengaduk semen. Mereka bekerja secepatnya sebelum musim hujan tiba menjelang akhir tahun.
"Karena kalau sudah musim hujan, hancur semua jalan di sini. Apa yang sudah kami upayakan akan sia-sia. Kami kerja kelompok dari pagi sampai hampir malam. Masyarakat bersemangat karena sebentar lagi akan tuntas," katanya.
Serial Artikel
TKD 2026: Efisiensi atau Sentralisasi?
Efisiensi fiskal tidak boleh mengorbankan prinsip solidaritas dan otonomi daerah karena keduanya adalah fondasi pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
Ketika belum dibangun, ruas jalan itu sering menimbulkan kecelakaan. Banyak truk penumpang terbalik pada musim hujan, yang menimbulkan korban. Warga yang sakit dan hendak dibawa ke puskesmas harus melewati jalan itu. Banyak yang meninggal di jalan.
Menurutnya, masyarakat setempat mendesak pemerintah kabupaten agar segera menyelesaikan pembangunan jalan. Namun setelah mengetahui adanya pemotongan dana transfer ke daerah secara nasional, mereka pun sadar bahwa pemerintah daerah sedang kesulitan.
Terlebih, wilayah seperti Flores Timur yang terdiri atas tiga pulau di mana banyak wilayah belum tersentuh pembangunan. Banyak jalan negara yang belum terbangun sejak Indonesia merdeka. "Pemerintah daerah juga kesulitan membagi anggaran yang kecil ini," ujarnya.
Lega pun memaparkan, akses jalan yang memadai akan menumbuhkan ekonomi di daerah. Ruas jalan yang dikerjakan swadaya itu, menghubungkan sentra pertanian dan pasar. Daerah yang sejuk itu kaya akan kopi, kemiri, vanili, dan cengkeh.
Ia yakin, setelah jalan selesai dibangun, akan datang perubahan besar bagi masyarakat setempat. Petani akan dengan mudah menjual hasil kebun ke pasar. Begitu juga anak-anak sekolah semakin rajin pergi ke sekolah.
Sementara itu, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen yang dihubungi secara terpisah mengakui, lambatnya pembangunan jalan pada ruas dimaksud lantaran keterbatasan anggaran. Pemotong dana transfer ke daerah semakin memperparah kondisi tersebut.
Selama ini, anggaran pembangunan Flores Timur sangat bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. Itu pun sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai. Antonius pun berjanji akan memperjuangkan penambahan dana transfer ke daerah.
Langkah yang sudah pernah dilakukan adalah mengonsolidasi semua kepala daerah untuk menyampaikan sikap ke pemerintah pusat. "Dalam waktu dekat kami akan gelar forum di Jakarta untuk membahas hal ini," katanya.
Serial Artikel
Solidaritas Tanpa Sekat Kala Adonara Berduka
Di tengah segala keterbatasan akibat bencana banjir bandang di Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur, warga bahu-membahu membantu pencarian korban dan mengantar makanan bagi para penyintas bencana.





