Seabad Sambas Mangundikarta, Wariskan Teladan Penyiaran di Era Digital

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Genap seabad sejak kelahirannya, penyiar legendaris Radio Republik Indonesia Sambas Mangundikarta meninggalkan warisan bagi dunia penyiaran di Tanah Air. Selama berkiprah sebagai penyiar, ia selalu menerapkan prinsip talk with a friend (berbincang dengan teman) sehingga pendengar memiliki kedekatan pada sosok penyiar tersebut.

Keteladanan itu terungkap dalam peringatan seratus tahun kelahirannya yang bertajuk “Sambas Mangundikarta: Mengenang Sang Legenda” di Auditorium M Yusuf Ronodipuro, RRI Pusat, Jakarta, Senin (19/10/2026). Penyiar senior RRI Kabul Budiono menyebut, prinsip yang dipegang Sambas patut dipelajari generasi penyiar masa kini, terutama di era media digital. 

Kedekatan dengan pendengar memang menjadi ciri khas Sambas. Berdasarkan kesaksian Kabul, hal itu tak hanya tercermin dari caranya bersiaran, tapi juga kesediaannya turun ke lapangan.  “Beliau bertemu petani dan mengabarkan keadaan secara langsung,” ujarnya,

Ciri khas seperti itulah, menurut Kabul, yang harus dimiliki seorang penyiar. Karakteristik menjadi semakin penting di tengah maraknya berbagai sarana penyiaran digital. “Ketika masuk ke dunia digital, jangan mencoba meniru orang lain. Jadilah diri sendiri,” ujarnya.

Dalam pandangan Kabul, komunikasi berkaitan erat dengan cara seseorang membangun citra diri. Ia menilai, ketetapan citra diri ini sangat penting karena algoritma digital yang memengaruhi jangkauan pemirsa. “Jika Anda konsisten dengan posisi yang dibangun, algoritma akan menjadikan itu sebagai modal jualan,” ujarnya.

Baca JugaPeran TVRI dalam Penyiaran Nasional

Sebaliknya, jika seorang penyiar tidak punya pendirian, Kabul menduga algoritma akan membuangnya. Kemungkinan itu bisa terjadi karena algoritma menentukan apa yang akan disaksikan pemirsa.

Jika Anda konsisten dengan posisi yang dibangun, algoritma akan menjadikan itu sebagai modal jualan.

Berbeda dengan Kabul, penyiar senior Televisi Republik Indonesia (TVRI) Yasir Den Has merisaukan kemampuan penyiar masa kini. Ia menganggap, keterampilan berkomunikasi mereka perlu ditingkatkan. “Sekarang banyak yang tampil di layar kaca, tapi gelagapan. Kosa katanya pun miskin,” keluhnya.

Para penyiar televisi ini, menurut Yasir, perlu memulai karier sebagai penyiar radio. Tanpa bantuan visual, penyiar radio terbiasa berimajinasi untuk mengabarkan sesuatu. Mau tak mau, mereka pun harus mahir bermain kosa kata.

Bekal untuk penyiar

Sementara itu, jurnalis senior Brigitta Isworo Laksmi turut menyoroti teladan lain dari sosok Sambas. Ia mengajarkan, seorang penyiar perlu bisa berpikir cepat. Kemampuan ini sangat penting ketika dia sedang melaporkan kejadian dari pandangan mata secara langsung.

Brigitta menambahkan, untuk bisa berpikir cepat, penyiar harus membekali diri dengan pengetahuan. “Kalau tidak, dia bisa mati kutu,” katanya.

Selain itu, Sambas mengajarkan teknik mengendalikan mikrofon secara tepat supaya menghasilkan suara jernih (mikrofonis). Sebab, ada orang yang piawai berbicara secara langsung. Namun, saat berhadapan dengan mikrofon, kualitas suaranya memburuk.

Mengenang legenda RRI

Tak hanya mengingat teladan dari Sambas, Brigitta juga mengenang kedekatannya dengan sang penyiar legendaris. Sejak 1970-an, suara Sambas yang kerap ia dengar di radio sudah melekat dalam ingatannya. Kendati begitu, keduanya baru berjumpa secara langsung saat Brigitta meliput pertandingan bulutangkis pada 1977.

Dari perkenalan mereka, Brigitta berkesempatan menyambangi kediaman Sambas. Mereka berbincang lebih dari satu jam. Perjumpaan tersebut membuat dia mengenal lebih jauh sosok Sambas. “Terus terang, saya kagum. Beliau luar biasa rendah hati,” kenangnya.

Terus terang, saya kagum. Beliau luar biasa rendah hati.

Kedekatan mereka terus terjalin hingga akhir hayat Sambas. Sewaktu mendengar sang penyair jatuh sakit, Brigitta menyempatkan diri untuk menjenguknya sebanyak tiga kali. Hingga Sambas mengakhiri hayat, ia turut menghadiri pemakamannya.

Kenangan akan Sambas juga masih membayangi cucunya, Indra Christian Basti. Mengikuti jejak kakeknya, dia mengabdikan diri di lembaga penyiaran publik. Selama 13 tahun, ia berkarier sebagai reporter olahraga di TVRI.

Baca JugaJejak TVRI, dari 1962 hingga Kini

Indra mengaku, dirinya mengadopsi ungkapan khas Sambas, “Saudara-saudara sebangsa dan setanah air”, saat bertugas menyiarkan acara. Di matanya, Sambas bukan hanya panutan menjalani profesi, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

” Saya berharap sosok Daddy (panggilan akrab keluarga untuk Sambas) terus dikenang. Bukan hanya sebagai penyiar, melainkan juga sebagai manusia yang rendah hati dan pekerja keras,” tutur Indra.

Kepergian Sambas Mangundikarta memang sudah berlalu lebih dari dua dekade. Namun, keteladanannya tak lekang oleh perubahan zaman. Prinsip dan nilai yang diwariskannya patut menjadi pegangan bagi generasi penerus dunia penyiaran Tanah Air.

Baca JugaRadio di Dunia yang Ingin Terlihat


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Info Terbaru Tanggal Pencairan TPG Guru Honorer, Jangan Ditahan-tahan
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Mengenal Pastor Patricio Alfredo Sanchez Molinari yang Meninggal usai Tertimpa Salib saat Pimpin Misa di Guayaquil, Ekuador
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Dugaan Kekerasan Seksual Remaja di Gurah, Dua Terduga Pelaku Diserahkan ke Polres Kediri
• 1 jam laluberitajatim.com
thumb
Aktor Bollywood Imran Khan Diminta Tinggalkan India Usai Ikut Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Beda Jauh dari Lembaga Lain, Survei SMRC soal Elektabilitas Prabowo Dipertanyakan
• 13 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.