Wukirsari Berdaya lewat Warisan Budaya

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Desa Wukirsari di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, bertransformasi dari desa sederhana menjadi desa yang berdaya. Warisan budaya leluhur berupa kerajinan wayang dan batik ikut mengungkit kesejahteraan warga melalui pariwisata.

Desa di Kecamatan Imogiri, wilayah timur Bantul, itu berjarak sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta ke arah selatan. Pada pertengahan Oktober 2026, sebagian wilayahnya berupa perbukitan yang tampak menguning dan gersang akibat lama tak diguyur hujan pada puncak kemarau.

Di salah satu puncak bukit tersebut berdiri sebuah markah penting kebudayaan Jawa, yakni Kompleks Makam Raja-raja Mataram Islam atau Makam Imogiri. Raja-raja Kesultanan Mataram sejak masa Sultan Agung pada abad ke-17, kemudian berlanjut ke Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, dikebumikan di perbukitan tersebut.

Dari makam itu pula kisah batik tulis dan wayang kulit Wukirsari bermula. Ketua Pengelola Wisata Wayang Desa Wukirsari Demy Raharja, saat ditemui Kamis (15/10/2026), menceritakan, pembuatan wayang dan batik pada mulanya dilakukan oleh para abdi dalem keraton yang bertugas mengurus kompleks makam.

”Abdi dalem yang membuat wayang kebanyakan tinggal di Dusun Pucung, sedangkan abdi dalem pembuat batik di Dusun Giriloyo,” ujar Demy.

Keterampilan membuat kerajinan itu kemudian diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Hingga kini, kedua kawasan tersebut dikenal sebagai sentra produksi wayang dan batik di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wayang kulit buatan Wukirsari bahkan dikenal pula dengan sebutan wayang pucung. Kini, wilayah Pucung telah mekar menjadi empat dusun, yakni Karangasem, Jatirejo, Karangtalun, dan Dengkeng.

Baca JugaPotret Wukirsari, Salah Satu Desa Wisata Terbaik Dunia

”Berdasarkan sensus tahun 2024, jumlah perajin wayang kulit yang masih eksis di sini sebanyak 387 orang,” ujar Demy.

Ia menjelaskan, jumlah tersebut terdiri atas perajin dengan keahlian atau spesialisasi berbeda-beda. Para perajin di Wukirsari bekerja secara bertahap sesuai dengan keterampilan masing-masing untuk menghasilkan satu wayang.

Ada perajin yang khusus mengerok atau menyiapkan bahan kulit, mulai dari kulit kerbau, sapi, hingga kambing. Setelah siap, kulit diserahkan kepada perajin lain yang khusus memahat.

Berikutnya, wayang berpindah ke perajin yang ahli menyungging atau mewarnai, lalu ke perajin yang mengeluk atau membuat dan memasang tangkai, hingga tahap menjahit. Biasanya, satu perajin hanya menguasai satu keterampilan khusus.

Baca JugaMengapa Cerita Panji Menjadi Warisan Budaya Dunia yang Harus Dilestarikan?

Menurut Demy, pola kerja itu ikut membuat wayang kulit Wukirsari dikenal berkualitas tinggi karena setiap komponennya dikerjakan oleh orang yang ahli dan berpengalaman. ”Ini juga sekaligus bermakna filosofis sebagai perwujudan nilai gotong royong dalam sepotong wayang,” kata Demy.

Namun, sebelum 2014, aktivitas warga masih berputar pada produksi dan penjualan wayang beserta produk turunannya. Kegiatan itu dilakukan di sela-sela penghidupan utama warga di bidang pertanian.

Kondisi mulai berubah setelah sebuah bank swasta nasional, yakni BCA, datang menawarkan pendampingan melalui program community development. Kekayaan wayang kulit di daerah tersebut dinilai berpotensi dikembangkan menjadi pariwisata berbasis desa. ”Aparat desa dan para perajin pun setuju,” kata Demy.

Melalui pendampingan itu, Demy memaparkan, warga yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan wisata mulai dilatih. Salah satunya melalui pelatihan menyiapkan dan mengelola homestay sebagai akomodasi wisatawan.

Pelatihan mencakup penyiapan kamar dan toilet, keramahtamahan, hingga penyajian makanan. ”Kami sempat dilatih di sebuah hotel untuk membuat makanan yang sesuai dengan standar wisata,” ujar Demy.

Kini Wisata Wayang Desa Wukirsari memiliki setidaknya 17 variasi paket wisata.

Secara bertahap, jumlah homestay bertambah dan terus dibenahi. Kini, terdapat 30 unit yang siap melayani kunjungan wisatawan. Kebanyakan wisatawan datang dari kota-kota besar, terutama Jakarta.

Bukan hanya kesiapan akomodasi dan sumber daya manusia, Wisata Wayang Desa Wukirsari juga didukung untuk mengembangkan paket-paket wisata.

Jika awalnya aktivitas wisatawan hanya seputar memahat dan mewarnai wayang kulit, kini Wisata Wayang Desa Wukirsari memiliki sedikitnya 17 variasi paket wisata.

Paket tersebut antara lain belajar mendalang, gamelan, filosofi wayang, telusur kampung wayang, pertunjukan wayang kulit, hingga trekking di alam perdesaan. Selain itu, ada pula paket pertunjukan sendratari.

Warga awalnya dilatih seni tari dan koreografi hingga akhirnya mampu menciptakan pertunjukan sendratari sendiri berjudul Gatotkaca Kalajaya. BCA juga mendukung pembangunan ampiteater berkapasitas 250 orang di desa tersebut.

Seiring waktu, wisatawan pun rutin berdatangan. Demy mengungkapkan, tahun lalu jumlah wisatawan yang menikmati berbagai paket wisata mencapai 8.000 orang. Mereka terdiri dari wisatawan domestik dan mancanegara.

Baca Juga”Slow Tourism”, Peluang Pengembangan Desa Wisata

Adapun pendapatan dari penjualan paket wisata setiap tahun berkisar Rp 500 juta-Rp 900 juta. ”Itu belum termasuk hasil penjualan produk wayang di setiap perajin dan efek dominonya ke UMKM penunjang seperti warung makan-minum,” katanya.

Melalui pariwisata, ratusan warga yang terlibat langsung ataupun tidak langsung ikut menikmati dampak ekonominya. Para perajin wayang, misalnya, menurut Demy, kini setidaknya dapat melipatgandakan penghasilan.

Parni (54), salah satu pemilik UMKM kerajinan wayang kulit di Wukirsari, mengatakan, keberadaan desa wisata membuat Wukirsari semakin dikenal. Hal itu sedikit banyak membantu pemasaran hasil kerajinannya.

Selain itu, ia juga kerap dilibatkan sebagai tenaga edukasi tentang wayang kulit ketika ada kunjungan rombongan wisatawan. ”Ini bagian dari melestarikan warisan budaya wayang juga,” ucapnya.

Baca JugaPerajin Wayang Kulit Setengah Jadi di Dusun Pucung

Parni juga memiliki sebuah homestay yang melayani wisatawan. Dalam sebulan, setidaknya satu kelompok wisatawan menginap selama 2-3 hari.

Perkembangan pariwisata di Wukirsari tak terlepas dari rintisan wisata batik di Dusun Giriloyo pada 2007. Wisata batik itu dipusatkan di Kampung Batik Giriloyo yang pengelolaannya berada di bawah Desa Wisata Wukirsari, terpisah dari pengelolaan wisata wayang di Pucung.

Sekretaris Pengelola Desa Wisata Wukirsari Ahmad Bahtiar mengatakan, transformasi pariwisata tersebut bermula dari pendampingan sejumlah lembaga dan organisasi masyarakat sipil pascagempa Bantul 2006 yang berdampak besar di desa tersebut.

Awalnya, pendampingan difokuskan pada pemulihan psikologis para penyintas bencana. Setelah itu, arah pendampingan bergeser untuk membantu membangkitkan perekonomian masyarakat yang terpuruk.

Batik tulis kemudian dipilih sebagai salah satu motor karena menjadi kerajinan yang banyak ditekuni warga. Kerajinan tradisional itu kemudian dikombinasikan dengan pariwisata hingga pada 2010 dibentuk Desa Wisata Wukirsari.

Harapannya ini bisa terus berkelanjutan ke generasi selanjutnya.

”Konsepnya adalah pariwisata berbasis masyarakat. Artinya, dari, oleh, dan untuk masyarakat,” ujar Bahtiar.

Ia mengatakan, saat ini wisata batik Giriloyo menyedot sekitar 45.000 kunjungan wisatawan setiap tahun. Adapun pendapatan yang diraih tahun lalu mencapai Rp 3,3 miliar.

Wukirsari juga terpilih sebagai salah satu dari 55 Desa Wisata Terbaik Dunia Tahun 2024 oleh Badan Pariwisata PBB (UNWTO). ”Slogan kami, ’berbudaya, sejahtera, mendunia’. Harapannya, ini bisa terus berkelanjutan ke generasi selanjutnya,” tuturnya.

Saat dimintai pandangannya secara terpisah, sosiolog Universitas Gadjah Mada, Derajad Sulistyo Widhyharto, menilai transformasi yang dialami Wukirsari sebagai hal positif. Upaya membangun desa melalui jasa pariwisata memiliki dampak yang dinikmati banyak warga dan berpotensi berkelanjutan.

Hal itu berbeda dengan desa yang mengandalkan kegiatan ekstraktif, misalnya pertambangan pasir. ”Biasanya pengembangan ekonomi ekstraktif seperti itu tak bertahan lama dan belum tentu bisa lebih sejahtera daripada pariwisata,” ucapnya.

Baca JugaMembangun Desa Mandiri, Mulai dari Potensi Lokal

Menurut Derajad, desa-desa yang sukses mengembangkan pariwisata lazimnya memiliki tiga fondasi utama, yakni partisipasi aktif masyarakat, kepemimpinan desa yang baik, dan dukungan pihak eksternal, seperti organisasi masyarakat sipil ataupun sektor swasta, dalam meningkatkan kapasitas desa.

Kesuksesan desa wisata juga dinilai Derajad ditopang kecenderungan pasar wisata saat ini yang meminati pertemuan antara aspek tradisi-budaya dan modernitas. ”Hampir semua desa wisata yang sukses memadukan antara tradisionalitas dan modernitas itu,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penembakan Bharatu Faldo oleh Bharada AR, Pengacara: Kami Curigai Pelaku Tak Bertindak Sendiri
• 19 jam laludisway.id
thumb
Antisipasi Krisis Lahan Makam, Surabaya Sediakan Lahan 50 Ha di Sumberejo
• 1 jam laludetik.com
thumb
BEI Imbau Investor Institusi Domestik Lebih Aktif di Tengah Tekanan IHSG
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Hingga September, Realisasi Investasi Rp1.539 Triliun Serap 2,19 Juta Pekerja
• 32 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Surat Terbuka Untuk Jokowi dari Refly Harun: Hadiri Sidang Pembuktian Pekan Depan!
• 17 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.