Laporan Liputan6.com dari Makau: Menyusuri Satu-satunya Masjid di Kota Kasino

liputan6.com
5 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Bus yang saya tumpangi berhenti di sisi kiri jalan pada 14 Oktober 2026, pukul 11.00. Tak sampai semenit berjalan kaki, saya tiba di sebuah kompleks masjid.

Di bagian atas kiri gerbang tertulis Macau Mosque and Cemetery. Di sisi kanannya, nama yang sama terpampang dalam bahasa Portugis. Mesquita e Cemitério de Macau.

Advertisement

Begitu melangkah masuk, suasana terasa teduh. Pepohonan tumbuh di berbagai sudut kompleks. Daun-daunnya bergoyang diterpa angin siang. Udara sejuk menyambut saya dari balik gerbang.

Tak jauh dari sana, seorang petugas duduk di pos jaga. Dia mengingatkan pengunjung agar mematuhi aturan selama berada di kompleks masjid. Dua petugas lain berjaga di dekat bangunan masjid. Handy talky terselip di saku kiri mereka.

Saya berbincang dengan salah satu petugas, Dip. Berasal dari Pakistan, dia cukup fasih berbahasa Melayu karena pernah bekerja di Malaysia.

Lebih dari setahun bertugas di kompleks itu, Dip melihat masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah dan berkumpul warga muslim di Makau. Wisatawan dari berbagai negara juga datang berkunjung.

“Kalau wisatawan asing, lebih banyak asal Indonesia yang datang ke masjid ini,” katanya.

Saya kemudian bergeser ke sisi kiri kompleks. Di sana terbentang pemakaman Muslim. Sejumlah makam tampak telah berusia sangat tua. Bahkan disebut ada yang sudah ratusan tahun.

Saya lalu berjalan ke bagian belakang masjid. Tempat wudu perempuan berada di sana. Sementara tempat wudu laki-laki terletak di sisi kanan bangunan.

Di dalam masjid, udara terasa sejuk. Lantainya yang dingin membuat saya betah berlama-lama. Dua rak buku berdiri di sisi kiri dan kanan mimbar khotbah. Lampu dan kipas angin menggantung di plafon.

Bangunan itu didominasi warna putih. Pintu dan jendelanya berwarna hijau. Ukurannya tak besar. Sekitar 6,5 × 12 meter atau kurang lebih 78 meter persegi. Jika dibandingkan dengan masjid-masjid di Indonesia, ukurannya mungkin lebih menyerupai musala.

Kunjungan ini merupakan bagian dari perjalanan saya ke Makau bersama AirAsia dan Macao Government Tourism Office (MGTO). Saya berangkat dari Indonesia pada 11 Oktober dan sempat transit di Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum melanjutkan penerbangan ke Makau.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Soal Perbedaan Hasil Survei, Pengamat: Perlu Penjelasan Metodologis
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
2 Terduga Pelaku Bullying Bocah Down Syndrome hingga Meninggal Diperiksa di RSJ
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Istana: Indeks Kerukunan Umat Beragama Tertinggi Sejak 2015
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Pep Guardiola Minta Dunia Tak Melupakan Penderitaan Warga Palestina
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
PKS Siap Jadi Jembatan Aspirasi Publik soal Polemik Ijazah Gibran, Minta Ditindaklanjuti di DPR
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.