Jakarta: Pemerintah menguji coba penggunaan dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. OMC dry ice ini bertujuan untuk mengurangi dampak asap akibat kebakaran dan hutan (karhutla) di dua wilayah tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan mengatakan inovasi ini menjadi alternatif teknologi penyemaian awan yang dijalankan bersama metode konvensional menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl). Suhu ekstrem dry ice berpotensi memicu pembentukan kristal es di awan sehingga mendukung proses presipitasi atau turunnya hujan.
“Es ini sifatnya sangat solid dan temperaturnya sangat ekstrem, bisa di bawah minus 78 derajat Celsius. Ini merupakan karbon dioksida yang padat. Suhu dinginnya secara cepat dapat memicu pembentukan kristal es di awan hingga turun menjadi hujan secara alami dan ramah lingkungan,” ujar Berton dalam konferensi pers, Selasa, 20 Oktober 2026.
Baca Juga :
TNI AU Kerahkan Pesawat NC-212 untuk Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan“Keuntungan dari dry ice ini, dampaknya bisa segera kita lihat, di mana visibility atau jarak pandang membaik. Tentu, dry ice ini bisa menarik bibit-bibit air, sehingga berpotensi menemukan hujan di angkasa, sehingga OMC juga bisa dilaksanakan dengan segera,” jelasnya.
Operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice. (Dok. BNPB)
Meski diklaim efektif, Berton menekankan bahwa eksekusi modifikasi cuaca tetap mutlak bergantung pada kondisi alam, terutama ketersediaan awan penyemaian. Ia membandingkan keberhasilan OMC di Riau dengan kegagalan operasi di Jambi akibat minimnya bibit awan.
“Untuk OMC di Riau sudah berakhir pada 25 September 2026, karena memang di sana sudah ada hujan alami yang terjadi. Sedangkan di Jambi kita tidak bisa melakukan penyemaian ataupun melakukan OMC, mengingat di sana tidak ada awan yang kurang mendukung, serta adanya feasibility yang relatif rendah,” kata dia.




