Podium MI: Kecemasan yang Terakumulasi

metrotvnews.com
8 jam lalu
Cover Berita

ANTREAN panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali pertengahan Oktober ini memperlihatkan betapa cepat kecemasan menjalar ketika kebutuhan sehari-hari terasa terancam. Orang berbondong-bondong membeli BBM, khawatir kehabisan sebelum sempat mengisi buat kendaraan mereka.

Masyarakat mungkin tidak tahu pokok persoalan yang menyebabkan kelangkaan itu terjadi. Yang mereka tahu tiba-tiba cadangan BBM di SPBU menipis. Yang mereka lihat banyak orang sudah mengantre hingga ratusan meter panjangnya. Bagaimana mereka tidak merasa cemas? Bagaimana mereka tidak panik?

'Kalau tidak ikut mengantre sekarang, bisa jadi besok sudah tidak kebagian BBM'. Begitu barangkali yang ada di pikiran mereka. Pemikiran yang sama dari ribuan orang itulah yang membuat hampir seluruh SPBU di Bali dipenuhi orang mengantre. Makin lama, antrean makin panjang. Di beberapa ruas jalan utama menuju SPBU di kawasan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, antrean bahkan mengular hingga 5 km.

Apa pelajaran penting di balik peristiwa itu? Satu hal yang bisa kita catat ialah ketika orang merasa tidak memiliki kepastian, mereka cenderung mengambil tindakan untuk menyelamatkan diri sendiri. Di Bali, ketika itu, tidak ada yang ingin menjadi orang terakhir yang kehabisan BBM atau terlambat mengamankan kebutuhan.

Kepanikan di Bali belum surut, kepanikan lain muncul di Jakarta. Gejala serupa, tapi dalam bentuk berbeda, terlihat di pasar saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 11,57% pada Jumat, 16 Oktober 2026, setelah penyedia indeks global MSCI membuka kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia. Dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri).

Antrean pengisian BBM di SPBU Bali berkurang. Foto- Dok Pertamina Patra Niaga

Pasar langsung tertekan di tengah kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian transparansi dan tata kelola pasar modal. Indeks terus merosot bahkan berlanjut hingga penutupan perdagangan Senin, 19 Oktober 2926. Seperti halnya kelangkaan BBM di Bali, gejolak bursa di Jakarta juga menunjukkan kecemasan terhadap ekonomi bisa menyebar dengan cepat melalui ekspektasi dan sentimen.

Antrean BBM dan gejolak pasar saham tentu bukan persoalan yang sama. Namun, keduanya menunjukkan fakta yang mirip, yaitu bagaimana ketidakpastian dapat memengaruhi keputusan orang banyak dengan seketika. Ketika risiko terasa membesar, orang lebih gampang panik dan cenderung bergerak lebih cepat ketimbang informasi yang mereka miliki.

Celakanya, kepanikan yang terlalu cepat menyebar justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Orang yang membeli BBM lebih banyak karena takut kehabisan ikut mempercepat habisnya pasokan di SPBU. Investor yang menjual saham karena khawatir harga terus jatuh dapat memperbesar tekanan jual. Tindakan yang semula dimaksudkan untuk melindungi diri malah bisa memperburuk keadaan secara bersama-sama.
 

Baca Juga :

Menteri ESDM Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman dan Masalah Distribusi di Bali Terurai


Akan tetapi, semata-mata menyalahkan kepanikan masyarakat sama sekali tidaklah adil. Bagi pengendara di Bali, BBM bukan barang yang bisa begitu saja ditunda kebutuhannya. Di balik 1-2 liter bensin, ada orang yang harus bekerja mencari nafkah, mengantar anak, atau menjalankan usaha. Begitu pula bagi investor, di belakang penurunan harga saham itu ada uang yang mereka pertaruhkan.

Artinya, ada alasan di balik lahirnya kecemasan dan kepanikan itu. Ada risiko yang nyata, ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada kekhawatiran jika terlambat bertindak, kerugian akan semakin besar. Sementara itu, di sisi lain, tidak ada kejelasan bahwa situasi yang serbatidak pasti itu akan bertahan sampai kapan. Siapa pula yang sanggup menanggung ketidakpastian berhari-hari?

Karena itu, menjadi terdengar konyol ketika solusi yang kerap ditawarkan ke masyarakat justru sekadar narasi yang meminta mereka supaya tenang dan tidak panik. Lebih terdengar seperti basa-basi ketimbang solusi. Seharusnya yang dilakukan para pemegang otoritas ialah memastikan masyarakat memiliki alasan untuk merasa tenang.

Dalam persoalan BBM, pemerintah dan pengelola distribusi perlu memastikan pasokan bergerak lancar, hambatan bongkar muat segera diatasi, dan informasi ketersediaan barang disampaikan secara jelas. Penambahan cadangan setelah kekacauan terjadi memang penting, tetapi pencegahan gangguan serupa agar tidak berulang jauh lebih penting.

Begitu juga dalam gejolak pasar modal, pernyataan bahwa fundamen ekonomi tetap baik kiranya belum cukup untuk memulihkan kepercayaan. Ketika investor mempertanyakan transparansi dan tata kelola, jawaban yang dibutuhkan ialah pembenahan yang konkret. Kepercayaan tidak tumbuh hanya karena otoritas meminta pasar bersikap tenang.

Tentu, masyarakat juga memiliki tanggung jawab. Mereka perlu tahu tak perlu ikut-ikutan panic buying hanya karena orang lain melakukannya. Keputusan ekonomi pun sebaiknya tidak diambil hanya mengikuti arah angin sebagian besar pemain pasar. Kepanikan yang terlalu cepat menyebar tanpa kendali malah berpotensi menimbulkan masalah baru.

Namun, berharap masyarakat selalu rasional di tengah ketidakpastian tanpa menyediakan informasi dan jaminan penyelesaian yang memadai ialah tuntutan yang tidak realistis. Kepastian harus dibangun terlebih dulu sebelum kecemasan setiap orang terakumulasi menjadi kepanikan massal. Sekalinya terlambat, fatal akibatnya. Itulah yang terjadi di Bali. Itulah yang melanda lantai Bursa Efek Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Poltracking: MBG Jadi Program Pemerintah yang Paling Dirasakan Manfaatnya
• 19 jam lalucumicumi.com
thumb
DEN bahas reformasi pasar modal dan penegakan hukum bersama Presiden
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Sidang Perdana Silmy Karim Cs bakal Digelar pada 29 Oktober
• 4 jam laluokezone.com
thumb
BMKG Peringatkan Gelombang hingga 4 Meter akibat Siklon Tropis Champi, Ini Wilayahnya
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
RI Dapat Durian Runtuh! Nilai Ekspor Ini Bisa Tembus Rp900-an Triliun
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.