JAKARTA, KOMPAS — Tahapan gladi bersih tes kemampuan akademik atau TKA yang digelar seluruh satuan pendidikan di Indonesia telah selesai. Para murid yang mendaftar TKA diminta untuk bersiap menjalani tes tanpa terbebani seperti zaman ujian nasional beberapa tahun lampau.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Rahmawati menjelaskan, murid tidak perlu terbebani TKA karena tes ini tidak sama dengan ujian nasional (UN) seperti zaman dulu. Keikutsertaan murid dalam TKA tidak wajib dan tidak ada paksaan, nilainya juga tidak menentukan kelulusan seorang murid.
”Namun, perlu dicatat, kalau siswa punya sertifikat hasil TKA ini, posisinya bakal jauh lebih diuntungkan karena dokumen tersebut punya nilai jual yang lumayan tinggi saat mereka mau bersaing masuk bangku kuliah di PTN (perguruan tinggi negeri) atau ketika melamar pekerjaan nanti,” kata Rahmawati melalui siaran pers, Selasa (20/10/2026).
Dia menyebut, format soal TKA lebih beragam dibandingkan dengan UN, mulai dari pilihan ganda kompleks hingga analisis infografis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penyelenggaraan TKA pun berbasis komputer sehingga memungkinkan variasi soal dibuat lebih menantang.
”Belajar itu levelnya harus sampai paham, bisa mempraktikkannya, dan mampu bernalar. Pola pikir itulah yang ingin kami bawa lewat TKA ini,” ucapnya.
Dia menegaskan bahwa TKA adalah alat ukur yang obyektif untuk menghasilkan pemetaan kemampuan akademik siswa yang terstandar secara nasional. Sebab, kurikulum dan target pembelajaran yang diterapkan sama dari Sabang sampai Merauke.
”Nah, lewat TKA ini, kita mau lihat, seberapa jauh hasilnya? Dulu memang ada pengukuran, tapi sifatnya subyektif karena standarnya beda-beda tergantung sekolah atau guru yang mengajar,” tutur Rahmawati.
Ketika murid sudah memiliki ketahanan membaca, dari situ dia bisa langsung menarik informasi, lalu mengekstraknya sebelum menjawab.
Adapun tahapan gladi bersih TKA yang sudah digelar dalam periode 5-18 Oktober 2026 menjadi fase bagi sekolah untuk menguji keandalan perangkat, jaringan, dan aplikasi, sekaligus mematangkan kesiapan adaptasi murid terhadap alur sistem TKA.
Kepala SMA Negeri 56 Jakarta Dewi Retno Lestari menilai, TKA menuntut sekolah untuk menyesuaikan strategi pembinaan murid. Menurut dia, tantangan terbesar bagi murid bukanlah sekadar menjawab soal, melainkan pada kemampuan membaca dan literasi berlapis.
”Karena dalam soal TKA itu, murid harus tahan dulu membaca stimulusnya. Nah, ketika murid sudah memiliki ketahanan membaca, dari situ dia bisa langsung menarik informasi, lalu mengekstraknya sebelum menjawab,” kata Dewi.
Selama gladi bersih, lanjut Dewi, pihak sekolah juga berupaya menjaga psikologis siswa agar tidak memandang TKA sebagai ancaman. SMA Negeri 56 Jakarta rutin menggelar pendampingan khusus setiap hari Jumat.
Melalui forum mingguan itu, anak-anak mulai diakrabkan dengan model soal multiple choice multiple answer, yaitu jenis pilihan ganda yang jawaban benarnya bisa lebih dari satu. Harapannya, mereka tidak terkejut ketika bertemu soal model seperti ini di ruang ujian.
Di sisi lain, para guru juga intens mengawal anak-anak untuk menyortir mata pelajaran pilihan yang benar-benar pas dengan minat serta arah masa depan mereka. Pengarahan minat ini tidak semata bagi murid yang berniat melanjutan kuliah, tetapi juga bagi yang ingin langsung berkarier selepas lulus sekolah.
”Sebetulnya TKA ini ibarat cermin buat anak-anak sekalian. Agar mereka bisa mengukur sendiri kapasitas dan posisi kemampuannya sudah sampai di mana,” kata Dewi.
Senada dengan itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar I Wayan Mawa juga menilai bahwa gladi bersih TKA memang harus dibuat semirip mungkin dengan kondisi tes sebenarnya. Ini berbeda dengan tahapan simulasi awal yang hanya berfokus pada pengecekan infrastruktur dasar.
”Di Gianyar sendiri, syukurlah semuanya berjalan tanpa hambatan. Anak-anak SMA dan SMK ikut ambil bagian. Esensi dari gladi bersih ini memang murni untuk melihat sejauh mana sistem kita kuat dan mental anak-anak siap sebelum bertempur di ujian utama,” kata Mawa.
Kini, setelah gladi bersih TKA sudah selesai, pihak sekolah mempunyai sisa waktu sekitar satu minggu untuk menambal segala kekurangan teknis sebelum TKA utama digelar. Bagi murid yang ingin lebih terbiasa dengan bentuk dan mekanisme TKA dapat memanfaatkan laman Ayo Coba TKA dari Pusat Asesmen Pendidikan.
Sesuai jadwal, pelaksanaan TKA akan dilakukan pada 26 Oktober hingga 8 November 2026, disusul sesi ujian susulan pada 16 hingga 29 November 2026.
Hingga batas akhir pendaftaran pada 27 September 2026, tercatat sudah ada 4.215.314 murid yang mendaftar TKA dari berbagai satuan pendidikan jenjang SMA/Sederajat di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.863.957 murid telah melengkapi proses pendaftaran.
Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan TKA Tahun 2025 yang mencatat 3.518.167 murid, dengan kenaikan sebanyak 345.790 murid atau 9,8 persen. Jumlah pendaftar dengan data lengkap masih berpotensi bertambah setelah proses penyelesaian data residu dilakukan.





