Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut realisasi investasi kumulatif di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Indonesia mencapai Rp 382,1 triliun sejak kawasan tersebut dibentuk pada 2012 hingga 30 September 2026. Namun, luas KEK Indonesia masih jauh di bawah Vietnam dan Malaysia.
Airlangga mengatakan, Indonesia saat ini memiliki 25 KEK dengan luas sekitar 24.000 hektare (ha). Sementara itu, Vietnam dan Malaysia disebut telah mengembangkan kawasan ekonomi khusus dengan luas mencapai 1,8 juta hingga 2 juta ha.
“Kalau kita bandingkan beberapa negara mendorong melalui kawasan ekonomi khusus seperti Vietnam dan Malaysia, mereka sudah punya kawasan ekonomi khusus dengan luasan 1,8 juta sampai 2 juta (ha), sedangkan kita masih 24.000 (ha),” kata Airlangga dalam Rapat Kerja Nasional KEK Triwulan III 2026 di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (21/10).
Dia berpandangan, Indonesia masih memiliki ruang yang besar untuk memperluas pengembangan KEK. Terlebih, negeri ini memiliki wilayah yang lebih luas dibandingkan sejumlah negara di kawasan.
Pemerintah menilai KEK sebagai salah satu instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk mendukung target pertumbuhan hingga 8%. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 25 KEK yang terdiri atas 13 KEK industri, enam KEK pariwisata, dua KEK kesehatan, satu KEK digital, dua KEK teknologi, dan satu KEK jasa lainnya.
Dari sisi persebaran, tujuh KEK berada di Pulau Jawa. Sementara 18 lainnya berada di luar Jawa.
Menurut Airlangga, investasi kumulatif di seluruh KEK senilai Rp 382,1 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 302.000 orang. Jumlah badan usaha yang berada di kawasan tersebut mencapai 509 badan usaha.
Adapun, sepanjang Januari hingga September 2026, investasi yang terealisasi di KEK mencapai Rp 46 triliun dan menambah sekitar 53.000 tenaga kerja. Airlangga mengungkapkan, pemerintah juga tengah memproses pengajuan ekspansi sejumlah KEK.
“Beberapa KEK sedang mengajukan untuk ekspansi baru. Itu yang sedang dalam proses. Dan kita juga sedang mengevaluasi beberapa KEK yang kelihatannya masih agak lambat,” katanya.
Dia menilai pengembangan KEK dapat mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan efisiensi investasi. Saat ini, incremental capital output ratio (ICOR) atau rasio tambahan modal terhadap tambahan output di KEK rata-rata berada di bawah 4, sedangkan ICOR nasional berada di kisaran 6.
Airlangga menyebut, semakin rendah ICOR, semakin efisien investasi dalam menghasilkan tambahan output ekonomi. Dia juga meyakini pertumbuhan ekonomi 8% dapat dicapai apabila efisiensi investasi meningkat dan ICOR dapat ditekan ke level 4.
“Kalau kita melakukan investasi dengan ICOR 4, pertumbuhan 8 persen itu bisa kita capai,” katanya.
Selain sektor industri, pemerintah juga mendorong pengembangan KEK di bidang kesehatan, pariwisata, serta digital dan teknologi. Di sektor kesehatan, pemerintah ingin memanfaatkan KEK Sanur dan Batam untuk mengurangi pengeluaran masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri. Sementara itu, KEK pariwisata diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa.
Pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan digital dan teknologi di Nongsa, Batam, termasuk investasi pusat data dan industri kreatif. Melalui perluasan dan penguatan KEK, pemerintah berharap dapat meningkatkan investasi, lapangan kerja, dan kontribusi kawasan terhadap perekonomian nasional.




